Archive for March 2006
Sunrise at Ankhor Wat

This is my first experience photographying sunrise ever, and I wasn’t sure weather this is the right setting or not.
Sisterhood of Traveling Pants
I think this is a rather crazy journey for a couple of 40 something years old girls. But we plan to do it, just for the sport. I knew this will be exhausting trip, especially for my Sis who has a bit of high blood sugar problem.
This is the plan:
- I will fly in to Singapore to do a couple of things:
- Buy a plug-in key board for my PDA, so that I can write notes of this trip; at least that’s the idea.
- Collect my train ticket from Singapore to KL, which I’ve asked my ex-colleague who’s now working in Singapore. The idea is I will take an overnight train to KL.
- Meet up with old friends, which turn out that somebody is offering me a job….
- Overnight train to KL to our meeting point with my sister in KL Sentral.
- Stay overnight in a hostel in Bukit Bintang area.
- Get into the first flight to fly us to Seam Reap and stay in another backpacker’s hostel for 2 nights
- Get a local bus to Phnom Pen and stay overnight in another hostel
- Fly to Bangkok and stay for 3 nights there… in a backpacker hostel as well.
Total with the flight from and back to Doha, I will spend 10 exiting and exhausting nights. Why is it exiting? Because we are busy doing things exploring new places and experiencing new things. However, it could be tiring too, especially for me, as normally I don’t sleep during overnight flight, in order to cope with the jetlags as there will be 4 to 5 hours difference between Doha – KL and Bangkok-Bangkok, not to mention I need to stay alert all the time for this travel… as you do on any travels.
This is the map of our traveling:
Total I travel will be: 6300 km of flying intercontinental, with 4 to 5 time zone difference.
Means of transport will be airplane, train and bus. Actually I fancy riding motorbike as well, but it seems we need longer time and arrangement to do that; however, we manage to ride bicycle in Phnom Penh instead.
Apartemen Baru
Pertama kali saya tiba di Doha, adalah bulan pertengahan Agustus 2005. Ini adalah bulan paling panas di Arabia ini, dan percaya atau tidak suhu udara rata-rata adalah 50 derajal C, kelembaban juga lebih kering dibandingkan dengan di Jakarta, disampang itu sinar matahari juga sangat terang. Sudah bagus sekarang karena dengan teknologi seperti sekarang, semua bisa di lindungi dibawah atap dan ber AC.Mendekati musim dingin, suhu di luar bergerak menjadi semakin dingin.
Setelah tinggal di hotel selama seminggu (dari rencana selama satu bulan), perusahaan tempat saya bekerja lalu memindahkan saya untuk tinggal di perumahan sementara mereka, yang mereka berikan pada saya selama satu bulan, gratis, bebas dari biaya sewa. Apartemen ini terdiri dari 2 kamar tidur. Percaya atau tidak, disinilah saya mengalami “cultural shock.” Saya pikir untuk tinggal dan beradaptasi dengan lifestyle nya orang arab bisa bikin saya idiot.
Terus terang saya tak tau apakah saya harus komplen atau harus terima saja dengan apartemen baru ini, yang menurut saya lebih bisa digambarkan sebagai gua daripada sebuah apartemen. Bayangkan saja ruang/ruang keluarga, dan ruang makannya (atau yang biasa disebut
sala
) tidak memiliki jendela ataupun ventilasi untuk sirkulasi udara…. Ini betul-betul depressing, siang dan malam saya harus hidup dengan lampu. Yang lebih parah lagi adalah kalau kita tidak tau harus berbuat apa diluar rumah (karena terlalu panas dan belum punya teman) dan tinggal di apartemen adalah bukan solusi…
Kenapa kondisi apartemen saya seperti itu? Ini karena desain bangunan apartemen yang salah – maklum sebagai arsitek saya jadi kritis terhadap hal-hal seperti ini – Bangunan apartemen adalah terdiri dari koridor dan kamar-kamar menuju ke unit masing-masing, yang untuk bangunan saya terdiri dari 4 unit berderet-deret. Apabila unit apartemen adalah unit ujung, maka ada jendela sedikit di ruang tamu dan ruang makan, tapi kalau unit antara, maka jendela cuma ada di ruang tidur…. sisanya gelap lah….
Saya cerita uneg-uneg ini kepada teman sekantor yang sudah punya pengalaman tinggal di Arabia sini tapi mereka bukan orang Arab… dan jawabannya: “…… you have to adapt with the way people live here… do not expect to much, as way of living is also different…”. Sialan! Tapi mungkin saya harus terima aja kondisi seperti ini… dan terima pepatah inggris: “if you can’t beat them, join them…” artinya kalo ga bisa mengalahkan mereka, gabung aja dengan mereka….
Untungnya setelah lebih dari sebulan komplain melulu, bulan November saya dipindahkan ke apartemen yang lain. Desainnya masih tetap sama tapi ini “Penthouse” dan unit pojok. Artinya saya punya balkon dan bukaan di ruang keluarga saya… viewnya juga spektakuler, menghadap ke Corniche….
the best view you could ever asked
. Meskipun tetap masih tak ada ventilasi yang mencukupi untuk dapur dan kamar mandi….
Karena pindahan berlangsung bulan November, yang artinya adalah bulan-bulan musim dingin, penggunaan AC minimal, saya tidak banyak komplain dan rasanya ini adalah mewah….Tapi kemudian beberapa orang mengatakan bahwa tidak begitu ideal untuk tinggal di Penthouse…. “tunggu aja musim panas….”. Musim dingin memang antara 13C sampai 23C, tapi musim panas nanti? antara 40C sampai 50C, dan ini berlangsung selama minimal 4 bulan. Wah…
Percaya atau tidak 5 bulan kemudian, musim panas datang, semua menjadi sangat panas. Terlalu banyak bukaan/jendela menyebabkan panas, AC tidak cukup kuat untuk mendinginkan ruangan yang besarnya 7×4 meter, penthouse, lantai 11 adalah berita buruk, karena atap bangunan langsung ter expose dengan terik matahari. Tengki air yang terletak di atap beton langsung ter expose dengan matahari, airnya menjadi panas…. ga bisa dipake untuk mandi….
Mungkin inilah sebabnya Arab itu menyukai ketertutupan dan kerahasiaan, tak banyak jendela, ada ornamen (latice) didepan jendela, dan gordejn tuk jendela jarang dibuka… mereka rupanya ingin sembunyi dari cuaca yang ganas ini…
WTA Turnamen di Doha
Seperti sudah saya ceritakan di blog saya yang lain, bagian yang paling menyenangkan dari hidup di Doha adalah kemungkinan-kemungkinan kita menonton event-event international yang selalu mampir di Doha. Bulan Januari yang lalu Turnamen ATP yang pertama tahun 2006 ini dimulai di Doha. Bulan Maret ini Turnamen WTA resmi digelar di Doha.
Yang datang di sini kali ini kebanyakan pemain Eropa, maklum Qatar lebih dekat dengan Eropa di bandingkan dengan Amerika. Seperti biasa, pemain yang datang tidak tanggung-tanggung, Martina Hingis yang berusaha comeback dan Amelia Mouresmo, dari Perancis juga datang kesini, dia akan jadi pemain No. 1 di dunia apabila dia memenangkan turnamen ini….
Yang penting adalah pemain favorit saya juga datang, Daniella Hantuchova. Untuk pertama kalinya saya melihat mereka dari dekat dan benar-benar main tennis bukan eksibisi seperti kalau saya menonton tennis di Jakarta.
Seperti biasa, saya tak bisa diam saja dan menonton, saya juga harus tetap kasih komentar…. apalagi pertandingan seperti ini di adakan di tempat “aneh” seperti di Doha. Ditempat dimana menunjukkan aurat sebagai perempuan adalah big no no. Sementara pakaian resmi pemain tennis profesional perempuan adalah seperti pameran aurat… pangkal lengan dan paha keliatan bahkan memperlihatkan perut pun taboo (padahal tradisional “belly dancer” asalnya dari tanah arabia ini).
Di luar dugaan, mereka tetap pakai seragam resmi tennis, bukan arbaya… dan percaya apa tidak… penonton tradisionalnya lebih banyak dari pada mereka yang benar-benar mengerti dan tennis fan. Apalagi seperti biasa turnamen tennis ini gratis!

















