Archive for September 2008
Visa Kerja
Apa yang harus dilakukan sesudah tanda tangan draft kontrak yang mengatakan bahwa kita setuju untuk pindah pekerjaan? Tentunya kita tak perlu melakukan apa-apa, hanya tinggal tunggu waktu saja sesuai dengan perjanjian untuk melapor di kantor baru pada tanggal yang disepakati.
Kalau bekerja di Indonesia, tentunay tak banyak yang harus dilakukan; sambil menunggu waktu, kita tentunya harus mengajukan surat pengunduran diri pada perusaah tempat kita sedang bekerja. Kalau kita akan pindah ke luar negeri, tidak semudah itu, karena kita harus memasukkan data pribadi dan dokumen imigrasi untuk di proses oleh negara tujuan. Data pribadi tersebut termasuk:
- Fotokopi ijasah (minimal, yang bisa di scan lalu di email saja cukup) atau untuk negara tertentu membutuhkan ijasah yang di legalisir yang asli… artinya kita harus mengirimkan dokumen tersebut melalui pos internasional (yang harganya tidak murah) disamping menjamin bahwa ijasah ini sampai di tempat tujuan….
- passfoto atau dalam bahasa inggrisnya adalah passport photo… biasanya ukurannya tertentu, ada yang 3 x 4 cm, ada yang 1 x 1 inci, atau ada juga yang 5 x 5 cm. Warna latar belakangnya pun berbeda-beda setiap negara tujuan.
- Fotocopy / scanned passpor tujuannya adalah untuk memperoleh visa kerja.
Sesudah semua hal diatas di kirim maka yang tak ada lagi yang harus dilakukan, kecuali menunggu. Berapa lama kita harus menunggu? Ini yang sulit di tebak.
Pengalaman saya yang terjadi sekarang ini mungkin patut di cermati… sialnya memiliki paspor Indonesia.
Bersama-sama dengan seorang teman dari kantor yang memiliki paspor Inggris, kami merencanakan untuk pindah bersama-sama ke Bahrain, masuk ke kantor yang sama pula. Kami mulai mengurus visa dan segala macam tetek bengeknya bersama-sama. Pihak kantor Bahrain pun menjanjikan bahwa dalam waktu kurang lebih dua minggu visa akan selesai dan kami bisa bersama-sama pindah ke Bahrain.
Dua minggu kemudian Visa teman saya yang berpaspor Inggris, selesai. Bagaimana dengan nasib visa saya yang harus di cap di paspor Indonesia? Sekarang sudah lebih dari satu bulan saya menunggu dan hasilnya tetap tak jelas. Petugas yang menguruskan visa mengatakan bahwa ada banyak antrian untuk visa dari negara-negera Asia.
Jengkel saya mendengarnya… rupanya diskriminasi dalam segala bentuk masih terus berlaku dimana-mana. Saya juga tak bisa berkomentar apa-apa ketika seorang teman saya yang berpaspor Inggris itu mengatakan: “My white skin gives me ticket to everywhere…” Sombong memang kedengarannya… tapi kasus diatas adalah contoh kecil kebenaran kata-katanya, kulit putih, paspor dari negara Eropa Barat… semuanya lebih mudah!!!
Doggie
Sebagai pecinta binatang, saya memiliki 5 ekor anjing yang lucu-lucu… Tapi itu semua saya tinggal di Jakarta, ibu dan adik-adik saya merawatnya sekarang.
Tinggal di Qatar, bukan berarti saya melupakan kecintaan saya pada binatang yang loyal ini. Sayangnya kemungkinan memelihara anjing jadi tidak mudah… ini karena gaya hidup saya yang berpindah-pindah, dan sering traveling, membuat komitmen untuk memelihara anjing menjadi sulit… Maklum anjing tidak seperti kucing, yang mampu mengurus dirinya sendiri. Anjing membutuhkan tuannya, dan sebagai imbalan, anjing ini akan sangat loyal pada tuannya.
Tahun yang lalu, di tempat saya kerja, ada yang membuang anjingnya. Karena tidak mungkin saya bawa pulang dan saya pelihara (seperti layaknya ketika saya tinggal di Jakarta), yang bisa saya lakukan adalah mengajaknya bermain dan memberi makan….

Saya menamakannya Luki
Anak anjing betina berusia kurang lebih 4 bulan yang terbuang ini sangat bagus, tidak seperti kebanyakan anjing liar di Jakarta, sayapun lalu melakukan research saya tentang anjing ini di wikipedia yang ternyata anjing ini termasuk jenis anjing Saluki yaitu anjing arab (arabian hound) dan sejenis dengan anjing grayhound.
Saya lalu memasang ikaln di supermarket terdekat dan juga di website QatarLiving, dengan tujuan mungkin orang-orang kulit putih yang banyak di Doha ini ada yang berminat, karena merekalah penyayang binatang.
Diluar dugaan beberapa hari kemudian seorang Engineer Turki berminat untuk membawanya pulang dan mengurusnya… Wah Ini benar-benar berita baik. Luki2, – begitu saya menamakan dia – lalu memiliki rumah, dimana dia bisa “pulang” dan majikannya yang mengurusnya. Luki2 ini juga lalu seperti kami-kami… yang setiap pagi pergi ”bekerja” dan setiap sore pulang…. Luki2 pun terawat dengan baik, memakai kerah dan mendapatkan faksinasi seperti layaknya anjing rumahan yang lain….
Sebulan kemudian saya menemukan anak anjing lain yang kira-kira lebih muda dari Luki2 yang saat itu sudah berusia sekitar 5 bulan dan hampir menjadi anjing dewasa. Luki3, demikian saya menamakannya. Rupanya kawasan konstruksi adalah tempat pembuangan anjing….

Siapa mau mengadopsi saya?
Beruntung Luki3 segera memperoleh rumah. Malam itu juga dia diambil oleh seorang Australia yang berminat mengurusnya.

Bermain dengan dua Saluki
Saluki
Dari research yang saya lakukan tentang anjing jenis Saluki ini mengatakan Saluki adalah jenis anjing pertama yang di jinakkan oleh manusia, bahkan malah Saluki sudah bersama Manusia selama peradaban manusia itu sendiri. Pertama kali dikenal bersama manusia sejak jaman kerajaan mesir, ia bahkan di mummykan bersama firaun Mesir. Dikalangan orang-orang arab dan beduin, jenis ini di anggap sakral, dan pemberian Allah. Dari semua binatang peliharaan yang mereka miliki, cuma Saluki ini yang boleh masuk ke dalam salla mereka. Sayangnya persepsi ini kemudian berubah, hanya kaum Beduin saja yang masih menganggapnya binatang terhormat.
Akhir Cerita
Cerita diatas kemudian berlanjut, setelah lebih dari satu tahun Luki2 datang dan pergi ke kantor setiap hari, Tuan Turki pun memutuskan untuk membawanya ke Australia. Sambil mengurus segala macam masalah dokumentasi imigrasi untuk membawa Luki2 keluar Qatar pindah ke Australia, Lukipun harus periksa kesehatannya, termasuk vaksinasi dan menghubungi Dokter Hewan di Australia.
Hanya sebulan sebelum vaksinasi terakhirnya dan sebulan sebelum keberangkatannya ke Australia, Luki2 ditemukan ditembak mati oleh penduduk setempat, dekat kawasan konstruksi dan padang pasir lokal….
Tulisan ini di buat untuk mengenang Luki2…. sedih rasanya bahwa orang tersebut tega membunuh anjing yang tak melakukan kesalahan apa-apa….
Dokumen Perjalanan
“Free and Easy” adalah gaya travelling yang saya sukai, melulu karena kebebasan yang saya peroleh, dari mulai menentukan negara tujuan sampai hal-hal kecil yang bisa dilakukan. Dari pengalaman saya selama ini, dan banyaknya pertanyaan yang saya terima, rasanya tidak ada salahnya apabila saya berbagi pengalaman tentang apa saya yang saya harus disiapkan untuk memulai suatu perjalanan.
MELAKUKAN RISET
Hal pertama yang saya lakukan sesudah mengetahui tujuan wisata adalah mencari tahu obyek wisata apa yang patut di kunjungi di tempat baru nanti. Tidak ada salahnya untuk mendengarkan cerita atau pengalaman mereka yang sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Tanyakan segala macam informasi yang di perlukan, seperti iklim setempat, dress codenya, kebutuhan akan visa, festival atau pesta rakyat yang mungkin menarik untuk di lihat. Lakukan riset ini juga melalui fasilitas internet, seperti Lonely Planet atau Trip Advisor atau masih banyak website yang lainnya.
ASURANSI
Mengasuransikan perjalanan kita mungkin bukan hal yang biasa untuk orang Indonesia, apalagi untuk cari asuransi yang berlaku internasional rasanya perusahaan asuransi Indonesia enggan melakukan hal itu. Tapi kita perlu melakukan hal itu, apalagi apabila kita akan mengunjungi negara-negara Eropa, hal ini adalah persyaratan mereka. Asuransi ini juga dibutuhkan apabila kita akan mengunjungi negara yang “aneh” atinya negara tersebut adalah negara “dunia ketiga” seperti Cambodia, atau Fiji misalnya yang mana ini lebih untuk kebaikan kita sendiri.
Apabila asurinasi ini sulit di beli di Indonesia, asuransi ini juga bisa di beli secara online, ada banyak traveling websit yang menjual asuransi dan bisa dibeli berdasarkan kebutuhan kita.
JAGA KESEHATAN
Tentunya kita tidak ingin jatuh sakit ditengah-tengah perjalanan kita. Karenanya tidak ada salahnya apabila kita mengujungi dokter umum yang biasa kita kunjungi, sekedar untuk memberikan vaksinasi yang diperlukan sehingga kita tidak mudah terserang penyakit setempat atau misalnya saja penyakit-penyakit yang sedang menjadi epidemi di tempat tujuan, sehingga kita tidak mudah tertular…. atau mungkin membawa obat ani malaria.
PASSPOR DAN VISA
Untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, dokumen minimal yang kita butuhkan adalah passpor dengan masa berlaku minimal 6 bulan sesudah tanggal rencana kepulangan anda. Sering kali kita diperulit untuk memperoleh passpor oleh petugas, tapi jangan kuatir. Semu orang berhak untuk memiliki passpor, seperti halnya memiliki Kartu Tanda Penduduk.
Pastikan juga bahwa negara tujuan kita memerlukan visa atau tidak. Sebagai warga negara Indonesia, hampir smua negara di dunia meminta visa, bahkan beberapa negara ASEAN pun membutuhkan visa… (baca visa untuk orang indonesia)
BUAT FOTO COPY
Buat fotocopu untuk semua berkas-berkas perjalanan (tiket, passpor, visa, asuransi perjalanan SIM/SIM internasional, dll) dan pastikan diletakkan ditempat yang berbeda dengan dokumen asli. Apabila anda melakukan perjalanan ini dengan teman anda, maka ada baiknya untuk bertukar foto copy dokumen. Ini semua unuk mengurangi kemungkinan hilang semua.
MATA UANG ASING
Hal terpenting yang harus kita ingat adalah bahwa mata uang rupiah tidak ada artinya di luar negeri, tiap negara memiliki mata uangnya masing-masing. Kecuali di Singapore, kita tidak bisa menukar mata uang rupiah di negara lain, karenanya ada baiknya untuk menukar mata uang rupiah dengan US Dollar sebelum berangkat keluar negeri. Kartu kredit juga sangat berguna dan berlaku hampir di seluruh penjuru dunia. Yang juga bisa dibawa mungkin adalah Traveller Cheque, walaupun yang belakangan ini sudah menjadi kalah populer dengan Kartu Kredit. Hal lain yang tidak boleh di lupakan adalah membawa ang yang cukup untuk keadaan darurat dan jangan lupa, jangan menyimpan uang anda dalam satu tempat.
TINGGALKAN PESAN
Ada baiknya sebelum kita pergi meninggalkan pesan kepada beberapa teman dekat atau keluarga, dan tinggalkan juga jadwal perjalanan, sehingga apabila terjadi sesuatu pada anda, mereka tidak akan terkejut apa bila mereka dihubungi untuk dimintakan bantuannya.
Gaya Traveling
Ada banyak cara untuk melakukan traveling, baik itu dalam negeri atau ke manca negara. Karena saya berada di rantau, maka kemungkinan melakukan perjalanan ke Manca Negara lebih sering ketimbang kunjungan wisata dalam negeri. Tapi bukan berarti saya tidak tertarik untuk melihat negeri sendiri; sesekali sayapun akan melakukan liburan dalam negeri.
Dari banyak perjalanan ke Manca Negara yang saya lakukan saya selaku melakukan “free and easy” trips… hampir atau malah saya belum pernah bergabung dengan rombongan besar, baik dalam negeri maupun luar negeri. Jadi terus terang saya tak punya pengalaman bepergian dengan rombongan besar dan semua di urus oleh agen perjalanan tersebut.
Sementara itu travelling sendiri ada berbagai jenis, apa itu “free and easy” atau beserta rombongan besar. Berikut ini ada beberapa cara traveling yang bisa masuk ke dalam dua jenis traveling di atas:
- Petualangan/adventure
- Bulan Madu
- Pantai
- Berkendaraan
- Festival dan event khusus
- Family travel
- City sight seeing
- Kulinari
- Eco tourism
- Treking/hiking
- Cultural Exploration
- Cruising
- Back packing dan masih banyak yang lainnya
Travelling dengan rombongan biasanya hanya terbatas dengan Family travel, City Tourism dan Cruising sisanya biasanya dilakukan secara “Free and Easy“, artinya semua dilakukan sendiri, bantuan dari agen perjalanan sangat terbatas.
Kelebihan untuk traveling bersama rombongan adalah:
- Tinggal memilih paket perjalanan yang diinginkan dan menyesuaikan dengan waktu yang ditetapkan oleh agen perjalanan tersebut
- Tidak pusing mengurus tetek bengek dokumen yang dibutuhkan, dari mulai mencari tiket hingga hotel tempat kita menginap sudah bagian dari paket yang di tawarkan oleh agen perjalanan tersebut
- Apabila kita sudah memiliki rombongan sendiri, agen perjalanan inipun akan menyediakan “custom made” paket yang sesuai dengan keinginan kita, lalu mereka menyiapkan semua urusan tetek bengek dokumen yang lain
- Ditempat tujuan pun mereka akan mengurusi kita, dari mulai masuk hotel sampai dengan tempat-tempat yang perlu dikunjungi, termasuk dimana kita harus makan siang/malam dll., semua sudah bagian dari paket tersebut.
- Ada rasa nyaman karena agen perjalanan itu memastikan semuanya berjalan sesuai dengan program yang sudah kita ketahui sebelumnya.
Tapi ada beberapa hal lain yang kita tidak bisa dapat dari traveling bersama rombongan besar dan merupakan kelebihan dari gaya “free and easy” ini:
- Fleksibel dengan waktu yang kita inginkan… tanpa terikat oleh jadwal tertentu, karena menunggu rombongan yang sesuai sering kali bisa mempengaruhi jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya. Atau misalnya detik terakhir kita ingin menunda keberangkatan atau alasan lainnya
- Memang sering kali kita pusing dengan masalah kelengkapan dokumen dan mengurusnya semua sendiri, tapi dengan mengurus sendiri semua, jadi ada fleksibilitas untuk memilih jenis penerbangan yang akan kita naiki, sampai dengan hotel tempat menginap. Dan rasanya tidak ada salahnya kita mengurus semuanya sendiri sehingga kita mengerti bagaimana cara agen perjalanan tersebut bekerja.
- Sebenarnya ada cara lain lagi yang bisa dilakukan, yaitu memakai bantuan agen untuk semua hal tersebut tetapi setibanya di tempat tujuan, kita melakukan semuanya sendiri, mungkin inilah yang lebih menjadi pilihan saya….
- Salah satu keuntungan utama dari sistem “Free and Easy” yang tidak bisa di tiru oleh paket perjalanan dari agen adalah kita bisa memilih sendiri akan obyek wisata yang mana di tujuan dan juga makan di restoran yang sesuai dengan keinginan kita, termasuk juga kapan kita merasa lelah dan beristirahat minum kopi misalnya…. tak ada ikatan waktu sama sekali
- walaupun paket wisata dengan rombongan memberikan waktu bebas pada kita, tapi biasanya hal ini tidak cukup waktu. Free and Easy travel memberikan kita fleksibilitas tinggi, termasuk misalnya kita tidak mau kemana-mana, cuma tinggal di hotel saja pun bisa dilakukan…
- Pengalaman bercakap-cakap dengan orang lokal dan melihat orang lain, touris lain, lebih bisa dirasakan dengan “Free and Easy seperti ini dari pada sebagai bagian dari rombongan turis, karena sering kali penduduk lokal tidak begitu menyukai turis yang ribut dan arogan….
seasoned traveller
The traveler sees what he sees the tourist sees what he has come to see – Gilbert K. Chesterton
Ada banyak cara untuk melakukan Traveling, atau bahasa indonesian adalah jalan-jalan, ada yang berupa kunjungan wisata, dan ada juga yang berupa setengah migrasi setengah wisata…. yaitu ber”wisata”dengan jangka panjang. Hal yang terakhir ini lah yang saya lakukan sekarang.
-
Paling tradisional dari Jalan-jalan adalah ber-wisata ke suatu tempat, untuk jangka waktu yang singkat saja, beberapa hari saja. Aktifitas utama tentunya mengunjungi tempat-tempat yang khusus disediakan untuk para wisatawan asing. Aktivitas lain yang adilakukan adalah berbelanja. Dengan cara berwisata seperti ini, kita hanya mengunjungi ruang tamunya saja, tanpa tau seluk beluk tradisi dan budaya local terlalu dalam. Kita pun tidak terlibat pada kebiasaan sehari-hari atau pun harus beradaptasi dengan kebiasaan local. Disini kita Cuma sebagai tamu saja.
- jalan-jalan sambil berbisnis – biasanya ini juga hanya dalam waktu singkat saja. Apa yang didapat dari “perjalan bisnis”seperti ini adalah melulu kepentingan bisnis, tanpa ada waktu untuk benar-benar berwisata menikmati jamuan local. Malah mungkin saja kita Cuma tau hotel dan tempat berlangsungnya transaksi bisnis.
- Jalan-jalan sambil belajar. Contohnya adalah kalau kita berdomisili di Jakarta dan kuliah di Bandung misalnya. Dengan cara ini kita mengenal kota lain, selain kota Jakarta. Dan karena lamanya tinggal di Bandung, mau tidak mau kita berinteraksi dengan penduduk setempat dan berbicara serta mungkin beradaptasi dengan kebiasaan local orang bandung. Contoh sederhana adalah kemampuan berbahasa sunda setelah beberapa tahun jadi mahasiswa di Bandung misalnya.
- jalan-jalan sambil bekerja, yang terakhir ini seperti jalan-jalan sambil belajar, hanya saja tekanan dan interaksi dengan kebiasaan local berbeda. Dalam bahasa inggris yang terakhir ini namanya bukan Tourist, tapi Expatriate. Kita bekerja di tempat ini sambil melakukan wisata setempat, dalam waktu yang panjang. Interaski kita dengan kebiasaan local lebih dalam, dibutuhkan adaptasi yang lebih banyak dari pada sekedar berwisata seperti point 1
Sikap kita pun untuk melakukan traveling bisa berbeda-beda. Bisa cuma melulu menikmati tempat yang kita kunjungi dan menghabiskan uang kita disana, bisa juga dengan memper-hatikan, mengamati, atau malah tinggal dan menjalani kehidupan lokal dari tempat tersebut. berikut ini cerita saya dari catatan perjalanan yang saya lakukan selama ini.
Sekarang ini jalan-jalan saya adalah sebagai expatriate, saya menjalaninya secara berbeda dengan turisme biasa.
Ini adalah negara-negara yang pernah saya kunjungi:
Cerita-cerita dan tip perjalanan saya di muat dalam Kategori
- Traveller’s Tale khusus pengalaman saya tentang traveling yang saya lakukan selama ini dan
- Traveller’s Tipuntuk pengalaman saya mengurus dokumen perjalanan dan segala hal yang berhubungan dengan persiapan sebelum traveling
Ini adalah peta tempat-tempat yang pernah saya kunjungi:
- Buat peta perjalanan anda travel map atau travel blog
- Untuk info tentang perjalanan pada TripAdvisor
Ada peta perjalanan saya yang lain yang dilengkapi dengan foto-foto dari iMap
































