Posts tagged ‘about’
Media Sosial, perlukah?
![]()
Banyak komentar yang dilakukan orang terhadap mereka yang keranjingan sosial networking, terlepas dari itu sekedar memiliki profile Facebook , lalu Twitter atau bahkan blog yang lebih sulit dari Facebook. Pertanyaannya adalah: ‘apa perlu?’ terutama untuk mereka yang sudah setengah baya seperti saya ini.
Jangan lupa, sebagai manusia sosial kita semua punya naluri untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi, berbagi cerita. Penemu Facebook, Mark Zuckerberg, sangat peka akan hal ini. Itu sebabnya, menurut saya: Media Sosial itu PERLU, dan malah saya anggap penting.
Ini kronologi saya pertama kali membuka komunikasi virtual melalui jejaring internet:
1. Saya membuka akun Flickr, yang merupakan kumpulan foto-foto keluarga yang ditinggal (saya pindah ke Doha, Qatar); maklum waktu itu belum ada Facebook, maksudnya meskipun ‘jauh dimata, tapi saya tetap bisa melihat mereka’.
2. Dari koleksi foto kemudian berkembang menjadi cerita yang saya expresikan dalam bentuk Blog, maksudnya adalah supaya keluarga yang saya tinggal mengetahui apa yang terjadi pada diri saya.
4. Kemudian Facebook muncul dan dengan cepat menjadi trend. Sayapun membuka akun Facebook dan kemudian Ninstravelog Lenscape Photography, dengan harapan cerita saya bisa semakin menjangkau lebih banyak teman dan keluarga yang ditinggal, dan mendapatkan
5. Dari Facebook saya lalu memiliki profile di media yang lainnya, seperti Twitter, Foursquare, Instagram, Tumblr dan masih terbuka untuk terus bertambah.
Dengan memiliki banyak akun di berbagai sosial media, bukan berarti saya ingin pamer dan cuma saya saja yang ingin bercerita. Semua media sosial itu adalah interaktif; “Saya bercerita, anda mendengarkan dan berkomentar” sehingga mereka yang ditinggalpun bisa berkomunikasi melalui ‘social media’ tersebut dengan berbagai cara.
Apa hasil dari usaha saya tersebut?
1. Flickr: tidak ada respons, media ini kemudian menjadi tempat saya menyimpan koleksi foto saya tanpa ada yang peduli. Bahkan adik saya yang seyogyanya juga seorang Photography enthusiast, dia tidak peduli untuk melihat apalagi memberi komentar pada hasil jretan saya.
2. Blog saya berkembang dari mulainya hanya tulisan melulu, sekarang menjadi cerita dan foto-fotonya, harapan saya untuk menjangkau keluarga, relasi, teman dekat dan teman dari teman mungking, tidak pernah tercapai. Dari dua adik saya, hanya satu yang cukup ‘rajin’ berkomentar – dari hampir 300 post, dia berkomentar pada sekitar 20 diantaranya.
3. Facebook mungkin memiliki ranting sukses yang lebih baik. Saya memiliki ‘friend’ lebih dari 300 orang dan masih ada kemungkinan bertambah. Saya memang tidak banyak mempublikasikan komentar yang provokatif dan memberikan respons yang meledak. Tapi saya cukup banyak memberi komentar pada orang dan melihat profile keluarga/relasi/teman dan melihat kabar mereka. Terus terang hasilnya tidak cukup membuat saya sibuk dengan Facebook. Salah satu adik saya memiliki lebih dari 1200 orang yang membuatnya terlalu sibuk dengan teman2 nya, tidak akan punya waktu untuk kakaknya, Adik ya yang lain, anti sosial, temannya tidak lebih dari 50 orang.
4. Nasib akun sosial media saya yang lain, seperti Twitter, Foursquare, Tumblr, Instagram, 500px dll, tidak ada yang seberhasil seperti Facebook memang, tapi saya tetap berceloteh melalui media foto, media blog, dan bahkan melalui geotagging media, seperti Foursquare, Flickr dan Foodspotting.
Kenyataan yang sebenarnya:
Dari ratusan cerita dan foto yang saya upload melalui media sosial, rasanya tidak semua dibaca oleh orang yang saya tuju; meskipun begitu, saya tetap menulis dan berceloteh. Apabila terjadi sesuatu dengan saya, dan mereka yang ditinggal kehilangan jejak saya, sosial media ini legacy saya; jangan salahkan saya dan mengatakan saya tidak pernah bercerita….
The boring bit…

I am not a good writer, and never was, but picture this: sitting behind my laptop, day dreaming and typing my head off or my heart away… that was my idea of an ideal job, day dreaming, just like Carrie Bradshaw… (don’t I wish…)
Ok, I like traveling, that means I can write about my travels… Oh I also like to take photographs, not always good but better than nothing. However, my day job makes me an expat, so that’s another story to tell.
Not really as a traveler, as I don’t travel all the time. But I live away from home and now I am confuse, where is “home”. So this is me, Nin’s Travelog, my travel journal where I blog about my expatriation experience, my travel and where I post my travel photos.
Another handicap, English is not my first language that is why this blog is a ‘dual language’ blog. In my native language, Bahasa Indonesia or the proper English term is Indonesian: iBlog and in English eBlog. To work around my not so good English, I will post lots of pictures, as they say, “a picture worth a thousand words….
Stay tune….

seasoned traveller
The traveler sees what he sees the tourist sees what he has come to see – Gilbert K. Chesterton
Ada banyak cara untuk melakukan Traveling, atau bahasa indonesian adalah jalan-jalan, ada yang berupa kunjungan wisata, dan ada juga yang berupa setengah migrasi setengah wisata…. yaitu ber”wisata”dengan jangka panjang. Hal yang terakhir ini lah yang saya lakukan sekarang.
-
Paling tradisional dari Jalan-jalan adalah ber-wisata ke suatu tempat, untuk jangka waktu yang singkat saja, beberapa hari saja. Aktifitas utama tentunya mengunjungi tempat-tempat yang khusus disediakan untuk para wisatawan asing. Aktivitas lain yang adilakukan adalah berbelanja. Dengan cara berwisata seperti ini, kita hanya mengunjungi ruang tamunya saja, tanpa tau seluk beluk tradisi dan budaya local terlalu dalam. Kita pun tidak terlibat pada kebiasaan sehari-hari atau pun harus beradaptasi dengan kebiasaan local. Disini kita Cuma sebagai tamu saja.
- jalan-jalan sambil berbisnis – biasanya ini juga hanya dalam waktu singkat saja. Apa yang didapat dari “perjalan bisnis”seperti ini adalah melulu kepentingan bisnis, tanpa ada waktu untuk benar-benar berwisata menikmati jamuan local. Malah mungkin saja kita Cuma tau hotel dan tempat berlangsungnya transaksi bisnis.
- Jalan-jalan sambil belajar. Contohnya adalah kalau kita berdomisili di Jakarta dan kuliah di Bandung misalnya. Dengan cara ini kita mengenal kota lain, selain kota Jakarta. Dan karena lamanya tinggal di Bandung, mau tidak mau kita berinteraksi dengan penduduk setempat dan berbicara serta mungkin beradaptasi dengan kebiasaan local orang bandung. Contoh sederhana adalah kemampuan berbahasa sunda setelah beberapa tahun jadi mahasiswa di Bandung misalnya.
- jalan-jalan sambil bekerja, yang terakhir ini seperti jalan-jalan sambil belajar, hanya saja tekanan dan interaksi dengan kebiasaan local berbeda. Dalam bahasa inggris yang terakhir ini namanya bukan Tourist, tapi Expatriate. Kita bekerja di tempat ini sambil melakukan wisata setempat, dalam waktu yang panjang. Interaski kita dengan kebiasaan local lebih dalam, dibutuhkan adaptasi yang lebih banyak dari pada sekedar berwisata seperti point 1
Sikap kita pun untuk melakukan traveling bisa berbeda-beda. Bisa cuma melulu menikmati tempat yang kita kunjungi dan menghabiskan uang kita disana, bisa juga dengan memper-hatikan, mengamati, atau malah tinggal dan menjalani kehidupan lokal dari tempat tersebut. berikut ini cerita saya dari catatan perjalanan yang saya lakukan selama ini.
Sekarang ini jalan-jalan saya adalah sebagai expatriate, saya menjalaninya secara berbeda dengan turisme biasa.
Ini adalah negara-negara yang pernah saya kunjungi:
Cerita-cerita dan tip perjalanan saya di muat dalam Kategori
- Traveller’s Tale khusus pengalaman saya tentang traveling yang saya lakukan selama ini dan
- Traveller’s Tipuntuk pengalaman saya mengurus dokumen perjalanan dan segala hal yang berhubungan dengan persiapan sebelum traveling
Ini adalah peta tempat-tempat yang pernah saya kunjungi:
- Buat peta perjalanan anda travel map atau travel blog
- Untuk info tentang perjalanan pada TripAdvisor
Ada peta perjalanan saya yang lain yang dilengkapi dengan foto-foto dari iMap
Awalnya, Ini Cerita Saya
Time is a companion that goes with us on a journey. It reminds us to cherish each moment, because it will never come again. What we leave behind is not as important as how we have lived…”
Begitu kata Captain Jean-Luc Picard, “Star Trek: Generation” – (actor Patrick Stewart)
Jadi inilah ceirta dari: “how I have Lived…”
August - 2005
Terdampar di negeri petro dollar, hobby saya adalah jalan-jalan dan saya pikir ada banyak cara untuk melakukan “jalan-jalan” atau yang dalam bahasa inggrisnya: traveling.
Dimulai dengan berangkat sendirian ke Arabian Gulf… bukan di Saudi loh. Tulisan ini saya buat dalam kesendirian saya di rantau, pengalaman, pengalaman, dan uneg-uneg dan semuanya tidak lepas dari pandangan saya sebagai orang Indonesia yang cinta pada Indonesia, disamping sedih dengan kondisi yang semakin ketinggalan dari negara-negara lain. Dengan berbagai pengalaman dan uneg-uneg ini saya berharap bahwa blog ini bisa membantu mereka yang ingin melakukan expatriasi, pndah dan bekerja di Luar Negeri.
Dengan bekerja di rantau ada banyak yang bisa dilakukan, termasuk penghasilan saya yang memungkinkan saya traveling ke tempat-tempa tyng berbeda selain pulang kampung. Pada photoblog saya, saya juga bercerita melalui gambar apa yang saya lihat tentang perjalanan saya. Bayangkan kalau saya tetap kerja di Indonesia, saya cuma akan jadi jago kandang dan tak mampu melihat dunia luar….
Maunya semua blog ini dibuat secara rutin seminggu sekali, atau minimal sebulan sekali. Tapi karena satu dan hal lain, rutinitas tak bisa terjamin.
Anyway, please drop a few lines as that might inspire me to write more….. I will really appreciate that.
































