Archive for January 18th, 2008
Kesalahan Teknis
Pada blog saya terdahulu, saya bercerita tentang penyambutan gaya Middle East yang jauh berbeda dengan gaya Singapore atau gaya Indonesia. Ini semua kan kalau berjalan dengan lancar. Lalu bagaimana apa bila terjadi kesalahan teknis, dan penjemputan tidak terjadi…. apa yang harus kita lakukan dalam situasi seperti ini? Berikut ini saran saya kalau terjadi kesalahan teknis:
-
Tukarkan uang yang sekitar $200 sampai $300.- itu di airpor dengan uang lokal, yaitu Qatar Riyal. Dan ini dihargai sekitar QAR 360,- untuk setiap $100.
-
Uang ini lebih dari cukup untuk membayar taksi dari airport ke tempat tujuan (ada surcharge untuk airport taksi keluar dari airport sebesar QAR 20.- dan lalu meter taksi berputar setiap 100 m seperti layaknya di Jakarta.
-
Tindakan pertama tentunya adalah menelpon ke “contact person” yang menghubungi kita melalui email. Apabila sampai dia tidak mencantumkan nomor teleponnya yang bisa dihubungi, maka kita harus menanyakan nomor teleponnya sebelum berangkat meninggalkan Jakarta. Pastikan bahwa kita mendapatkan nomor kantor dan nomor telpon sel nya. (untuk nomor mobile, dimulai dengan angka 5 atau 6 dan untuk nomor PSTN dimulai dengan angka 4)
-
Tindakan ke dua tentunya adalah booking hotel dari airport. Di doha airport, sesudah baggage check dan keluar, ada deretan counter hotel-hotel bintang 5 yang menerima bookingan dari mereka yang baru tiba di Doha. sekedar untuk informasi saja, uang $300 hanya cukup untuk menginap di hotel bintang 4 selama semalam saja. Jadi pastikan bahwa kita berhasil menghubungi kantor dalam waktu kurang dari semalam. sehingga tidak perlu booking hotel sama sekali. Alternatif lain tentunya adalah membooking hotel tersebut dengan credit card yang dibawa dari Jakarta.
Tapi sebenarnya kita tak usah terlalu ketakutan dengan “kesalahan teknis” seperti ini, karena rasanya apabila pegawai baru datang, semua system siap dengan penerimaan ini semua. Termasuk diantaranya adalah alokasi komputer untuk bekerja. Artinya masalah penjemputan dari airport adalah hal umum dan rutin.
Setibanya di Doha
Pada posting saya yang lain, saya cerita tentang Persiapan Sebelum Berangkat, yaitu tentang apa saja yang harus dipersiapkan sebelum berangkat meninggalkan Indonesia untuk menetap dan bekerja di manapun itu minimal selama satu tahun. Persiapan mental, fisik dan material ini perlu, karena kita kan pindah ketempat lain untuk waktu yang cukup lama; tak cuma sebulan dua bulan, tapi minimal lebih dari 6 bulan.
Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang di harapkan penerimaan di ujung sebelah sana. Untuk mereka yang baru pertama kali ke luar negeri sendirian, pasti ada rasa kuatir… seperti apakah di negara ‘antah berantah’ itu? Apa yang harus saya lakukan pertama kali pada saat saya mendarat nanti? Harus kemana ? ada Custom Check yang harus di lakukan dll. Apalagi kita akan bekerja di negara tsb. bukan kunjungan wisata.
Seorang teman yang akan datang dan bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja sangat anxious menanti keberangkatannya. Saya bisa mengerti sepenuhnya tentang ini; separuhnya dia pasti agak kuatir meninggalkan keluarga dan ketakutan kalau ada rasa kangen dan lain-lain, yang membuatnya ingin menunda keberangkatannya. Separuhnya lagi, ada ke kuatiran lain tentang penerimaannya di ”seberang sana”. Dalam tulisan saya terdahulu tentang Arab Hospitality sebenarnya sudah menjelaskan semua tentang pengalaman ”mobilisasi” saya dari Jakarta ke Doha. Tapi tentunya itu lebih dari 2 tahun yang lalu, yang mana sekarang mungkin sudah banyak berubah. Berikut ini adalah prosedur baru untuk pegawai baru:
-
Beberapa hari sebelum berangkat, perusahaan meng email visa kerja yang harus di tunjukkan pada perusahaan penerbangan pada saat check in di Jakarta – hanya sekedar proforma sajam, karena ini kewajiban carrier tersebut untuk menghindari kemungkinan mereka harus menerbangkan pulang penumpangnya yang tidak punya visa untuk negara tujuan
-
Termasuk dalam email tersebut juga adalah e-ticket pesawat kita, yang harus di tunjukan pada saat check in pada carrier kita… inilah yang menerbangkan kita dari Jakarta ke tempat tujuan…. Ini jaman sekarang, tahun 2008 tahun 2005 saya harus menunjukkan nomor booking saya di agen penerbangan di Jakarta, untuk mendapatkan tiket ini…. sekarang kita tak harus datang ke mana-mana, tinggal di print saja dari komputer di rumah….
-
Setibanya di Doha, ada agen penjemputan lain yang bernama Al-Maha, yang mengurus semua dokumentasi dll untuk melalui costum clearance supaya kita tak perlu repot2 lagi antre dipetugas imigrasi, dan menunggu bagasi kita keluar dari pesawat di “carousel”. Al Maha akan mengantarkan tamunya menunggu di VIP Lounge sampai semua urusan beres… dan keluar dari airport.
-
Diluar airport tentu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana pengangkutan dari airport ke akomodasi kita… Tak perlu khawatir, supir perusahaan sudah menunggu dengan membawa nama perusahaan… jadi pegawai baru ini tinggal meng identifikasikan dirinya pada supir tersebut.
-
Berbeda dengan pengalaman saya terdahulu, pada saat itu perusahaan belum punya tempat penampungan khusus untuk pegawainya yang baru datang, kali ini perusahaan sudah mempunyai akomodasi khusus untuk pegawainya yang berlokasi dimana-mana di Doha. Jadi pengalaman di jemput oleh limusin hotel tidak ada lagi… supir kantor akan langsung mengantarkan ke apartemen kantor.
-
Di akomodasi ini kita bisa beristirahat sebentar sebelum memulai ‘hidup baru’ di Doha dengan segala aktivitas rutinnya. Supir ini juga akan mengatakan kapan kita harus siap untuk di jemput untuk ke kantor ke esokan harinya atau sore itu juga…
Saya pikir pelayanan ini cukup mengamankan kita dari segala ke bingungan dan ke kuatiran di luar Indonesia, yang membuat kita kadang-kadang kurang percaya diri karena masalah bahasa, perilaku yang berbeda dari orang-orang yang bukan orang Indonesia sama sekali.














