Skip to content

Apakah Saya Kehilangan Kebebasan Saya?

Hampir empat tahun yang lalu saya membuat keputusan sendiri, bahwa saya akan berangkat ekpatriasi ke Timur Tengah, dengan membawa sebuah kopor, sebuah ransel besar berukuran 60 liter, sebuah laptop, kamera dan tiket pesawat “terbuka” ( open tiket – artinya dengan tanggal pulang yang tidak ditentukan sebelumnya - bukan tiket pulang-pergi yang biasa). Seperti saya tulis pada awal blog saya ini, saya tidak tau kapan saya pulang. Bisa seminggu kemudian atau…. entah kapan, tergantung ketahanan saya dan kekuatan saya sendiri untuk hidup di rantau.

Ketika itu semua keputusan saya ambil sendiri, tidak ada orang tua atau suami tempat bertanya… tidak ada partner tempat berdiskusi untuk keputusan yang kemudian mungkin saja merubah jalan hidup saya. Waktu itu pertanyaan teman-teman saya adalah, “….ngapain sih ke Arab. Apa cowok-cowok Indonesia kurang untuk kamu sampe harus cari orang Arab…?”

Pertanyaan tersebut memang cuma sebuah kelakar saja, tapi bukannya kelakar itu setengah serius? Saya diam saja, mau di jawab apa? Apapun jawabannya, mereka tidak akan ambil perduli, dan saya pun tidak perduli. Saya sudah kebal terhadap lelucon seperti ini. Dimulai dengan pertanyaan: “Kapan nih menikah…?” – pertanyaan klasik untuk anak perempuan menginjak usia 20 an….  atau yang lebih menyakitkan lagi adalah pernyataan yang setengah menghakimi: “Kamu sangat picky dalam memilih jodoh kamu… “. Saya tetap diam saja, dan sejalan dengan waktu, pertanyaan kemudian berubah, “mengapa kamu tidak menikah…?”

Mereka semua tidak tau bahwa memilih jodoh itu bukan seperti menerima kucing dalam karung. Ibu-ibu yang jahat itu juga memilih sayurnya yang mereka beli di tukang sayur dengan sangat hati-hati untuk dimakan bersama keluarganya… ; kenapa saya tidak boleh memilih jodoh saya dengan hati-hati juga? Jawaban saya “mengapa saya tidak menikah” adalah, karena saya pikir semua orang punya alasan sendiri-sendiri dengan jodohnya…. Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas yang bertubi-tubi saya terima pada saat saya umur 30an memang membuat saya depress.

Sekarang, 40 something, saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Saya menikmati kebebasan saya, tidak ada anak-anak yang mungkin membuat saya pusing dan suami yang sok otoriter mengatur diri saya. Saya bebas memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya sendiri, dan saya bertanggung jawab atas diri sendiri. Dan saya juga tidak pernah berpikir lagi bahwa saya akan pernah bertunangan dan kemudian menikah…. hare ginie! apa lagi saya memasuki periode ke dua dari hidup saya… masa menopause….

Percaya atau tidak, saya harus mengakui bahwa…. “manusia boleh berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan….” Pada saat saya sudah tidak berpikir akan pernah menikah… tau-tau teman saya, dengan siapa saya sering ngobrol dan jalan-jalan bareng di tengah ke sendirian di rantau meminta tangan saya…. Mungkin “proposal” Keith (demikian nama teman jalan bareng) ini bukan yang pertama saya dengar, tapi ini proposal pertama yang pernah saya terima!

Sebagai perempuan setengah baya, yang terbiasa berpikir logis dan tidak terlalu romantis; saya sangat realistis untuk tidak mengharapkan apa-apa sesudah saya menerima lamaran dia. Persiapan pernikahan… ah rasanya kurang layak untuk berpikir terlalu muluk pada umur segini, kami tidak muda lagi… dan inipun bukan pernikahan pertama untuk Keith; kami juga sangat jauh dari keluarga kami masing-masing…. jadi tidak perlu terlalu diresmikan… dan itu adalah pemikiran saya. Saya benar-benar tersentuh ketika dia mengatakan: “…lets buy an engagement ring…”

mn-090701-2

Saya tidak bisa berpikir lagi dan harus menjawab apa dari kata-katanya tersebut… tapi mungkin ada benarnya apa yang dikatakannya sambil berkelakar: “…. women are not supposed to think..,” Saya harus berhenti berpikir dan bertingkah lakulah seperti perempuan “normal” dan membiarkan dia berpikir….

Sebenarnya, saya tetap ingin seperti saya yang dulu, sebelum saya bertemu dengan Keith. Saya tidak ingin kehilangan kebebasan saya sebagai perempuan mandiri, “independent Annie,” begitu istilah Keith kalau saya mulai menunjukkan kemandirian saya.

Satu hal yang saya tau sekarang adalah bahwa saya tidak bisa memutuskan semuanya untuk diri saya saja. Saya harus berpikir untuk kami berdua; kami akan mendiskuskannya bersama. I am not traveling solo anymore….

About these ads
Posted by Nin on 2009/07/01
5 Comments Post a comment
  1. 07/8/2009
    Ardita McHugh

    Kehilangan kebebasan?! Saya rasa gak jg tuh, tergantung bebas yg bagaimana dulu. Mungkin setelah punya partner/spouse kebebasannya “bebas terbatas”. Setuju, setelah kita berdua keputusan untuk berdua…perlu toleransi…tenggang rasa…take and give deh judulnya.

    Btw, untuk urusan tanya menanya kayaknya udah tradisi kali ya (basa basi gombal…sekaligus ngeselin)…kalo belum nikah, nanyanya ‘kapan nikah?’, kalo udah nikah, nanyanya ‘kapan mau punya anak?’, kalo udah punya anak, nanyanya ‘kapan mau nambah?’…Abis itu mungkin akan ada pertanyaan lg…tp so far pengalaman gue baru sampe situ…hehehe…

    Anyway, it’s a brilliant news Bu Nin! Congratulations…

    Best wishes,
    Dita

    Reply
  2. 07/10/2009
    Daze

    Congratulations….tulisannya getting better, keep writing. Will talk to you via Skype

    Reply
    • 07/20/2009

      Thanks Veb…. gw inget dong sama kamu…

      Reply
  3. 07/19/2009
    v-bry

    wah congrats yah bu nina,..moga2 masih kenal aku,.,..temennya dita di arkonin yg nulis comment di atas,…he he

    Reply
  4. 07/20/2009
    upique

    hi lagi, akhirnya saya tahu kalo namanya bu nina setelah “menjelajahi” blognya…
    saya salut ama bu nina… separuh dari cerita bu nina ada di diri saya dulu lho bu? cuma saya sih travelingnya indonesia aja, ngga sampe luar negeri soalnya ngga ada channel hehehe… skr neh pengennya kerja kayak bu nina yang bisa traveling around the world…
    soal kehilangan kebebasan… itu terjadi ama saya bu…saya dulu heboh banget deh orangnya… stlh merit dan skr py anak saya jd sedikit terkekang, karena urusan RT kan banyak bgt bu, sampe saya berhenti kerja dari perusahaan yg saya nyaman banget disitu dg alasan rumah…!!!
    tapi akhirnya saya merasa kalo memang bener qt hrs take and give kayak temen ibu yg comment diatas (dita)… dan skr saya merasa bahagia telah menemukan soulmate saya heheh… i hope u will be happy too mam,

    Reply

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Note: HTML is allowed. Your email address will never be published.

Comments Feed

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 205 other followers

%d bloggers like this: