Skip to content

Archive for October 19th, 2008

Kehidupan Malam di Bahrain

digger

digger

Banyak orang tidak mengenal Bahrain, negara kepulauan yang lokasinya terjepit diantara Saudi dan Qatar. Mereka yang tidak begitu kenal dengan Arabia dan Middle East, cuma kenal Bahrain adalah negara kecil yang tidak punya sumber daya apa-apa, dan muncul di peta dunia karena Circuit Formula 1 nya. Itu salah besar!!

Orang Inggris yang pernah menduduki Arabia sebelum dan selama perang dunia ke 2 mengenal Bahrain lebih lama dari pada mereka mengenal Dubai atau Abu Dhabi, apalagi Qatar, yang baru di catat sebagai negara sejak tahun 1971. Mereka yang biasa malang melintang bekerja di Timur Tengah selalu ingin singgah, ditempatkan dan tinggal di Bahrain. Alasannya sederhana, aktifitas kehidupan sosial mereka hebat, dan sangat mapan di Bahrain dibandingkan dengan negara tetangga yang lain, di samping kehidupan malamnya.

Apa yang istimewa dari kehidupan dari gaya hidup seperti ini? Percaya atau tidak saya baru saja mengalaminya malam ini… datang ke pub tua yang sudah ada sejak tahun 70an. Lokasinya di Delmon International Hotel. Kami – saya dan beberapa teman kantor yang senasib – mencari makan malam disana. Ini cuma “Irish Bar” yang percaya atau tidak cuma salah satu dari 4 bar yang dimiliki oleh hotel tua berbintang 2 setengah. Bar yang lain yang beroperasi malam ini tidak cuma “Irish Bar” untuk orang Inggris, Australia dan Amerika, tetapi juga ada Indian Bar, Arabian Bar, dan Russian Bar… dan masing-masing dengan Life band nya.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan hotel berbintang lainnya, seperti Ritz Carlton dll….

Mafia

mn-081019-2Untuk kita yang tinggal di Indonesia, kita hampir tidak mengenal system mafia dalam kehidupan social kita. Apa yang kita kenal di Indonesia lebih terpaku pada masalah ke suku an, dimana tiap-tiap suku seolah punya daerah kekuasaannya sendiri-sendiri. Paling terasa mungkin adalah Etnis Cina, yang menguasai hampir setiap sector perekonimian Indonesia.

Disini, saya tidak ingin menjadi rasialis. Apalagi suasana seperti diatas, yaitu suasana kesukuan yang kuat dan rasisme terhadap etnis cina tidak terlalu tersegregasi seperti sepuluh tahun yang lalu. Saya disini cuma ingin menceritakan pengalaman saya di Timur Tengah yang mana lapisan social berlangsung bukan dengan issue suku yang berbeda-beda seperti di Indonesia, tapi issuenya lebih dari itu. Disini issuenya adalah masalah kebangsaan, atau lebih biasa didengar adalah nationality.

Negara-negara di Timur Tengah ini tidak ada satupun yang menerima proses naturalisasi, kecuali mungkin Saudi Arabia. Jadi apabila mereka adalah warga Negara Qatar, artinya dia dilahirkan dari orang tua yang penduduk asli Qatar, dan mereka adalah benar-benar bangsa Qatar, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Qatari. Begitu juga dengan orang UAE (Dubai, Abu Dhabi, dll) yang biasa dipanggil Emirati, juga dengan Bahraini dll.

Negara-negara Timur Tengah sangat membutuhkan jumlah populasi penduduk tertentu untuk membangun negaranya, meskipun mereka tidak mengenal kata naturalisasi. Pemecahannya adalah mereka  menerima kehadiran bangsa lain yang ingin mendulang uang disamping membangun ekonomi Negara tersebut. Karenanya sangat banyak bangsa lain yang menetap di Negara-negara Arabia yang kaya minyak ini selama puluhan tahun. Pelahan lahan pendatang ini membangun networknya dengan mengajak sanak keluarga, kenalan dll. datang ke Qatar, Bahrain, UAE dll.

Tidak seperti imigran Cina, India dan Arab yang datang ke Indonesia dan lalu mengalami proses naturalisasi, kemudian meninggalkan kewarga-negaraan asalnya, dan lama kelamaan meninggalkan sama sekali jejak aslinya dengan berbaur dengan penduduk asli.

Imigran yang datang ke tanah Arabia tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti mereka datang ke Indonesia; mereka akan tetap nasionalis, dan kembali kenegaranya. Akitabnya, merekapun akan tetap kumpul dengan mereka yang berasal dari Negara yang sama dan bersama-sama membangun mafianya… yang menjadikan tempat tersebut “little India” untuk komunitas yang isinya orang imigran India… atau “China Town” atau apalah namanya itu. 

Apa pengaruh dari “mafioso” ini? Tentunya kemudahan dari masyarakat ini untuk memperoleh pelayanan-pelayanan tertentu, seperti misalnya:

  • Jasa cargo yang murah antara Dubai dan India, karena begitu banyak tenaga kerja yang membantu cargo tersebut dan juga permintaan pelayanan cargo tersebut. 
  • Efek samping dari jasa cargo ini adalah, impor barang dari India menjadi mudah dan murah.
  • Warung makan India menjadi tersebar dimana-mana di Dubai, karena banyaknya orang India yang membutuhkan…. dan orang India pun semakin banyak yang datang ke Dubai untuk berbagai macam bisnis….

Efek samping dari itu, makanan India hampir menjadi satu dengan makanan lokal Dubai, ekonomi Dubai menjadi tergantung dengan tenaga kerja dan mafioso India, dan ini bisa merambat tidak cuma di sektor bisnis restoran atau cargo, tapi juga bisnis konstruksi, ekspor-impor, dan malah merambah ke pemerintahan.  

Di Dubai, mafioso India sangat dominan; di Kuwait, mafioso Palestina sangat dominan; di Qatar, mafioso Lebanon cukup kuat…

Disadari atau tidak, ekonomi negara2 ini sebenarnya sangat tergantung dari mafioso-mafioso pendatang tersebut. Apabila negara-negara tersebut mengusir orang India – misalnya- keluar dari Qatar, maka sistem ekonomi negara tersebut bisa lumpuh.  Hal ini pernah di alami oleh Uganda dijaman Idi Amin, yang mengusir orang India keluar,  maka semua hampir semua restoran dan segala macam industri yang menunjang kehidupan sehari-hari tutup karena dari buruh kasar, sampai pejabatnya harus pulang ke India…. habislah separuh dari populasi negara tersebut, begitu pula ekonominya. 

Bagaimana dengan di Indonesia? …. ah di Indonesia rasanya tidak serumit ini, tapi kenapa kok kita sulit untuk membangun negara sendiri? apa karena terlalu terisolasi dan sibuk sendiri ya….?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 235 other followers

%d bloggers like this: