Skip to content

Posts from the ‘BAHRAIN’ Category

Menyeberang ke Qatar

Saya memang terbang dengan Business Class, dari Manama Bahrain ke Qatar; barang yang saya bawa juga seadanya, meskipun terus exceed the limit, tapi permasalahan belum selesai disitu. Bagaimana dengan barang-barang yang lain? seperti TV misalnya dan mobil kami? dan yang paling penting buat saya mungkin adalah Keith, dia masih tertinggal di Bahrain!

Gambar disebelah ini tidak benar-benar merekfleksikan apa yang terjadi pada saya, tapi begitulah kira-kira Keith akan menyeberang ke Qatar, dengan mobil dan sebagian barang-barang yang tersisa. Sebagian barang yang lain sudah di angkut oleh perusahaan expedisi.

Sebenarnya ini mungkin bukan perjalanan istimewa cuma kira-kira 142 km saja, tapi ini dengan pesawat dan cuma ditarik garis lurus terdekat antara Manama dan Doha, tapi jarak ini jadi berbeda pada saat perjalanan ditempuh dengan mobil dan melalui tanah Saudi Arabia.

Dari apartemen tempat kami tinggal hingga perbatasan dengan Saudi mungkin tidak seberapa, cuma kira-kira 20 menit saja; perjalanan dari perbatasan Bahrain dengan Saudi sampai dengan perbatasan berikut, antara Saudi dan Qatar, ‘hanya’ maksimum 335 km, atau sama dengan Jakarta-Pemalang saja, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan didalam negara Qatar, atau dari Abu Samra ke Doha, yang cuma akan memakan waktu kira-kira satu setengah jam sampai dua jam, tergantung kemacetan di jalan.

Dengan kondisi jalan yang  sangat baik atau setara dengan jalan tol Jakarta – Bogor, secara matematika, dengan jarak tempuh kurang dari 450 km dan katakanlah kecepatan rata-rata adalah 90 km per jam, maka Manama-Doha bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 5 jam saja, dan ditambah mungkin urusan diperbatasan, maka paling lambat waktu Keith akan tiba di Doha enam jam kemudian.

Untuk kebanyakan orang Palestina perjalanan seperti ini adalah hal biasa. Mereka biasa melakukan perjalanan dari Doha hingga Amman (di Jordania). Dengan sebagian besar perjalanan adalah di tanah Saudi, perjalanan itu mereka tempuh antar 10 sampai dengan 20 jam, tergantung dari kecepatan mengemudinya. Untuk teman-teman orang Indonesia yang tinggal di Qatar, perjalanan inipun biasa, untuk mereka yang melakukan Umroh dari Qatar ke Saudi (lihat peta)

Untuk Keith perjalanan ini sebenarnya juga tidak terlalu istimewa. Pertama kali dia melakukan perjalanan ini adalah dari Riyadh ke Ras Al Kheima, 31 tahun yang lalu; perjalanan epicnya dari Riyadh hinggal London, naik mobil, bersama keluarganya, sekitar duapuluh tahun yang lalu, waktu tempuhnya sekalian mampir-mampir hampir tiga minggu sendiri.

Tapi perjalanan ini jadi berbeda, karena dia tidak cuma berkunjung ke negara lain dan lalu kembali;  dia juga mengexport mobilnya, perjalanan ini oneway, tidak kembali lagi ke Bahrain, dengan segala macam barang yang dibawanya dalam mobil itu beserta mobilnya; artinya dia mengexport mobil tersebut beserta isinya. Surat-surat yang harus disiapkannya pun berbeda dengan kalau melakukan umroh misalnya.

Lalu dokumen apa saja yang harus disiapkan? ini listnya:

  • Transit visa ke Saudi, yang mana berlaku untuk pengemudinya yang berlaku selama 3 hari. Mengurus transit visa ini sebenarnya mudah, cuma jadi agak lama apabila kedutaan Saudi tutup, dan mereka biasanya libur panjang pada saat Eidl Fitri. Jadi harus pandai-pandai mengatur waktu perjalanan. Khusus untuk Bahrain, pengurusan transit visa Saudi ini di sub kontrak kan pada agen perjalanan yang mereka tunjuk di Bahrain.
  • Ada visa khusus untuk mobilnya yang juga menjadi bagian dari dokumen perjalanan itu. Visa ini bisa di mintakan pada agen perjalanan tersebut.
  • Nomor mobil Bahrain harus diganti, tidak lagi dengan nomor mobil Bahrain yang biasa, tapi dengan nomor mobil export. Untuk kepengurusan yang ini, dilakukan di kantor polisi dengan mengembalikan nomor asli dan menggantinya dengan nomor export. Masa berlaku nomor export ini cuma tiga minggu saja; artinya mobil tersebut harus meninggalkan Bahrain dalam waktu kurang dari 3 minggu, lebih dari itu, maka kadaluarsa.
  • Asuransi untuk mobil untuk melakukan perjalanan di Saudi dan di negara tujuan yang berlaku selama tiga minggu, sebelum asuransi ini diperbaharui di negara tujuan. Walaupun kita tidak mengharapkan terjadi kecelakaan, tapi asuransi ini adalah sesuatu yang harus dan di periksa di perbatasan. Polis asuransi bisa dibeli di perusahaan asuransi dekat denga perbatasan antara Bahrain dan Saudi, dan itu bisa dilakukan pada hari keberangkatan.
  • Pajak mobil. ini yang paling penting dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengurusnya. Pajak pembelian mobil biasanya di keluarkan pada saat membeli mobil di tempat tertentu dan sesuai dengan nomor mesin dan nomor registrasi mobil tersebut. Tapi pada saat nomor registrasi mobil berubah, tentunya surat-suratnya pun menjadi berubah disesuaikan dengan nomor registrasi eksport yang baru. Surat-surat ini dikeluarkan oleh dealer mobilnya, jadilah Keith harus mengurusnya dengan perusahaan mobil Honda yang menjual mobil tersebut.
  • Mobil ini bisa di import masuk Qatar apabila pemilik mobil ini memiliki visa tinggal (Residence Permit) di Qatar atau minimal visa kerja. Apabila Keith tidak memiliki visa ini maka dia tidak bisa mengimport/mengendarai mobil ini masuk ke Qatar, walaupun dia berhasil menyeberang melalui Saudi.

Semua urusan dokumen perjalanan beres maka berangkatlah Keith menyeberang melalui tanah Saudi dengan semua barang-barang sisa, meninggalkan aparteman kami di Doha yang sekarang kosong.

Antara Qatar dan Bahrain

Bepergian ke negara-negara Arabia di bulan Ramadhan benar-benar berbeda dengan ke tempat-tempat lain dibelahan dunia yang lain. Semua aktifitas benar-benar berhenti sesudah tengah hari. Dalam arti sama sekali tidak ada aktifitas apa-apa sesudah jam dua siang sampai dengan jam delapan malam.

Bahrain

Saya sudah mewanti-wanti seorang teman saya yang berkeinginan datang mengunjungi kami selama dua minggu terakhir bulan Ramadhan ini.”Tidak ada atraksi apa-apa yang bisa dilihat sepanjang hari… kecuali mungkin shopping mall….”

Tapi dia berkeras untuk datang pada saat itu juga, kerena ini berhubungan dengan jadwal perjalanannya yang lain, disamping itu, “Saya sudah melakukan survey di internet yang mengatakan bahwa Bahrain Circuit untuk Formula 1 tetap bisa dikunjungi selama bulan Ramadan…” begitu kilahnya.

“Oke terserah saja…,” dan datanglah dia ke Bahrain. Kamipun berusaha untuk menjadi tuan rumah yang baik…. tapi gimana ya ini bulan puasa, tidak ada restoran yang buka sama sekali, walaupun di hotel sekalipun, cafe shop yang seyogyanya buka 24 jam dan biasanya menyajikan menu buffet, selama bulan puasa mereka cuma menyajikan menu a la carte. Independent cafe shop yang bertebaran di Manama City ini, buka cuma malam hari, mulai dari jam 8 malam. Artinya untuk mereka yang ingin buka puasa di restoran…. kayaknya hampir tidak mungkin. Kenyataannya banyak restoran-restoran yang memutuskan untuk melaksanakan renovasi tahunannya pada saat bulan puasa ini, so tutup sama sekali malahan….

Jadi buka puasa di restoran bukan pilihan, lalu apa lagi aktivitasnya dong? Di Bahrain ini ada yang namanya “Water Park” tempat bermain air yang besar…. iseng kami datang kesana pada hari Sabtu, jam dua siang…. mungkin bisa berjemur atau main air kan mustinya lebih baik dari pada berjemur saja di siang hari, minimal ini lebih sejuk…. ternyata ini juga baru buka jam 4 sore….

Kami tidak putus asa, kami coba datang ke Bahrain Circuit F1, yang katanya tetap buka selama bulan puasa, dengan segala aktivitasnya, (itu menurut propagandanya di website mereka). Salah satu aktivitas yang menarik adalah tentunya melakukan test drive di circuitnya…. walaupun bukan dengan kendaraan “yang itu” tapi kan sudah lumayan, ngebut dengan kecepatan maksimal….. hmmm ternyata kegiatan yang ini tidak ada dibulan Ramadan.   Ya sudah, tidak ada yang ini, nomer dua menarik adalah mengendarai Go Cart, walaupun di circuit yang lain. Aktivitas ini gagal juga, karena cuma ada sesudah jam 9 malam sampai dengan jam 12 malam…..

Qatar

Kali ini pengalaman saya sendiri, yang ditugaskan oleh kantor untuk mengerjakan sesuatu di kantor cabang kami yang ada di Qatar…. jadi terbanglah saya ke Qatar dari Bahrain. Saya di tempatkan di salah satu apartement kantor yang ceritanya adalah “Serviced Apartment.” Kecuali mungkin restoran atau cafe yang tidak disediakan oleh apartement ini, hampir semuanya ada, termasuk gym, sauna, dan kolam renang indoor. Oya, satu lagi yang juga tidak ada, saluran internet… walaupun telepon lokal ada. Yang belakangan tidak ada ini yang menjengkelkan….

Seperti biasa, karena ini bulan Ramadan, maka jam kerja pun cuma sampai dengan jam 2 siang saja. Sisanya, “terserah anda…” Apa yang harus saya lakukan sekarang….? Saya pikir ada baiknya saya berusaha mencoba saluran internet yang ada di rumah, maksudnya di Qatar ini di tempat-tempat tertentu ada jaringan internet yang menjadi fasilitas kota, walaupun sangat terbatas… alhasil… jaringannya cuma bisa di tangkap di ruang tidur saja, dan itu pun sangat lemah…. kayaknya saya harus test kesabaran untuk ini.

Frustrasi dengan internet yang ngadat… (saya tidak mengira bahwa saya sangat tergantung pada internet….) lalu saya mencoba menelepon teman-teman lama saya yang saya tau persis, masih berada di Doha…. ternyata dari beberapa orang yang saya hubungi, cuma satu yang menjawab teleponnya, “nanti ya saya makan dulu,”  maklum dia bukan muslim, jadi sah saja. Akhirnya teman saya itu datang sekitar jam 6 sore, saatnya berbuka puasa…. Lalu apa yang bisa saya lakukan antara jam 2 siang sampai dengan jam 6 sore? …. ini yang susah, ketergantungan saya pada internet tidak bisa terlampiaskan, tidak ada koneksi internet dirumah dan jangan harap internet cafe akan buka sebelum jam 8 malam…

Saya jadi sadar, bahwa setelah 4 tahun tinggal di Arabia, saya tetap belum bisa adaptasi bagian yang ini: bengong di bulan puasa… dari jam 2 siang sampai dengan jam 8 malam… tidak juga terbiasa untuk tidur siang, tidak biasa untuk menganggur, dan saya tidak bisa mencari kesibukan lain, maklum ini di apartemen kosong bukan di rumah sendiri. Jadilah saya marah terhadap diri sendiri dengan keadaan yang membosankan ini.

Lesson learned: jangan bepergian, baik itu untuk tujuan wisata dan tujuan bisnis di bulan Ramadan di Arabia… tidak ada yang berfungsi satupun sampai dengan jam 8 malam!

Baca juga:

Desert Bahrain

Many thought dessert sand us smooth, fine grain of dirt….

Well, not always, some are like this as well

Time To Move On…?

We were forced to go home last week as there was another power cut, the power generator went bust again; so many times this as happened as I think nobody bohers to maintains it.

Working on a construction site from a porta-cabin, everything depends on the Power-Generator. No power means no water, no toilets, no airco, no telephone lines, no internet connection, no business, no nothing. Thus when there’s a power cut, we might as well go home, as it’ll take hours before it gets fixed.

Since I went back to work on this project; to build a new township, in the middle of Bahrain’s desert, we had power cuts several times already. To make things worse, the contractor who was supposed to maintain the ongoing daily office activity were also reducing their site activities. It all started with reducing the working hour, from 2 shifts and 18 working hours to 6 working hours daily, and from hundreds of labourers to less than 10 only, and I believe their management staff was also reduced significantly.

That power cut that happened last week was really a bad sign, but my boss who’s in charge of the project, insists that we should still go back to the project, as I asked him whether we need to go back or just report for work to our head office.

But, things are really going downhill, we got a “dear John” letter from our client that very day…. This was a repeat from what happened to me 15 years ago (read my previous posting “recession in a foreign country”). What’s next for me? Will the company I work for give me the sack? Just like 15 years ago….? Should I go back home…?

If I were travelling solo, just like when I first come to the Middle East, then I might just do that, pack my suitcase and go home to Indonesia, as nothing would hold me here, in Bahrain. But what about my partner; he is still very busy; his project is still going strong and could last for another 2 years before he decided to move, and by then, this global credit crunch might be over.

There’s no point for me to look around to find a job as construction business in Bahrain has slowed down over the last 6 months. Which means there are no reason to make me stay in Bahrain. But what about our relationship? Will this means that we will have a long distance relationship?

I haven’t even started to discuss with Keith our strategy when our area manager approached us and told us the news,”…. It’s up to you guys what you gonna do, as it’s a double package with the both of you…? Yea right… it is a double package maybe, but as long as our company’s concern, we were still a different individual. I lost my job, but not with Keith. I could be a lady of leisure, but not in Bahrain.

As I am not traveling solo anymore, I think we need to talk, that is Keith and I, what is our strategy…. I was planning to have this discussion tonight when suddenly I’ve got a long distance telephone call: “Hi Nina, this is Qatar, would you like to comeback to Qatar and work for us again….?” What about that, I haven’t done anything yet, not even applying for a new job, and suddenly my next job is waiting for me….This is outstanding! “Qatar here I come again…!”

Resesi di Negeri Orang

mn-090720-1

Hampir lima belas tahun yang lalu resesi seperti sekarang ini terjadi di Indonesia, waktu itu saya baru saja kembali dari bekerja di Singapore, belum genap setahun saya bekerja lagi di Jakarta, serta merta semuanya berubah, itu semua karena kondisi ekonomi dan politik di Indonesia. Industri Konstruksi adalah industry pertama yang terkena imbasnya. Waktu itu,  kantor tempat saya bekerja, mendapat surat yang pemutusan hubungan kerja dari pihak pemberi tugas dan karena saya ujung tombak, bekerja di proyek yang berhenti, maka saya pun langsung di PHK sore itu juga.

 Keresahan memang sudah terasa sebelumnya, yaitu dengan beberapa orang kontraktor asing yang dipulangkan kenegara mereka masing-masing. Walaupun resah, tapi saya masih santai, dengan kepercayaan bahwa sebagai ‘orang lokal’ tentunya segala hal akan lebih mudah. Kan motto orang jawa yang terkenal itu: “…mangan ora mangan asal kumpul…” tetap selalu berlaku.

Meskipun demikian, kemarahan itu tetap ada juga dalam hati saya, dan saya tidak bisa cuma memendamnya saja, walaupun logika saya mengatakan bahwa, sebagai seorang perempuan, muda, single, tidak punya beban keluarga dan tidak punya tanggungan apa-apa; maka saya adalah orang pertama yang di PHK…. Waktu itu saya di PHK bersama teman-teman saya yang ekspatriat. Mereka harus pulang kampung. Prioritas pekerjaan yang tersisa adalah untuk mereka yang: lebih tua, laki-laki, dan mereka yang mempunyai excess baggage… atau tanggungan lainnya.

Mulai saat itulah pola berpikir saya langsung berubah. Ada rasa marah yang waktu itu berkecamuk dalam diri saya; yaitu mentang-mentang saya perempuan, dan masih single, lalu mereka dengan mudahnya memberhentikan saya, dengan pemikiran (mungkin…)”…ah kan dia bisa setiap saat kembali pada orang tuanya…?” ya memang itu mudah saja terjadi, karena kan orang tua saya masih ada, dan mereka akan selalu menerima kembali saya dan membantu saya…. Memang kelihatannya saya tidak punya beban, tapi bagaimana apabila orang tua saya justru tergantung dari dari saya…? Pemikiran saya waktu itu adalah: ini diskriminasi!, bukan Cuma karena saya masih single dan tidak punya beban, tapi juga karena saya perempuan!

Waktu itu saya ngomel-ngomel pada ibu saya dan juga teman perempuan saya, tapi rupanya mereka tidak terlalu risau seperti saya. Sementara itu apabila saya mengeluh pada teman lelaki saya, mereka ternyata lebih sensitive, setengahnya mereka lebih mengerti situasi saya, meskipun kebanyakan dari mereka tidak terkena PHK seperti saya. Sejak saat itu saya pun mengerti sekali apa rasanya terkena PHK dan kehilangan penghasilan. Dan sejak saat itu pula saya memutuskan untuk berpikir seperti laki-laki, tidak tergantung pada suami-suaminya untuk menentukan kemana jalan hidup saya. Saya harus mandiri….

Sekarang ini resesi ekonomi kedua yang saya alami… dan lebih parah lagi saya berada di negeri orang. Sebagai tenaga kerja asing di negara orang, maka saya adalah warga negara ke dua (kalau bukan warga negara ke tiga malah…) yang mana kamipun menjadi prioritas ke dua (atau ketiga) dari negera tersebut untuk dipertahankan, lepas dari ras, dan gender…. Jadi apabila perusahaan bankrupt, maka kamilah yang pertama-tama harus pergi.

Industri konstruksi seperti biasa adalah yang paling terasa imbasnya, dimana pun itu…. Sialnya saya selamanya bekerja di sector ini. Dan saya adalah semua yang saya sebutkan diatas, tenaga kerja asing, di negara asing, tepatnya di Bahrain.

Bahrain boleh saja terletak di Arabia, yang terkenal sebagai negara Petro Dollar…. Tapi jangan salah, cadangan minyak bumi di Bahrain adalah yang paling sedikit dari negara-negara GCC (Gulf Corporation Countries yang termasuk didalamya adalah Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirates Arab, Oman, Kuwait dan Bahrain). Bahrain sudah mengalami masa kejayaannya sepuluh tahun yang lalu, sekarang ini ia lebih mengandalkan pada industry pariwisata daripada pemasukan devisa dari sector minyak dan gas. Bahrain juga mengandalkan pada investasi asing untuk membangun negaranya.

Dengan adanya resesi global seperti sekarang ini, Bahrain memang berusaha bertahan. Memang, konstruksi yang sudah berjalan, masih tetap berjalan, tapi bukan berarti segalanya berjalan dengan mulus; ada yang berjalan dengan sangat lambat, dengan berbagai alasan, perlahan-lahan berhenti. Proyek saya sekarang ini adalah yang termasuk dalam kategori terakhir.

Kembali pada diskusi semula, tentang kehilangan pekerjaan dan berpikir seperti laki-laki; saya sebenarnya sudah mulai resah terhadap kelanggengan pekerjaan saya sejak awal tahun ini. Saya juga tau bahwa mencari pekerjaan sekarang ini tidak mudah. Semua orang juga mencari pekerjaan, dan ini berlaku global, tidak Cuma di Indonesia saja seperti hampir lima belas tahun yang lalu.

Terus terang saya tidak tau harus berbuat apa, apabila saya memutuskan untuk mencari pekerjaan, pertanyaannya adalah dimana? Di Bahrain atau di Indonesia atau mungkin di tempat lain? Apakah saya harus berpikir untuk saya sendiri atau saya harus berpikir untuk kami berdua, saya dan partner saya? Apakah mungkin kami memperoleh pekerjaan di tempat yang sama? Apakah ini artinya ‘hubungan jarak jauh?’ Apakah saya harus berpikir seperti perempuan pada umumnya: “pasrah saja sama lelaki saya….?” Aahh yang ini bukan diri saya yang mandiri seperti dulu….

Recession in a Foreign Country

Nearly fifteen years ago the current recession was also happening in Indonesia. I had just returned from working in Singapore, after nearly a year away from Jakarta, and immediately everything changed. It was all because of the economic and political conditions of Indonesia. The construction industry was the first industry affected. The office where I worked got a termination letter from their biggest client. Immediately after that the project I work with was getting mothballed for an indefinite time. That very afternoon I got the shock of my life, out of work without any warning whatsoever, or any notice or options. I got the ‘Dear John letter’ and that took immediate affect.

If I could be sensitive enough, the restless feeling was already there, a few months earlier, where bit by bit all the foreign contractors were sent home due to redundancy in their own company. Even though I was worried, but I was still relaxed and thought that I lived in my own country, those who were kicked out were the Expats, not the locals. Besides there is the old Javanese saying, “… mangan ora mangan asal kumpul – or “whether there were food or not doesn’t matter, as long as we are together…” However, even though logic says that I, as a woman, young, single, no kids and family to look after, no excess baggage; made me the first person to be the subject to be made redundant, I could not help myself of feeling disappointed, angry, sad, and other feelings that I could not describe. I was a local employee, but yet I am still as vulnerable as my expat colleague who was forced to go home, to their country at the same time as me…. The office policy was to prioritize and save the job for those who’s older, male, head of the family. But what happens when I was the one who support them instead? They wouldn’t know that!I say this is discrimination, against a single person as well as a woman!!

Well good thing that my parents were still intact and willing to support me. however, since then, my way of thinking had changed.

I kept on moaning and grumbling to my mom, and my other girl friends, but it seems that they couldn’t see my way of thinking and could not understand why I was so angry. Meanwhile, when I complained to my male friends, they appeared be more sensitive, half of them understood my situation, as many of them were affected and were in the same situation as me. Since then I understand perfectly how it feels to be out of job, being the head of the family with no income, frustration, but yet they still need to give and set the course to direct the family…. And from then on, I decided to think like men, are not being dependent on a husband and determine which way to go about my life.

Now, I have experienced my second economic recession and to make things worse I am now the expatriate, working abroad. As a worker in a foreign country I am now a second (if not the third) citizen of that country and regardless of race, gender and other attributes when the company went bust, we are the first to go.

As usual, the construction industry was the first affected and unfortunately I am still working in this industry and an expat, foreign worker, in a foreign country, in Bahrain to be precise.

Although Bahrain is located in Arabia, a country renowned for the Petro Dollar …. But do not get it wrong, oil reserves in Bahrain are the lowest of all the GCC countries (Gulf Corporation Countries which includes: Saudi Arabia, Qatar, United Arab Emirates, Oman, Kuwait and Bahrain). Bahrain experienced its heyday ten + years ago. It’s now relying more on the tourism industry rather than income from oil and gas. Bahrain also relies on foreign investment to build the country. With this global recession Bahrain is trying survive. Even though there is construction going on, but it doesn’t mean that it runs smoothly and actively; as a matter of fact, for different reason, it runs very slow and eventually it will stop indefinitely. My current project is included in the last category.

Back to the original discussion, about losing my job and thinking like a man. I suspected that sooner or later my job would be at stake, not only because my project might stop, but also the possibility of losing my job. The sensible thing to do is to hang on to my current job, as finding a new a job is not easy now. Everybody is looking for a job, and this applies worldwide, not only in Indonesia, just like what happened to me fifteen years ago in South East Asia.

To be honest, I don’t know what I should do, should I start looking for a job? If so, where should I look? In Bahrain or back to Indonesia or elsewhere may be? Should I think for myself or for the both of us, my partner and I? Could we both get a job in the same place? Does this mean ‘long-distance relationship?’ Do I have to think like women in general: “sitting pretty and do nothing…?” But that is not me, I am an independent Annie….

Nonton Bioskop di Bahrain

Hari Kamis malam di kota Manama, ibukotanya Bahrain mirip seperti hari Jum’at malam di Jakarta, atau sama dengan “Malam-Minggu”, bagaimana tidak, hari Kamis adalah hari terakhir dari minggu itu, dan Hari Jum’at sama dengan hari Minggu di Indonesia, semua kantor libur. Lalu apa bedanya dengan Jakarta? Dengan penduduk kota Manama yang kurang dari satu juta orang (Penduduk Bahrain hanya kurang lebih 1 750 000 orang saja, dan tersebar di beberapa kota kecil lainnya selain Manama), rasanya semua orang tumpah di Mall-mall yang ada, terutama Seef Mall (Mall dengan Cineplex yang memuat 20 theater dengan berbeda-beda ukuran). Padahal Mall ini bukan Mall yang terbaru atau yang terbesar di Bahrain.

poster The Proposal

poster The Proposal

Kamis malam yang lalu, berdua dengan partner saya, kami memutuskan untuk nonton film The Proposal di Seef Mall, film chick flick yang tidak istimewa sama sekali. Tapi, ketika saya membeli tiket film ini, saya agak heran, memasuki minggu ke empat, film “kacangan” seperti ini koq masih ada di theater besar (theater 6) dari Cineplex Seef Mall. Tempat duduk pilihan pun sudah tidak di bagian belakang lagi, tapi kami kebagian tempat duduk di tengah terhadap layar dari theater tersebut. Pada saat film hampir dimulai, ternyata theater nomor 6 ini penuh!

Lalu siapa saja yang nonton film seperti ini? kalau di Jakarta, pasti kebanyakan perempuan. Cowoq-cowoq akan menganggapnya ini film anak ABG, cengeng dan kurang macho…. Tapi rupanya tidak begitu di Bahrain ini. Memang, banyak juga anak-anak ABG yang menonton film ini, tapi bukan berarti yang sudah berkeluarga dan yang setengah baya seperti kami tidak menontonnya; dan juga bukan berarti bahwa ini khusus untuk perempuan. Bicara tentang ras, juga bukan berarti yang menonton cuma para expatriat bule dan Filipina yang kebarat-baratan, karena yang duduk persis sebelah kami, kebetulan adalah seorang laki-laki arab, setengah baya, lengkap dengan “dish-dash” nya, menonton sendirian dengan pop cornya… Semuanya kebalikan dari apa yang ada dibenak saya tentang orang arab dan penonton film ini. Dan jangan dikira dia tidak menikmati tontonannya, karena dia tertawa terbahak-bahak dengan lelucon film ini.

Keluar dari Bioskop, kegemaran menganalisa saya jadi kumat, saya jadi mengamati bahwa bioskop ini sangat ramai dan dari 20 theater yang ada, semuanya memainkan 20 film yang berbeda, dan bukan cuma film Hollywood saja, tapi film Bolywood, film Mesir dan sesekali film dari negara Filipina. Yang menonton pun dari segala kalangan, para expat bule dan para expat asia yang lain, termasuk orang-orang India, Filipina, dan tentunya orang Arab, tua dan muda.

poster "Defiance"

poster "Defiance"

Lalu film apa yang diputar dan bisa bertahan lama di layar lebar? Segala jenis film laku keras, film seperti “Fast and Furious” tentang kebut-kebutan di jalan raya, pasti laku keras dan bertahan sampai 5 minggu di Cinema. Film Sci-Fi seperti Star Trek yang premiernya pertama kali di Theatre (di eropa) adalah tanggal 7 Mei 2009, dan begitu juga pertama kali di Bahrain pertama kali di putar tanggal yang sama, bertahan di bioskop selama 9 minggu…. penuh terus!. Film drama serius juga bukan berarti tidak menarik, contohnya film Defiance, bercerita tentang bagaimana bangsa Yahudi bertahan dari pengejaran Nazi di jaman Perang Dunia Kedua di Eropa; film ini bertahan sampai dengan 8 minggu terus menerus – padahal (katanya) orang Arab benci sama orang Yahudi…? atau ini cuma yang di gembar-gemborkan oleh media masa???

Kembali ke masalah film yang ditonton, karena saya tidak menonton film Bolywood, atau film Mesir/Lebanon atau film Filipina, maka saya tidak bisa bercerita banyak tentang penonton film-film itu dan berapa lama film itu bertahan.

Saya kemudian teringat tentang lokasi Bahrain ini, yang seperti Singapura terhadap Indonesia, Bahrain juga tempat berliburnya orang-orang Saudi…. yang mana tentunya tujuan mereka bukan cuma bar dan niteclub saja (baca posting saya: “Alkohol Ban in Bahrain“) tapi juga tentunya Mall dan tontonan bioskop… maklum di Saudi Arabia, ga ada tuh yang namanya cineplex atau bioskop. Bioskop memungkinkan perempuan berada ruangan yang sama  dengan laki laki yang bukan muhrimnya… he he he, jadi kalo mau pacaran, mereka datang ke Bahrain…

Sekarang, setelah memasuki minggu ke 5, The Proposal, cuma sebuah film romantic-comedy, bukan film block buster atau sejenisnya, tapi masih diputar di Cineco Bahrain.

mn-090716-3

Al Areen’s Wild Birds

Primadona of the park

Some exotic birds are also there, and we could really walk between them, and of course took their picture… or better still maybe pose with them (if possible…)

This slideshow requires JavaScript.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 206 other followers

%d bloggers like this: