Skip to content

Naik Mobil di Inggris Selatan-2

Kota Bath memang menarik, tapi ternyata ada banyak kota dan desa kecil yang cantik dan menarik seperti Bath ini. Enaknya naik mobil adalah berkemampuan untuk melalui dan melihat semua itu. Dibawah ini peta perjalanan saya:
Dan kami mengunjungi semua tempat itu tanpa sama sekali masuk ke metropolitan London yang terkenal itu. Partner perjalanan saya tidak ingin mengunjungi kota London, karena dia pusing dengan kota yang “ruwet” itu…. hi hi hi, saya jadi membandingkan dengan Jakarta yang berpenduduk 12 juta orang itu.

Sebagai “Gadis Kota,” London bukan kota yang menakutkan, tapi bukan berarti pedesaan tidak menarik. Dengan Bath sebagai “base camp” kami, kami mengunjungi kota kota kecil disekitar Bath seperti desa Badminton,  Castle Combe, Lacock, Avebury dan tentunya Ngarai Cheddar. Kami juga berkesempatan untuk menghabiskan seharian di kota Bristol, kota terbesar ke tiga di Inggris sesudah London.

Badminton.

penunjuk jalan ke desa Badminton

penunjuk jalan ke desa Badminton

Namanya memang terkenal di Indonesia, dan di seluruh dunia karena disinilah permainan olahraga Badminton diresmikan pada tahun 1873; atau tepatnya di Badminton House, di kawasan Gloucestershire. Tapi jangan harap tempat ini lalu menjadi modern dan dilengkapi dengan fasilitas gedung olahraga Badminton…. sama sekali tidak. Malah menurut pendapat saya, tempat ini mengecewakan. Cuma ‘hal’ kecil di desa Badminton, dengan kapasitas dua lapangan badminton saja, dan tidak ada bangku untuk penonton sama sekali.

Bangunan perumahannya, meskipun unik tapi secara arsitektur, ini sangat kuno…. dengan atap alang-alang yang sama sekali jauh dari bayangan Inggris yang merupakan negara industri. Rupanya mereka juga masih punya desa-desa “udik” seperti ini. Terus terang ini mengingatkan saya pada Kampung Naga di Jawa Barat….

Foto lebih jauh tentang desa Badminton bisa diliat disini

arsitektur rumah tinggal di desa badminton

arsitektur rumah tinggal di desa badminton

Castle Combe.

Desa cantik lain adalah Castle Combe. Populasinya, cuma 350 orang saja… tapi pemandangannya yang diciptakan tidak betul betul luar biasa, tetap asri dan pemandangannya tetap seperti ini sejak jaman abad pertengahan. Disini juga film Doctor Dolittle versi tahun 1967 dibuat, dan pemandangan seperti difilm itu, sampai sekarang masih saja sama…. tanpa menjadi semakin kumuh atau semakin modern.

Desa Castle Combe

Desa Castle Combe

Bagian desa cantik ini juga dilengkapi oleh hotel, Manor House Hotel, yang termasuk dalam rantai hotel mewah,  Small Luxury Hotel of the World, dan dilengkapi dengan fasilitas lapangan golf nya. Jangan tanya berapa tarifnya untuk menginap atau bermain golf disitu. Kami hanya mampu untuk berpose di depan hotelnya dan minum teh saja disitu; tidak cukup untuk membayar makan siang.

Foto lebih lanjut dilihat di sini

Lecock.

Desa Lacock tidak secantik atau se istimewa seperti Castle Combe, tapi dia tetap masuk dalam daftar obyek turisme Inggris, karena Lacock Abbey yang kondisi ke asliannya tetap dipertahankan oleh institusi National Trust, organisasi swasta yang mengurus konservasi dan mempertahankan kehijauan alam Inggris. Disini juga ada museum “Fox Talbot”. Kurang terkenal mungkin, William Henry Fox Talbot adalah orang pertama yang menemukan teknologi photography. dan di desa inilah dia pertama kali merekam gambar tetesan salju.mn-090630-5

Lacock Abbey ini masih tetap sama seperti ketika William Henry Fox Talbot ini menyempurnakan proses calotype yang menjadi cikal bakal teknologi photography modern.

Avebury

Desa Avebury menjadi rumah dari peninggalan purba Inggris dan merupakan versi primitif dari yang lebih terkenal – Stonehenge dengan daya cakup yang sangat luas, jadi sangat sulit untuk melihat semuanya sekaligus, disamping mencernanya pun….. saya tidak bisa menggambarkannya dalam bentuk kata-kata….

monumen batu di Avebury

monumen batu di Avebury

Kayaknya komentar saya untuk peninggalan tua Avebury sama saja seperti komentar yang saya tulis di posting saya tentang Stonehenge.

About these ads
Posted by Nin on 2009/06/30
3 Comments Post a comment
  1. 07/11/2009
    adenita

    gimana kalo tulisan Stonehenge di akhir tulisan ini dilink ketulisan yayu yg Stonehenge?

    Reply
  2. 07/12/2009

    ok, good idea…

    Reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. Berkunjung ke Stonehenge « Ini cerita saya,

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Note: HTML is allowed. Your email address will never be published.

Comments Feed

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 205 other followers

%d bloggers like this: