Skip to content

Posts tagged ‘cultural shock’

What a Joke!

Hosting an international game is hard as the organizer is under the scrutiny of the public eye. After saying that, Qatar, a small country of 1.5 million population and 11,571 km sq. in land area will be hosting the most popular game on earth in 2022: the FIFA World Cup. This will not be an easy quest, however, Qatar has 10 years to practice to be a good host the way London proved this year by hosting 2012 Olympic Games.

Below is one of the many practice matches that Qatar will have until D-Day, as described by my office colleague who is a football freak and went to see a qualification football match between Iraq and Australia in Doha. The above was the title of his story, which I only copy paste from his email to us:

“Went to watch the Socceroos play Iraq last night – what a joke!

Empty Stadium

It must be the emptiest stadium I’ve ever visited for an international football match (refer attached) – even when Malta play San Marino, there’s more people than that! Official attendance was a mere 2183! It felt like security outnumbered fans!! They even had this enormous anti-riot armoured tank outside the stadium. God knows what for! Maybe they thought we were all hooligan poms?!!

Mind you, they decided I was a hooligan as I got chucked out for a couple of minutes coz I was a very naughty boy & spat water out of my mouth when one of the Ozzies carrying a blow-up kangaroo had me in stitches. After all, I do look exactly like a hooligan Geordie, don’t I??!!! (They let me back in 30 seconds later!!)

The Oz fans were made to sit in a corner at one of the far ends, so our view wasn’t great. But I would think there were more of us than Iraqis, which I thought was surprising. When a bunch of Ozzie kids (5 to 10 year olds!) were playing/running around & climbing the handrails in front of the riot squad (!), they promptly sprung into action & used their walkie-talkies to get some reinforcements (2 more!), then insisted with the Oz parents that their children were not allowed to act in such a threatening manner!!! Boos from the Oz crowd then erupted!

Standard of services was pathetic. To go to the loo, you had to exit the stadium through the turnstiles then walk around to the men’s somewhere around. The food outlet was also outside. AND useless! One Oz fan decided to buy the only box of Gulfa plastic-cup water that they had for sale on a free-standing table to be able to distribute it to the rest of us. After that, THEY RAN OUT!!! And that’s with a grand total of 2183 people. Other than that, they were only selling twistees & crisps!!

Then, traffic after the match was horrendous. And that’s with an attendance of 2183! Does not augur well for the World Cup!!!

The game itself was quite boring & only got interesting in the latter half of the 2nd half. Most Ozzies got bored & were just having a social chat while the game went on. It was only after we went a goal down that the Socceroos & the Ozzie fans lifted. In the end, the better team won, but as usual we did it the hard way.

Regards,

Hooligan-On-The-Loose”

Rutinitas di Tempat Baru

Bekerja sebagai expat ada enak dan tidak enaknya. Enaknya adalah pada saat pindah pekerjaan ke negara baru, maka kantor akan menyediakan fasilitas layaknya seperti liburan. Yaitu:

Pindahan

Pindahan

  •  Tinggal di hotel (minimal hotel bintang 4) sampai saatnya harus pindah ke fasilitas akomodasi yang sebenarnya. Artinya sarapan pagi dan laundry ditanggung oleh kantor… hmm meringankan pekerjaan rumah!
  • Fasilitas antar-jemput selama belum punya kendaraan sendiri
  • Uang saku yang lumayan untuk keperluan sehari-hari diatas perhitungan gaji yang akan dibayarkan di akhir bulan. 

Fasilitas ini serasa sebagai liburan yang dibayarkan oleh kantor, tanpa harus memikirkan hal-hal yang lain; dan secara kontrak fasilitas ini di berikan selama satu bulan. 

Kenyataannya memang untuk minggu pertama hal ini enak saja, tapi selama itu juga saya tetapi harus memikirkan hal-hal besar yang lain: 

  • Mencari apartemen/rumah untuk tinggal di tempat baru ini, karena kantor tidak membiayai saya untuk tinggal di hotel selama-lamanya. 
  • Mencari mobil sewaan sebagai alat transportasi sehari-hari, karena lokasi kantor ternyata tidak di kota, dan tidak ada kendaraan umum yang bisa mengantarkan saya ke tempat kerja. Sialnya fasilitas antar-jemput kantor di Kantor cabang Bahrain ini cuma berlangsung untuk hari pertama saja. 
  • Eksplorasi tempat baru, seperti dimana toko/supermarket yang cocok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena beberapa supermarket target pasarnya untuk orang-orang tertentu, misalnya sangat berbau Arab, atau India (tanpa maksud menjadi rasis, tapi saya masih cari bumbu kecap sebagai penyedap makanan…). 
  • Membuat kartu identitas diri (di Bahrain namanya CPR, di Qatar namanya RP, dan di negara lain istilahnya lain lagi), yang artinya mengalami proses periksa kesehatan, photo, tanda tangan dan cap jari. 
  • Membuat Bank Account agar supaya kantor dapat mentransfer gaji pertama dan apabila dibutuhkan membuat kartu kredit. Kemudian tentunya
  • Mencari tahu cara mengirim uang ke Indonesia, dan yang terakhir adalah 
  • Melapor ke kedutaan/konsulat Indonesia, supaya gampang untuk pulang ke Indonesia nantinya. 

Percaya atau tidak, semua itu makan waktu lebih dari sebulan. Dua minggu pertama, saya berhasil menyelesaikan dua hal: Sewa mobil, dan Sewa apartemen. Entah mengapa, saya membutuhkan waktu hampir 2 bulan untuk memperoleh CPR, padahal tanpa CPR saya tidak bisa membuka account di Bank, menerima gaji dan juga mengirim uang ke Indonesia. Dengan kata lain, uang saku (perdiem) yang tadinya sebagai bonus pindah kerja, malah jadi sangat penting…. dan harus bisa bertahan untuk hidup lebih dari satu bulan!!!

Pindah kantor yang tadinya seperti liburan gratis, malah jadi lebih susah daripada normal!

Kelemahan Tenaga Kerja Indonesia

Salah satu cara mengatasi pengangguran di Indonesia yang mencapai lebih dari 15% itu adalah dengan mengirimkan tenaga kerjanya ke Luar Negeri, menjadi TKI dan TKW adalah salah satu caranya…. Mau tidak mau, mereka sebenarnya adalah pahlawan Indonesia di Luar Negeri.  Sayangnya pada saat mereka pulang ke Indonesia, perlakuan terhadap mereka adalah sangat tidak adil….

Diluar itu semua kalau kita mau melihat mereka dari sisi yang lain, sebenarnya nasib mereka adalah buah simalakama… pulang ke Indonesia di siksa, dan hidup mereka di rantaupun menjadi “siksaan” untuk mereka dan orang-orang yang terlibat…. Pertanyaannya adalah mengapa bisa begitu? Ada banyak faktor:

  1. Kurangnya persiapan dari Indonesia untuk “pengenalan-pertama” mereka di luar negeri sering kali membuat mereka pun menjadi frustrasi dan akibatnya mereka melakukan kesalahan dan menyulitkan banyak orang, dari mulai agennya, orang disekitarnya, sampai mereka sendiri.
  2. Cultural Shock, mereka yang bekerja sebagai TKI dan TKW adalah mereka yang datang dari kampung dan tidak pernah ter expose oleh budaya lain… dan sekali keluar dari tempurung, langsung berbeda sama sekali… tak pelak lagi mereka tidak cuma bingung, tapi juga shock; dari mulai kebiasaan sehari-hari, adat istiadat sampai masalah yang lain-lain
  3. Masalah Pendidikan. Definisi TKI/TKW ini bisa banyak artinya, tapi pada umumnya adalah tenaga kerja kasar, umumnya mereka cuma menjadi buruh, baik itu kuli bangunan, perkebunan ataupun pembantu…. lebih baik dari ini adalah mereka yang mengalami sekolahan sedikit. Tapi yang paling menyedihkan nasibnya tentunya adalah yang kurang pendidikan, mereka maksimum cuma sampai SMP saja, tapi cukup berani untuk bekerja di Luar Negeri.
  4. Masalah Bahasa. Harus di akui bahwa pengertian terhadap bahasa asing, terutama bahasa Inggris adalah sangat penting…. yang menjadi aneh untuk saya adalah bagaimana bisa Indonesia mengirimkan TKI/TKWnya tanpa pengertian terhadap bahasa Inggris. Memang pada saat sampai di tujuan (di arab misalnya) lulusan madrasah itu mungkin “bisa” survive dengan majikannya, karena majikannya orang Arab, tapi bagaimana selama perjalanan menuju Arab sana? Bagaimana interaksi mereka di luar rumah majikannya?

Kelihatannya masalah tersebut tak banyak, tapi itu semua masalah besar yang kalau di rinci secara detail dapat membuahkan bahan tertawaan, memalukan dan bahkan cerita sedih.

Akibat terbesar dari kelemahan tersebut diatas, disamping membuahkan cerita sedih tentunya juga berpengaruh kepada harga jual buruh indonesia, di mata international tenaga kerja indonesia termasuk tenaga kerja paling murah di dunia….

Kesalahan Teknis

Pada blog saya terdahulu, saya bercerita tentang penyambutan gaya Middle East yang jauh berbeda dengan gaya Singapore atau gaya Indonesia. Ini semua kan kalau berjalan dengan lancar. Lalu bagaimana apa bila terjadi kesalahan teknis, dan penjemputan tidak terjadi…. apa yang harus kita lakukan dalam situasi seperti ini? Berikut ini saran saya kalau terjadi kesalahan teknis:

  • Tukarkan uang yang sekitar $200 sampai $300.- itu di airpor dengan uang lokal, yaitu Qatar Riyal. Dan ini dihargai sekitar QAR 360,- untuk setiap $100.
  • Uang ini lebih dari cukup untuk membayar taksi dari airport ke tempat tujuan (ada surcharge untuk airport taksi keluar dari airport sebesar QAR 20.- dan lalu meter taksi berputar setiap 100 m seperti layaknya di Jakarta.
  • Tindakan pertama tentunya adalah menelpon ke “contact person” yang menghubungi kita melalui email. Apabila sampai dia tidak mencantumkan nomor teleponnya yang bisa dihubungi, maka kita harus menanyakan nomor teleponnya sebelum  berangkat meninggalkan Jakarta. Pastikan bahwa kita mendapatkan nomor kantor dan nomor telpon sel nya. (untuk nomor mobile, dimulai dengan angka 5 atau 6 dan untuk nomor PSTN dimulai dengan angka 4)
  • Tindakan ke dua tentunya adalah booking hotel dari airport. Di doha airport, sesudah baggage check dan keluar, ada deretan counter hotel-hotel bintang 5 yang menerima bookingan dari mereka yang baru tiba di Doha. sekedar untuk informasi saja, uang $300 hanya cukup untuk menginap di hotel bintang 4 selama semalam saja. Jadi pastikan bahwa kita berhasil menghubungi kantor dalam waktu kurang dari semalam. sehingga tidak perlu booking hotel sama sekali. Alternatif lain tentunya adalah membooking hotel tersebut dengan credit card yang dibawa dari Jakarta.

Tapi sebenarnya kita tak usah terlalu ketakutan dengan “kesalahan teknis” seperti ini, karena rasanya apabila pegawai baru datang, semua system siap dengan penerimaan ini semua. Termasuk diantaranya adalah alokasi komputer untuk bekerja. Artinya masalah penjemputan dari airport adalah hal umum dan rutin.

Setibanya di Doha

Pada posting saya yang lain, saya cerita tentang Persiapan Sebelum Berangkat, yaitu tentang apa saja yang harus dipersiapkan sebelum berangkat meninggalkan Indonesia untuk menetap dan bekerja di manapun itu minimal selama satu tahun. Persiapan mental, fisik dan material ini perlu, karena kita kan pindah ketempat lain untuk waktu yang cukup lama; tak cuma sebulan dua bulan, tapi minimal lebih dari 6 bulan.

Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang di harapkan penerimaan di ujung sebelah sana. Untuk mereka yang baru pertama kali ke luar negeri sendirian, pasti ada rasa kuatir… seperti apakah di negara ‘antah berantah’ itu? Apa yang harus saya lakukan pertama kali pada saat saya mendarat nanti? Harus kemana ? ada Custom Check yang harus di lakukan dll. Apalagi kita akan bekerja di negara tsb. bukan kunjungan wisata.

Seorang teman yang akan datang dan bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja sangat anxious menanti keberangkatannya.  Saya bisa mengerti sepenuhnya tentang ini; separuhnya dia pasti agak kuatir meninggalkan keluarga dan ketakutan kalau ada rasa kangen dan lain-lain, yang membuatnya ingin menunda keberangkatannya. Separuhnya lagi, ada ke kuatiran lain tentang penerimaannya di ”seberang sana”. Dalam tulisan saya terdahulu tentang Arab Hospitality sebenarnya sudah menjelaskan semua tentang pengalaman ”mobilisasi” saya dari Jakarta ke Doha. Tapi tentunya itu lebih dari 2 tahun yang lalu, yang mana sekarang mungkin sudah banyak berubah.  Berikut ini adalah prosedur baru untuk pegawai baru:

  • Beberapa hari sebelum berangkat, perusahaan meng email visa kerja yang harus di tunjukkan pada perusahaan penerbangan pada saat check in di Jakarta – hanya sekedar proforma sajam, karena ini kewajiban carrier tersebut untuk menghindari kemungkinan mereka harus menerbangkan pulang penumpangnya yang tidak punya visa untuk negara tujuan
  • Termasuk dalam email tersebut juga adalah e-ticket pesawat kita, yang harus di tunjukan pada saat check in pada carrier kita… inilah yang menerbangkan kita dari Jakarta ke tempat tujuan…. Ini jaman sekarang, tahun 2008 tahun 2005 saya harus menunjukkan nomor booking saya di agen penerbangan di Jakarta, untuk mendapatkan tiket ini…. sekarang kita tak harus datang ke mana-mana, tinggal di print saja dari komputer di rumah….
  • Setibanya di Doha, ada agen penjemputan lain yang bernama Al-Maha, yang mengurus semua dokumentasi dll untuk melalui costum clearance supaya kita tak perlu repot2 lagi antre dipetugas imigrasi, dan menunggu bagasi kita keluar dari pesawat di “carousel”. Al Maha akan mengantarkan tamunya menunggu di VIP Lounge sampai semua urusan beres… dan keluar dari airport.
  • Diluar airport tentu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana pengangkutan dari airport ke akomodasi kita… Tak perlu khawatir, supir perusahaan sudah menunggu dengan membawa nama perusahaan… jadi pegawai baru ini tinggal meng identifikasikan dirinya pada supir tersebut.
  • Berbeda dengan pengalaman saya terdahulu, pada saat itu perusahaan belum punya tempat penampungan khusus untuk pegawainya yang baru datang, kali ini perusahaan sudah mempunyai akomodasi khusus untuk pegawainya yang berlokasi dimana-mana di Doha. Jadi pengalaman di jemput oleh limusin hotel tidak ada lagi… supir kantor akan langsung mengantarkan ke apartemen kantor.
  • Di akomodasi ini kita bisa beristirahat sebentar sebelum memulai ‘hidup baru’ di Doha dengan segala aktivitas rutinnya. Supir ini juga akan mengatakan kapan kita harus siap untuk di jemput untuk ke kantor ke esokan harinya atau sore itu juga…

Saya pikir pelayanan ini cukup mengamankan kita dari segala ke bingungan dan ke kuatiran di luar Indonesia, yang membuat kita kadang-kadang kurang percaya diri karena masalah bahasa, perilaku yang berbeda dari orang-orang yang bukan orang Indonesia sama sekali.

Diskusi Tentang Kulinari

Traveling atau jalan-jalan memungkinkan kita tak hanya melihat-lihat tempat baru, tapi juga menikmati makanannya. Itu sebabnya ada buku traveling tentang kulinari setempat. Dan saya tetap percaya bahwa bagian dari explorasi dan adventure kita adalah mencicipi berbagai makanan setempat dan mungkin saja bagaimana mereka menterjemahkan masakan internasional menjadi menu local.

Kemungkinan saya untuk bersosialisasi dengan penduduk setempat yang sangat terbatas, menjadikan saya harus mencicipi makanan local melalui restaurant setempat. Atau memanfaatkan kesempatan acara makan-makan perusahaan di hotel yang juga menyajikan menu local. Tahun ini, kantor kami, mengadakan acara Buka Puasa bersama – Iftar Buffet di Ramada Plaza. Ini acara tahunan. Tahun lalu acara ini hanya di adakan untuk pegawai yang muslim saja. Sayangnya saya tak bisa datang.

Dari undangan Iftar Buffet, diskusi di kantor kemudian berkisar tentang makanan ini. Dan karena teman sekantor adalah bukan orang lokal (qatar) dan juga bukan orang Arab – mereka orang Malaysia keturunan Tionghoa, dan orang Amerika keturunan Itali – tak bisa di hindari bahwa mereka lalu membandingkan dengan budaya kulinari kultur mereka, yaitu makanan cina dan makanan itali.

Mereka sangat bangga dengan makanan lokal mereka yang sangat terkenal itu, dan lalu membandingkannya dengan makanan yang akan mungkin disajikan di hotel tersebut serta membandingkannya dengan acara makan-makan yang di adakan sebelumya (bukan iftar buffet) di hotel yang berbeda. Untuk persiapan makan-makan dan menghindari kemungkinan yang tak diinginkan, rencananya mereka akan makan terlebih dahulu di rumah supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan dengan perut mereka pada saat acara iftar buffet ini….

Wah, lalu apa maksudnya, jauh-jauh datang ke Middle East lalu tak mau mencicipi kulinari local? Padahal disinilah bedanya, pengalaman memakan jenis makanan yang berbeda, dengan segala efek sampingnya…. Dengan begini kan kita bisa cerita tentang makanan lokal dan resikonya (kalo mungkin ada….) Karena kalo tak mencicipi yang seperti ini lalu apa yang mau di ceritain dong….? Layaknya jauh-jauh dateng ke negeri seberang, yang dimakan Cuma nasi padang melulu!

Apartemen Baru

Pertama kali saya tiba di Doha, adalah bulan pertengahan Agustus 2005. Ini adalah bulan paling panas di Arabia ini, dan percaya atau tidak suhu udara rata-rata adalah 50 derajal C, kelembaban juga lebih kering dibandingkan dengan di Jakarta, disampang itu sinar matahari juga sangat terang. Sudah bagus sekarang karena dengan teknologi seperti sekarang, semua bisa di lindungi dibawah atap dan ber AC.Mendekati musim dingin, suhu di luar bergerak menjadi semakin dingin.

Setelah tinggal di hotel selama seminggu (dari rencana selama satu bulan), perusahaan tempat saya bekerja lalu memindahkan saya untuk tinggal di perumahan sementara mereka, yang mereka berikan pada saya selama satu bulan, gratis, bebas dari biaya sewa. Apartemen ini terdiri dari 2 kamar tidur. Percaya atau tidak, disinilah saya mengalami “cultural shock.” Saya pikir untuk tinggal dan beradaptasi dengan lifestyle nya orang arab bisa bikin saya idiot.

Terus terang saya tak tau apakah saya harus komplen atau harus terima saja dengan apartemen baru ini, yang menurut saya lebih bisa digambarkan sebagai gua daripada sebuah apartemen. Bayangkan saja ruang/ruang keluarga, dan ruang makannya (atau yang biasa disebut

sala

) tidak memiliki jendela ataupun ventilasi untuk sirkulasi udara…. Ini betul-betul depressing, siang dan malam saya harus hidup dengan lampu. Yang lebih parah lagi adalah kalau kita tidak tau harus berbuat apa diluar rumah (karena terlalu panas dan belum punya teman) dan tinggal di apartemen adalah bukan solusi…

Kenapa kondisi apartemen saya seperti itu? Ini karena desain bangunan apartemen yang salah – maklum sebagai arsitek saya jadi kritis terhadap hal-hal seperti ini – Bangunan apartemen adalah terdiri dari koridor dan kamar-kamar menuju ke unit masing-masing, yang untuk bangunan saya terdiri dari 4 unit berderet-deret. Apabila unit apartemen adalah unit ujung, maka ada jendela sedikit di ruang tamu dan ruang makan, tapi kalau unit antara, maka jendela cuma ada di ruang tidur…. sisanya gelap lah….

Saya cerita uneg-uneg ini kepada teman sekantor yang sudah punya pengalaman tinggal di Arabia sini tapi mereka bukan orang Arab… dan jawabannya: “…… you have to adapt with the way people live here… do not expect to much, as way of living is also different…”. Sialan! Tapi mungkin saya harus terima aja kondisi seperti ini… dan terima pepatah inggris: “if you can’t beat them, join them…” artinya kalo ga bisa mengalahkan mereka, gabung aja dengan mereka….

Untungnya setelah lebih dari sebulan komplain melulu, bulan November saya dipindahkan ke apartemen yang lain. Desainnya masih tetap sama tapi ini “Penthouse” dan unit pojok. Artinya saya punya balkon dan bukaan di ruang keluarga saya… viewnya juga spektakuler, menghadap ke Corniche….

the best view you could ever asked

. Meskipun tetap masih tak ada ventilasi yang mencukupi untuk dapur dan kamar mandi….

Karena pindahan berlangsung bulan November, yang artinya adalah bulan-bulan musim dingin, penggunaan AC minimal, saya tidak banyak komplain dan rasanya ini adalah mewah….Tapi kemudian beberapa orang mengatakan bahwa tidak begitu ideal untuk tinggal di Penthouse…. “tunggu aja musim panas….”. Musim dingin memang antara 13C sampai 23C, tapi musim panas nanti? antara 40C sampai 50C, dan ini berlangsung selama minimal 4 bulan. Wah…

Percaya atau tidak 5 bulan kemudian, musim panas datang, semua menjadi sangat panas. Terlalu banyak bukaan/jendela menyebabkan panas, AC tidak cukup kuat untuk mendinginkan ruangan yang besarnya 7×4 meter, penthouse, lantai 11 adalah berita buruk, karena atap bangunan langsung ter expose dengan terik matahari. Tengki air yang terletak di atap beton langsung ter expose dengan matahari, airnya menjadi panas…. ga bisa dipake untuk mandi….

Mungkin inilah sebabnya Arab itu menyukai ketertutupan dan kerahasiaan, tak banyak jendela, ada ornamen (latice) didepan jendela, dan gordejn tuk jendela jarang dibuka… mereka rupanya ingin sembunyi dari cuaca yang ganas ini…

Berteman di Negeri Orang

Sebenarnya saya punya banyak cerita tentang kehidupan saya disini sebagai expatriat bujangan, yang mana oleh banyak orang di anggap sulit, karena hidup sendirian di negeri orang sangat sulit. Tapi belajar dari pengalaman yang saya dapat lebih dari sepuluh tahun yang lalu dan dari contoh orang-orang yang ada di sekitar saya, maka saya pikir saya harus bertahan dari segala cobaan.

Doha tentunya bukan tempat pilihan pertama sebagai orang indonesia untuk hidup di rantau. Tapi  apabila ini saya anggap sebagai batu loncatan, maka ini harus saya jalani saja. Segala keluhan yang mungkin terjadi harus di antisipasi, seperti rasa kesepian dan tidak punya teman; teruatama pada bulan-bulan pertama

Sesudah lebih dari satu tahun saya di Doha, saya pikir saya survive hidup di negara petro dolar ini… sedikit-sedikit saya mengembangkan sayap saya dengan teman-teman baru, Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 205 other followers

%d bloggers like this: