Skip to content

Posts tagged ‘food’

Makan Caviar di Bandara Heathrow

13-05-12 Caviar-3Kami tiba di Bandara Heathrow lebih dari tiga jam terlalu cepat, maklum penginapan terakhir jaraknya 2½ jam dari bandara. Setelah melakukan wisata lokal ke Salisbury, kami memutuskan untuk membuang waktu di Bandara saja. Dan karena kami menggunakan Emirates Airline, terminal yang digunakan di Heathrow adalah terminal 3, khusus untuk maskapai penerbangan lain selain British Airways dan dengan tujuan arah barat dari Inggris. Terminal ini tidak besar, dan dengan banyaknya maskapai asing yang menggunakan terminal ini, menjadikan terminal ini penuh dengan calon penumpang yang menunggu. Pesawat kami baru akan berangkat pukul 8.40 malam sementara itu kami sudah tiba di bandara sekitar jam 5 sore. Menghabiskan waktu di bandara dengan melakukan window shopping di duty free area yang sangat kecil dibandingkan dengan pengalaman belanja di Dubai Mall seminggu sebelumnya, duty free shopping ini sama sekali tidak berarti. Menunggu makan malam yang diberikan di pesawat akan terlalu lama. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di restauran yang bukan fast food, sekalian mengakhiri liburan ini dengan gaya.

macam-macam seafood

macam-macam seafood

Karena suami saya menyukai makanan laut, dan tertarik dengan seafood yang di pajang di etalase dari seafood bar yang berlokasi ditengah ruang tunggu terminal, kami lalu memutuskan untuk makan malam ringan di ‘seafood bar’ ini: ‘Caviar House & Prunier” Melihat dari lokasi dari seafood bar ini, sama sekali tidak eksotis, mirip tempat makan cepat saji (fast food) tapi cara menyajikannya sangat menarik. Saya lalu memutuskan untuk memesan makanan yang ‘agak’ eksotik :  ”signature menu” mereka: “Pourqoui Pas?”. Agak mahal memang, tapi kan kami mengakhirinya adengan GAYA.

'Sgnature Menu' mereka: 'Pourqouis Pas'

‘Sgnature Menu’ mereka: ‘Pourqouis Pas’

Tidak lupa kami juga memesan wine – white wine (anggur putih) sebagai minuman pelengkap untuk makan makanan laut.

3 tier tray, menyajikan caviar paling atas, ikan salmon mentah di tengah dan fish pate paling bawah

3 tier tray, menyajikan caviar paling atas, ikan salmon mentah di tengah dan fish pate paling bawah

Biasanya saya tidak begitu suka makan caviar – telur ikan, karena ini sangat amis, tapi ternyata cara makan caviar adalah dengan roti toast, bersama sejumput putih telur dan sejumput irisan bawang merah sebagai penyedap dan mengurangi rasa amis… hmmm rasanya bukan main, sedaap….

salmon mentah yang disajikan bersama irisan lemon, untuk mengurangi rasa amis

Salmon mentah yang disajikan bersama irisan lemon, untuk mengurangi rasa amis

Pengujung seafood bar yang lain melengkapi gaya makan mereka dengan champagne

Pengujung seafood bar yang lain melengkapi gaya makan mereka dengan champagne

Yang membedakan seafood bar ini tidak seperti tempat makan cepat saji atau restauran biasa adalah setelah makan kami di berikan coklat pencuci mulut sebagai komplemen dari seafood bar ini.

Coklat pencuci mulut

Coklat pencuci mulut

Yang kami tidak tau adalah bahwa di ‘darat’ restaurant ini adalah ‘speciality restaurant’ khusus makanan laut yang punya cabang di seluruh Eropa: “Caviar House & Prunier” memiliki seafood bar di banyak bandara di Eropa, Asia dan Australia, termasuk di Dubai dan Hongkong.

Ini alamat persisnya untuk Seafood Bar yang kami kunjungi:

chp-logo

Seafood Bar - London Heathrow – Terminal 3 LHR

Terminal 3 Airside London Heathrow Airport
TW6 1EB Hounslow, Middlesex
Phone: +44 (0)208 897 1332
info@caviarhouse-prunier.com

Jam buka: 6.30 – 21.30

Silahkan mencoba

Saturday Lunchtime

As a Middle East expat, I think we work harder than other expats who work in a ‘normal’ world. Yes, we work 6 days a week and at least a 50 hour week. And our break day is on Friday, not Sunday like the rest of the world. However, we play hard as well. Not only that we can have exotic holidays, but we also enjoy treats every now and then. I am lucky enough that I get the same deployment as my husband, so we work for the same company and in the same country. However, that doesn’t mean that we lead a ‘normal’ life. We left our families and relatives behind. Even though means of communication have never been so easy, I bet they still don’t understand what kind of lifestyle we are having out here.

Nevertheless, I keep on sending them pictures, through MMS facility, so that it reaches them instantly in their mobile phone, telling them whereabouts we are or what am I doing or even what I eat for lunch. What I didn’t realize was that how often I send them pictures of my food:

“So it seems that you never cook, you are always eating in a restaurant…” that was a reply from my cousin.

Other people even wrote on her Facebook status : “Somebody out there, STOP uploading food pictures on Facebook!”

I feel embarrassed with that remark, and I felt like I had too many treats of eating out too often, if its not always. Yes, I have to admit that I don’t cook, and as we can afford to eat out. Especially our Saturday Lunchtime. We like to have a special treat, having it in a hotel restaurant. Currently our favorite place to eat is at the Cellar Wine & Tapas.

Interior of The Cellar, very elegantly decorated

Interior of The Cellar, very elegantly decorated

A Mediterranean Tapas and Wine tasting place that is popular among the yuppies after hours. I will write more about The Cellar next week. but this is the food that we ate during our last two visits to this place.

Australian Black Angus Beef Medallions

Australian Black Angus Beef Medallions

Salmon Steaks on Green Asparagus and Saffron Sauce

Salmon Steaks on Green Asparagus and Saffron Sauce

And this is what we had today:

Mediterranean Seafood Mix served with Zucchini and Capers

Mediterranean Seafood Mix served with Zucchini and Capers

Grilled Hammour Fillets on Sauteed Spinach and Lemon Cream Sauce

Grilled Hamour Fillets on Sauteed Spinach and Lemon Cream Sauce

Café Yogya di Budapest, Mungkinkah?

Wong Jogja????

Wong Jogja????

Jawabannya, mungkin! Dan memang benar-benar ada.

Pertama kali melihat papan namanya terpampang di Octóber 6 Utcában, atau mungkin artinya di Jalan October 6, saya agak bingung, mungkin saja ini adalah salah satu nama a-la bahasa Hungaria yang tidak termasuk dalam rumpun bahasa inggris atau Germanic ataupun Rusia seperti Negara-negara eropa yang lain. Apalagi papan nama café ini tidak ber’bau’ Indonesia ataupun Jogya sama sekali.

Cafe Yogya

Cafe Yogya di Octóber 6 Utcában, Budapest

Kamipun berjalan cepat melalui café tersebut, karena tujuan kami tidaklah berkunjung ke café. Segera setelah kami melewati café tersebut, rasa penarasan saya mengalahkan ketetapan hati saya, dan kami berjalan kembali meskipun hujan gerimis dan dingin. hanya untuk melihat apa yang dijual oleh café ini.

Walaupun cafe tersebut kecil saja, dan tidak banyak ornamen khas Indonesia, tapi ada sedikit-sedikit sentuhan dekorasi interior ala Indonesia, seperti Ganesha yang menjadi pajangan di ujung  bar.

Patung ganesha diatas counter

Patung ganesha diatas counter

dan kain batik yang memisahkan antara ruang tamu dan dapur, khas gaya ‘warung’ di Indonesia.

Tangga keruang makan di atas

Tangga keruang makan di atas

Menunya, ah ternyata ini benar-benar menjual culinary Indonesia, seperti lumpia yang saya pesan ini:

Vegetarian Lumpia (spring roll?)

Vegetarian Lumpia (spring roll?)

Dan makanan favorit saya dan yang sudah menjadi makanan universal di dunia, bukan cuma di Indonesia:

Cafe Yogya

Nasi Goreng + Telur mata sapi

Apalagi yang pedas…. hmm lumayan untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan dari cuaca diluar…

Mereka bahkan punya Facebook Page nya Cafe Yogya, tapi sayangnya terakhir saya mengunjungi facebook pagenya, ada pemberitahuan bahwa Cafe ini tutup :(

Dari notification di Facebook, rupanya membuka restoran Indonesia/Yogya di Budapest ternyata tidak mudah….

Berarti itulah saat saya terakhir kali mengunjungi Cafe Yogya, dan kesempatan lain saya mengunjungi Budapest, mungkin tidak akan ketemu dengan restauran Indonesia lagi….

Jamie’s Italian in Bristol

When I planned to visit Bristol after a gap of 2 years I didn’t expect to see many changes.  So I was excited and glad to be visiting Bristol again as I remembered so many good things in the city that had impressed me especially the feel of being a university city, not as special as Oxford or Cambridge but plenty of students and some quality bookshops to enhance the city.

Other things to appreciate when visiting Bristol are the great and varied restaurants as well as a good supply of acceptable pubs.

This was only my second visit to Bristol so I went on the internet to look for a good restaurant.   Yes, there are award-winning restaurants in Bristol and plenty of other places, which seemed equally good to add to my confusion.  But then along the way, somebody recommended us to go to Jamie Oliver’s new restaurant.  She said it was very popular, even on weekdays, you cant make a reservation because they have a first come first served system in operation and with the advice to come early.

In the end and with so many restaurants to choose from, we went to Jamie’s Italian Bristol, located at the top of Park Street where the famous Blackwell’s book shop used to be, which was within walking distance from where we stayed.

I graded the restaurant ten out of ten for menu, quality of food, taste, interior design, atmosphere as well as corporate branding package.  For ambiance I gave it nine out of ten as the lighting is a bit too dark for me.   But I recommend Jamie’s Italian in Bristol for anybody visiting Bristol for a great meal and a good night out.

Here’s the map:

Maya

Dari banyak restoran yang ada di Mall-mall di Bahrain, ada satu restoran/cafe yang tidak biasa. Apabila cafe normalnya menjual minuman kopi sebagai menu utama dengan berbagai spesifikasi yang sophisticated, Maya (demikian nama “cafe” ini) tidak menjual kopi sama sekali.

Spesilitas nya adalah coklat. Rasanya… hmmm beautiful!!

Ramadhan Festival

Lain di Arabia lain pula di Indonesia, bulan Ramadhan di sambut dengan cara yang berbeda-beda. Selama saya tinggal di Jakarta, bulan Ramadhan semua orang menjadi khusuk sholat, kemesjid setiap malam, membaca Qur’an dan lain-lain. Atau dengan kata lain, kehidupan malam menjadi lebih sepi….

Tidak demikian dengan di tanah Arabia ini.  Jam kerja berubah dan menjadikan kita lebih banyak tidak melakukan apa-apa pada saat puasa, dan kehidupan malam pun di mulai setelah jam 8 malam atau sesudah selesah sholat tarawih…

Hotel-hotel pun ternyata memanfaatkan momentum ini dengan mengadakan Ramadhan Buffet yang mulai buka sejak dari buka puasa sampai saat sahur. Dengan 2 kali waktu makan, yaitu saat buka puasa dan saat sahur yang dimulai dari sejak jam 9 malam. Harga per orang untuk buffet ini gila-gilaan dan disajikan secara tradisional, tidak di dalam ruang makan hotelnya tetapi di tenda yang didirikan khusus selama bulan puasa…. yang menurut saya ini lebih berupa gimmick nya hotel untuk memberikan tambahan pemasukan. Yang ditawarkan oleh hotel itu tentunya adalah budaya arabnya… (seperti tarian dalam image diatas) sayangnya tak ada lagi tuh yang namanya “belly dancing” seperti yang banyak digambarkan oleh hollywood tentang budaya Arab….

Dibawah ini beberapa foto dari Ramadhan Fiest di Hotel Intercontinental- Doha:

  • Ruang Makan untuk restoran khusus yang dibangun hanya pada bulan Ramadhan, biasanya terletak di halaman hotel, bukan di dalam hotelnya… obyek yang menarik untuk para expatriate ….
  • Shawarma – makanan khas a la Arabia, yang biasa di jual di pinggir jalan dan sangat populer… di jual dalam berbagai kemasan.
  • Hidangan pencuci mulut khas, yang semuanya sangat manis rasanya…. mungkin ini salah satu penyebab mengapa orang arab berbadan besar dan gemuk….
  • Teh atau yang populer disebut Chay… begini inilah cara tradisional menyajikannya….
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 206 other followers

%d bloggers like this: