Posts tagged ‘accommodation’
The Cemagi Residence
I wrote about visiting Bali and what to see last year, but I didnt write anything about my visit to Bali itself last year. The truth is, when visiting a new exciting place with young kids under 3, it is better to enjoy the hotel facilities and have fun there. Yes, we can go out for lunch but not very often. Holiday style will not be very active, but its a good idea to stay in a place that offers plenty of activities for the kids.
We decided to stay in Cemagi Residence, an independent villa near the sea, but away from the razzmatazz of nightlife of Kuta or Seminyak (the in-place for party animal tourists)
Location of this place is around 45 minutes from Seminyak, or on a busy road, it could take 2 hours from the airport. A bit isolated and was difficult for us to get daily supplies; we needed a car to get all the provisions, however, as this was a proper villa to rent, the very nice staff offered us the facilities to buy our daily needs from the local shop every morning.
When we reached the place for the first time, we felt that it was very far and long way into the ‘interior’ of Bali, which in reality is not true. The problem was to go there was through a bit of rice field and a number of small villages.
The main entrance gate was small, just as wide as a car width, less than 2.4 meters, and after a longish drive in seemed even smaller, the front porch as well as the entrance to the house was not that impressive. I was a bit disappointed when I saw the entrance, what could it be once we are there, it might be an overpriced accommodation….

An uninteresting hall way lead us to this garden, with direct view to the sea
But once we were passed the foyer, straight away we looked at big garden, the swimming pool, the sunken sitting area and the view overlooking to the sea…. It really blew our minds, the place was simply amazing, brilliant. Just right for us to unwind for a week and we didn’t need the noisy Kuta or Seminyak to enjoy our stay in Bali.
Cemagi Residence consisted of 3 double bedrooms, a media room, swimming pool that one can swim laps as well as enjoy the infinity edge that reached out to the sea.
Dining room and a sunken relaxing area is also part of the facilities of the villa.

Lap pool with breathtaking view towards the sea

Dining room that seats 10 people
What I liked most was that it still had a good expanse of grass that we could play Frisbee or even mini football with our grand children.

the grass area to play Frisbee on.
In addition to that it had an extra gazebo at the end of the property that overlooked the Mengening beach, where we could sit all afternoon quietly waiting for the sunset to fall without having to go to any razzmatazz public beach like in Kuta or Seminyak or Ku-deta or other similar places.

Gazebo at the edge of the property

The view from the Gazebo of Cemagi Residence: Sunset at Mengening Beach
For further information:
Cemagi Residence
Jalan Pantai Mengening Cemagi,
Desa Cemagi -Mengwi-Canggu,
Reservations: info@cemagiresidence.com
Apartment in Doha
My experience as an expat in Arabia is that the company always provides the accommodation. An apartment is provided and it is up to me whether to share it with a flat mate or just live by myself. The problem is the standard of living we want to have, whether the accommodation provided is up to our standard or maybe beyond our normal standard.
Off course, there are different ways of looking at it; just accept what the company has provided good or bad, and get on with it as this is only a ‘temporary place’, before moving on to another place, another company, and even another country before going home; or as we are living in a hardship location (that is separate from our love ones and in a foreign country, less facilities etc) we deserve Read more…
Pindahan
Kurang dari setahun yang lalu saya melakukan pengepakan besar-besaran; dalam rangka pindahan. Ini bukan cuma pindah rumah atau pindah kota, tapi pindah negara; dari Qatar ke Bahrain. Total sekitar 500 kg sampah…. atau mungkin lebih tepat “personal effect“, isinya segala macam barang, kecuali furniture yang berhasil kami kumpulkan selama tiga tahun tinggal di Doha. Saya pun kemudian membongkar semuanya segera setelah kami tiba di Manama, dan berharap kami akan tinggal di sini minimal lebih dari tiga tahun.

suasana di kantor
Kami belum sempat benar-benar mengenal Bahrain, walaupun sedikit-sedikit kami mulai mengenal tempat-tempat menarik dan layak di kunjungi di, ketika tiba-tiba saja kami harus pindah lagi dan berkemas-kemas lagi untuk kembali pindah ke Qatar…. Yah, inilah nasib expat, kami tidak tau apa yang akan terjadi pada kami besok, kami tidak bisa melakukan rencana jangka panjang…. dalam waktu kurang dari seminggu sesuatu bisa saja berubah 180 derajat, tanpa bisa mempersiapkan apa-apa.

koridor di kantor
Sialnya saya kali ini tidak cuma harus berkemas-kemas di rumah, di kantor pun saya harus melakukan pengepakan. Proyek tempat saya bekerja selama kurang lebih 10 bulan terakhir ini habis. Klient kami bukan hanya memberhentikan kontraktor yang mengerjakan proyek ini, tapi juga memberhentikan kami sebagai konsultan yang bertugas mengawasi pekerjaan kontraktor dan semua yang terlibat dalam pembangunan proyek kota baru di tengah padang pasir Bahrain ini. Jadilah sayapun melakukan pengepakan dirumah dan di kantor; tidak seperti ketika saya masih di Doha, pengepakan dilakukan pelahan-lahan selama dua bulan. Di rumah saya cuma punya waktu tiga minggu sebelum saya harus meninggalkan Bahrain, dan di kantor lebih gila lagi, 2 hari saja sebelum “mover company” mengangkut barang-barang tersebut dari bedeng kemabli ke kantor pusat.
Dipihak lain kantor Bahrain juga agak terlalu bersemangat “mengusir” saya. Sebelum kami di instruksikan untuk mengemas seluruh bedeng, saya dipanggil oleh boss saya, dan kapan paling cepat saya bisa pindah ke Qatar…. Memang saya seyogyanya bersyukur, karena pekerjaan selalu menanti untuk saya, dan saya tidak sempat menganggur; tapi di satu lain pihak, saya tidak bisa bernafas…, (mungkin ada baiknya saya pindah profesi jadi “professional packager.” ) Tapi karena saya cuma pegawai biasa, saya harus menurut saja, dan menyesuaikan diri pada saat kantor kantor pusat menginginkan saya untuk segera pindah. Saya minta waktu tiga minggu sebelum saya benar-benar pindah ke Doha dan dua minggu di antaranya adalah cuti untuk pulang ke Indonesia… Artinya saya cuma punya waktu 1 minggu saja untuk benar-benar beres-beres dirumah, dan mengepak semuanya masuk kotak sebelum saya benar-benar pindah ke Qatar.

suasana di rumah
Gaya hidup seperti ini benar-benar berbeda dengan hidup normal orang biasa yang tinggal di satu tempat hampir seumur hidup mereka. Orang-orang itu benar-benar mengetahui kota mereka tinggal luar-dalam, mengenal tetangganya dengan siapa mereka tumbuh menjadi besar dan tua bersama, mereka menyaksikan perubahan yang berlangsung secara lambat dari lingkungannya…. Sementara itu kami, seperti layaknya kaum Gypsy saja, atau mungkin lebih tepat suku Beduin, yang nomaden berpindah pindah tempat di padang pasir …..
Packing Again…
We haven’t seen all of Bahrain yet, even though we are gradually getting to know the places, even though we haven’t been to all the interesting places in Bahrain yet, and suddenly we need to pack all that crud again and go back to Qatar…. Well, we have to face it, this is expat life, you really don’t know whats going to happen to us in the near future.
To make things worse, not only do I have to pack for ourselves, I also have to pack for the project I’ve worked with for the last 10 months. Yes, as our client was not only terminating the contract but also stopped the project; those who were involved with the project had to pack up. Thus I ended up packing up in the office and packing up at home, and instead of packing for 2 months like I did in Qatar before we moved to Bahrain, this time I only have 2 days to pack up everything from our porta-cabin back to the head quarters office.
I think the Bahrain office was too eager to get rid of me! I was called in by my boss, asking when I could start to work in Qatar again. Logically, as there is nothing to hold me back in Bahrain, as the project had stopped and packed up. I should be flexible and should agree to be transferred as soon as possible. But then I was thinking of getting my annual holiday as well, thus I thought it would be better that I changed my holiday plans, from end of the year holiday to next week before I move back to Qatar. Means I only have more than 2 weeks to pack up everything at home for Qatar
This kind of life is really different compared to a normal life for other people who live in the same place for most of their life. Knowing their city, their neighborhood like the back of their hands, being witness to the slow changes that happen within their surroundings. For us expats, our life will be very dynamic and different all the time. We are like Gypsies… or maybe like the Bedouin… moving around from place to place in the desert.
Rutinitas di Tempat Baru
Bekerja sebagai expat ada enak dan tidak enaknya. Enaknya adalah pada saat pindah pekerjaan ke negara baru, maka kantor akan menyediakan fasilitas layaknya seperti liburan. Yaitu:
- Tinggal di hotel (minimal hotel bintang 4) sampai saatnya harus pindah ke fasilitas akomodasi yang sebenarnya. Artinya sarapan pagi dan laundry ditanggung oleh kantor… hmm meringankan pekerjaan rumah!
- Fasilitas antar-jemput selama belum punya kendaraan sendiri
- Uang saku yang lumayan untuk keperluan sehari-hari diatas perhitungan gaji yang akan dibayarkan di akhir bulan.
Fasilitas ini serasa sebagai liburan yang dibayarkan oleh kantor, tanpa harus memikirkan hal-hal yang lain; dan secara kontrak fasilitas ini di berikan selama satu bulan.
Kenyataannya memang untuk minggu pertama hal ini enak saja, tapi selama itu juga saya tetapi harus memikirkan hal-hal besar yang lain:
- Mencari apartemen/rumah untuk tinggal di tempat baru ini, karena kantor tidak membiayai saya untuk tinggal di hotel selama-lamanya.
- Mencari mobil sewaan sebagai alat transportasi sehari-hari, karena lokasi kantor ternyata tidak di kota, dan tidak ada kendaraan umum yang bisa mengantarkan saya ke tempat kerja. Sialnya fasilitas antar-jemput kantor di Kantor cabang Bahrain ini cuma berlangsung untuk hari pertama saja.
- Eksplorasi tempat baru, seperti dimana toko/supermarket yang cocok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena beberapa supermarket target pasarnya untuk orang-orang tertentu, misalnya sangat berbau Arab, atau India (tanpa maksud menjadi rasis, tapi saya masih cari bumbu kecap sebagai penyedap makanan…).
- Membuat kartu identitas diri (di Bahrain namanya CPR, di Qatar namanya RP, dan di negara lain istilahnya lain lagi), yang artinya mengalami proses periksa kesehatan, photo, tanda tangan dan cap jari.
- Membuat Bank Account agar supaya kantor dapat mentransfer gaji pertama dan apabila dibutuhkan membuat kartu kredit. Kemudian tentunya
- Mencari tahu cara mengirim uang ke Indonesia, dan yang terakhir adalah
- Melapor ke kedutaan/konsulat Indonesia, supaya gampang untuk pulang ke Indonesia nantinya.
Percaya atau tidak, semua itu makan waktu lebih dari sebulan. Dua minggu pertama, saya berhasil menyelesaikan dua hal: Sewa mobil, dan Sewa apartemen. Entah mengapa, saya membutuhkan waktu hampir 2 bulan untuk memperoleh CPR, padahal tanpa CPR saya tidak bisa membuka account di Bank, menerima gaji dan juga mengirim uang ke Indonesia. Dengan kata lain, uang saku (perdiem) yang tadinya sebagai bonus pindah kerja, malah jadi sangat penting…. dan harus bisa bertahan untuk hidup lebih dari satu bulan!!!
Pindah kantor yang tadinya seperti liburan gratis, malah jadi lebih susah daripada normal!




































