Boyongan ke Doha


Keputusan besar sudah dilakukan, maka sekarang adalah bagaimana menjalankannya dan proses menjalankannya. Mungkin kedengarannya mudah, karena sebagai seorang yang masih single, rasanya tak banyak yang perlu dipikirkan, tinggal angkat koper lalu pergi… begitu menurut banyak orang.

Menyiapkan Kopor
Kenyataannya sama sekali berbeda. Apa saja yang harus di bawa, dan berapa banyak koper yang harus dibawa? Harus di ingat bahwa ini bukan perjalanan bisnis yang memakan waktu satu atau dua hari, juga bukan tugas luar kota yang memakan waktu 1 atau dua minggu, tapi ini pindahan ke luar negeri yang memakan waktu paling tidak satu tahun sebelum kembali ke tanah air. Jadi pertanyaannya adalah apa saja yang harus di bawa?

Pakaian kantor sudah pasti harus dibawa, pertanyaannya adalah pekerjaan saya seperti apa disana? ini tentunya menentukan jenis pakaian kantor yang saya bawa. Lalu apa lagi? Pakaian untuk waktu senggang yang lain, seperti jalan-jalan di Mall dengan teman-teman, atau saat nongkrong. Belum lagi baju rumah, apabila di rumah tak mengerjakan apa-apa. Sepatu yang harus dibawa apa saja…. yang jelas saya harus bawa sendal jepit, karena saya berani jamin akan susah di cari tuh sendal jepit merk Swallow yang ada di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan stationary?… ah yang ini pasti disediakan oleh kantor tempat saya bekerja… tapi saya memutuskan untuk tetap membawa alat tulis pribadi, karena ini “senjata” saya bekerja. Saya punya alat tulis khusus yang biasa saya gunakan dan mungkin saja tidak ada di ujung sebelah sana. Hal paling penting yang harus dibawa adalah mungkin Kamus Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris. Maklum sebagai orang yang bahasa Inggrisnya cuma belajar di sekolah, masih banyak perbendaharaan kata bahasa Inggris yang saya tidak tau…. Orang inggris saja masih sering buka kamus untuk meyakinkan mereka sendiri (kamus Inggris-Inggris tentunya). Dan saya yakin di Qatar nanti tak ada kamus Indonesia-Inggris atau sebaliknya.

Dari pengalaman saya waktu saya boyongan ke Singapore, dan waktu saya kursus di Stockholm, adalah bagaimana menghabiskan waktu luang diluar jam kantor. Artinya saya harus punya hobby sebelum saya menemukan teman untuk kehidupan sosial saya di luar kantor. Jadi repotlah saya membeli “mainan” dimana saya bisa menyibukkan diri diwaktu luang saya. Beruntung saya menyukai gadget dan fotografi…. Jadilah saya membeli barang-barang ini sebelum saya berangkat…. lengkap dengan supporting softwarenya harus semua sudah di install dalam laptop baru saya.

Apalagi yang harus dilakukan ya….?
Yang ini yang berat: Membereskan Rumah
Karena saya sudah tinggal sendiri, tidak lagi bersama orang tua, artinya saya harus menutup rumah saya. Ini tambahan pemasukan sebenarnya, karena saya bisa mengontrakkannya….

Beruntung properti yang saya miliki adalah apartemen tipe studio lagi, artinya untuk mengosongkannya tidak menjadi begitu masalah seperti mengosongkan rumah…. Tapi tetap saja ini cukup sulit mengingat barang-barang yang saya miliki cukup banyak. Terutama buku-buku arsitektur yang saya kumpulkan pelan-pelan sejak saya kuliah. Barang-barang lain yang harus saya pak adalah pecah belah rumah tangga; walaupun saya baru tinggal 2 tahun di apartemen ini, tapi perabotan ini sudah saya beli sejak saya mulai bekerja lebih dari 15 tahun yang lalu. Ini semua harus saya masukan peti.

Wah rupanya untuk mengosongkan apartemen type studio yang besarnya cuma 45 meter persegi ini sama sekali tidak mudah dan makan waktu lebih dari dua minggu. Padahal temen-temen kantor masih ingin perpisahan di Apartemen hanya 4 hari sebelum saya berangkat…. artinya barang-barang untuk meng entertain mereka tak boleh di masukkan ke kardus dulu…. padahal barang-barang itu cukup banyak….

Kecuali furniture dan elektronik besar yang saya tinggal di apartemen, semua isinya saya boyong ke rumah orang tua dalam kardus-kardus, yang beratnya jangan tanya, karena isinya buku, pakaian dan segala tetek bengek barang-barang rumah tangga. Mungkin lebih dari selusin kardus gudang garam sendiri, padahal sudah banyak juga barang-barang yang saya buang dan saya jual, seperti komputer dan compo…. Untung saya tak punya mobil, jadi saya tak pusing mengurusi yang ini….

Akhirnya saya membawa sebuah kopor besar, sebuah ransel besar, tas komputer dengan isinya, dan handbag untuk kekantor. Kopor dan backpack masuk bagasi, komputer dan tas tangan di bawa di cabin.

Di airport saya harus melakukan pengurangan barang dan re-packing karena kelebihan berat sampai lebih dari 10 kilo, atau dengan kata lain bagasi saya hampir mencapai 40 kilo, padahal limit maksimum yang di toleransi adalah 28 kilo. Wah, saya harus repacking lagi sampai total bagasi saya cuma boleh sekitar 32 kilo, sehingga bayar denda kelebihan berat tidak begitu banyak.

About these ads

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s