Skip to content

Archive for February 2008

Lapangan Pekerjaan di Arabia

Dari banyak blog yang saya baca tentang kesempatan bekerja di luar negeri, saya memperoleh gambaran kasar, seolah-olah kesempatan kerja hanya di bidang oil & gas saja… apalagi kalau kita bicara tentang kesempatan bekerja di Tanah Arab. Menurut pengalaman saya itu sama sekali tidak benar….

Memang negara-negara arabia itu adalah negara minyak, dan sektor industri utama mereka adalah oil & gas. Tapi untuk menjalankan negaranya, mereka membutuhkan segala macam jenis industri, dari mulai oil & gas (tentunya) sampai dengan sales person. Dengan kata lain, lapangan pekerjaan yang ada di Arabia ini ada segala macam… dari yang biasa kita dengar, yaitu pembantu dan buruh kasar, juru rawat (di rumah sakit), sampai para profesional yang bekerja di industri yang saya sebutkan diatas. Lalu apa lapangan pekerjaan yang lain? Yang jelas mereka juga membutuhkan professional untuk bekerja di sektor industri konstruksi untuk membangun negaranya, bukan cuma kuli bangunan, tapi juga para sarjana teknis sipil, arsitek, dan segala macam insinyur yang tersangkut. Mereka juga membutuhkan orang-orang yang mengoperasikan bangunan-bangunan itu pada saat bangunan tersebut sudah jadi, seperti building manajemen, real estate agent, dll. Industri lain pun juga dibutuhkan seperti perhotelan, komersial dll. Jadi general skilled person seperti sales person, sekretaris, akuntan, lawyer, IT, administrational work, dll. adalah kebutuhan dasar yang dibutuhkan disegala sektor industri. Kuncinya tentu adalah bahasa Inggris.

Orang Philipina, India, dan negara Subcontinent Asia lainnya serta dari negara-negara arab sekitar sangat menguasai lapangan pekerjaan ini. Indonesia yang memiliki jumlah pengangguran sangat banyak; selayaknya dapat mengisi kekosongan ini…. tak hanya jadi supplier pembantu terbesar saja.

Pertanyaannya kemudian adalah berapa standard gaji yang harus di mintakan untuk tiap-tiap industri?

Masalah TKI

Saya baru saja kembali dari tanah air, seperti biasa, masalah klise yang teramati dalam perjalanan jalur Middle East – Jakarta via Singapore (terserah naik penerbangan apapun….) adalah perjalanan dengan pembantu asal Indonesia, baik dari Mid East atau dari Jakarta….

Ada banyak perasaan campur aduk mengamati mereka itu: jengkel, kesal, malu dan kasihan semua campur aduk….

Jengkel, karekan kelakuan mereka yang senangnya bergerombol dan punya kecenderungan ribut dan sulit diberi tahu…, Jengkel dan kesal karena masalah klasikm, yaitu tidak mendengarkan dan tanggap terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, hanya karena kesibukan mereka satu sama lain yang menjadikan mereka sendiri tidak taat aturan setempat yang berkalu. Malu karena mereka keributan yang ditimbulkan oleh mereka, layaknya mereka itu tak beradab… belum lagi. Kasihan, karena mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi pada diri mereka setibanya di tanah air…

Bayangkan, perjalanan jauh mereka yang di lampaui entah berapa hari di perjalanan, sebelum tiba di Jakarta… untuk kemudian di peras oleh petugas imigrasi di Bandara…. belum lagi harus menunggu berjam-jam di terminal khusus kedatangan untuk pada TKI yang pulang pertama kali sesudah lebih dari satu tahun meninggalkan keluarganya…. Jangan lupa, perjalanan mereka tidak berakhir di Jakarta, tetapi masih berlanjut dengan penerbangan lokal ke Jawa Tengah/Timur, Lampung dll.

Cerita diatas adalah cerita para TKW yang pulang ke tanah air. Cerita keberangkatan TKI lain lagi…. Foto dibawah ini adalah bagaimana mereka antre untuk check-in dengan pesawat yang digunakannya…. Budaya yang harus antre bergiliran rupanya belum benar-benar dimengerti oleh mereka… akibatnya untuk antri saya masih harus di beritahu oleh “chaperon” mereka ikut di jalur antrean yang mana…

TKW-antre

Gambar di atas menunjukkan bagai mana mereka antre untuk check-in…. pertanyaannya, beginikan posisi antre? dengan ber-jongkok? masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di benak saya, dan saya tak habis pikir…. Padahal ini baru langkah pertama sebelum benar-benar ada di Luar Indonesia….

Di dalam pesawat ceritanya lain lagi. Memang mereka kecenderungannya jinak… tak berani berbuat macam-macam…. atau begitulah kira-kira pada saat mereka duduk di dalam pesawat…. Cerita jadi lain pada saat mereka mulai menggunakan kamar kecil…. belum lagi apabila mereka mengalami mabuk udara…. (muntah saja di lantai pesawat, padahal di sediakan kantung untuk menanggulangi ke “jorokan” itu)

Rasanya harus ada yang mengajarkan mereka bertata krama di “dunia internasional”. Dari mulai Check-in di Bandara Internasional Indonesia, sampai dengan tiba “di ujung sana”: didalam pesawat terbang, transit di bandara negara asing, dll.

Seperti inikan budaya orang Indonesia yang “sangat berbeda” dengan peradaban dunia yang luar? Atau beginikah sistem pendidikan Indonesia… jauh tertinggal dengan peradaban dunia yang lain? atau kita memang tidak perlu mengenal peradaban dunia yang lain… tetap saja berlaku “tradisional,” karena untuk menyatukan banyak tradisi lokal saja sudah pusing apa lagi mengenalkan tata krama asing…. dan membiarkan orang Indonesia  jago kandang…

Menurut pendapat saya, meskipun mereka itu “cuma jadi pembantu” dinegeri orang… mereka tetap melakukan perjalanan internasional, baik dari kampung mereka ke negeri seberang atau dalam rangka tugas mereka di negeri seberang, karena majikan mereka mungkin saja membawa mereka dalam perjalanan luarnegeri mereka…. Dan apabila mereka bertata krama dan berperilaku yang “standard internasional” maka kemungkinan mereka di “abuse” oleh majikannya pun menjadi berkurang….

Kelemahan Tenaga Kerja Indonesia

Salah satu cara mengatasi pengangguran di Indonesia yang mencapai lebih dari 15% itu adalah dengan mengirimkan tenaga kerjanya ke Luar Negeri, menjadi TKI dan TKW adalah salah satu caranya…. Mau tidak mau, mereka sebenarnya adalah pahlawan Indonesia di Luar Negeri.  Sayangnya pada saat mereka pulang ke Indonesia, perlakuan terhadap mereka adalah sangat tidak adil….

Diluar itu semua kalau kita mau melihat mereka dari sisi yang lain, sebenarnya nasib mereka adalah buah simalakama… pulang ke Indonesia di siksa, dan hidup mereka di rantaupun menjadi “siksaan” untuk mereka dan orang-orang yang terlibat…. Pertanyaannya adalah mengapa bisa begitu? Ada banyak faktor:

  1. Kurangnya persiapan dari Indonesia untuk “pengenalan-pertama” mereka di luar negeri sering kali membuat mereka pun menjadi frustrasi dan akibatnya mereka melakukan kesalahan dan menyulitkan banyak orang, dari mulai agennya, orang disekitarnya, sampai mereka sendiri.
  2. Cultural Shock, mereka yang bekerja sebagai TKI dan TKW adalah mereka yang datang dari kampung dan tidak pernah ter expose oleh budaya lain… dan sekali keluar dari tempurung, langsung berbeda sama sekali… tak pelak lagi mereka tidak cuma bingung, tapi juga shock; dari mulai kebiasaan sehari-hari, adat istiadat sampai masalah yang lain-lain
  3. Masalah Pendidikan. Definisi TKI/TKW ini bisa banyak artinya, tapi pada umumnya adalah tenaga kerja kasar, umumnya mereka cuma menjadi buruh, baik itu kuli bangunan, perkebunan ataupun pembantu…. lebih baik dari ini adalah mereka yang mengalami sekolahan sedikit. Tapi yang paling menyedihkan nasibnya tentunya adalah yang kurang pendidikan, mereka maksimum cuma sampai SMP saja, tapi cukup berani untuk bekerja di Luar Negeri.
  4. Masalah Bahasa. Harus di akui bahwa pengertian terhadap bahasa asing, terutama bahasa Inggris adalah sangat penting…. yang menjadi aneh untuk saya adalah bagaimana bisa Indonesia mengirimkan TKI/TKWnya tanpa pengertian terhadap bahasa Inggris. Memang pada saat sampai di tujuan (di arab misalnya) lulusan madrasah itu mungkin “bisa” survive dengan majikannya, karena majikannya orang Arab, tapi bagaimana selama perjalanan menuju Arab sana? Bagaimana interaksi mereka di luar rumah majikannya?

Kelihatannya masalah tersebut tak banyak, tapi itu semua masalah besar yang kalau di rinci secara detail dapat membuahkan bahan tertawaan, memalukan dan bahkan cerita sedih.

Akibat terbesar dari kelemahan tersebut diatas, disamping membuahkan cerita sedih tentunya juga berpengaruh kepada harga jual buruh indonesia, di mata international tenaga kerja indonesia termasuk tenaga kerja paling murah di dunia….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 235 other followers

%d bloggers like this: