Skip to content

Posts tagged ‘Jakarta’

Jakarta Five Years On

Untuk mereka yang tinggal di Jakarta terus menerus, mungkin tidak terasa bedanya, apa perkembangan Jakarta lima tahun terakhir. Untuk mereka yang tinggal di luar kota, tapi secara teratur datang ke Jakarta mungkin juga tidak terlalu terasa. Tapi untuk mereka yang tinggal di daerah dan sekali setahun datang ke Jakarta, pasti ada perubahan.

Kali ini saya pulang kampung bersamaan dengan hari raya Eid. Jakarta memang lebih lengang, hari itu saya mendarat di Bandara Sukarno-Hatta jam 6 pagi. Saya masuk kota Jakarta pada saat semua orang masih sibuk melakukan Sholat Eid. Artinya lalu lintas di Jakarta sepi…. Read more…

Jalan Tikus

mn-090812Berkendaraan di Jakarta bisa benar-benar menyebalkan…. atau mungkin tidak juga (tentunya ini untuk mereka yang sudah terbiasa dan tidak punya pilihal lagi).  Menyambung posting saya sebelum ini tentang issue transportasi di Jakarta, seorang teman berkilah tentang masalah transportasi ini dan mengatakan tidak terlalu buruk, selama kita:

  1. hari-hari tertentu misalnya hari sabtu atau minggu dan di daerah tertentu
  2. jam-jam tertentu terutama untuk daerah Jakarta pusat.

Loh tapi pertanyaannya adalah, bagaimana agar aktifitas sehari-hari tidak terganggu oleh masalah transportasi yang harusnya mendukung pekerjaan kita, artinya:

  1. Apabila kita harus melakukan transaksi bisnis di tempat tertentu pada hari kerja dan bukan hari Sabtu dan Minggu. Apa itu artinya bisnis gagal?
  2. Bagaimana dengan janji yang terpaksa harus dilakukan pada jam sibuk dan di kawasan sibuk? Memang jawabannya mungkin adalah ganti waktu dan pindah lokasi, tapi kenyataannya ini semua tidak mudah, karena artinya ada banyak pihak yang harus menyesuaikan diri dan banyak bisnis yang juga ikut terpengaruh…. Jadi harus bagaimana ini?

 Teman saya itu kemudian mengusulkan dengan menggunakan “jalan tikus….“ Ini pengalaman saya ketika saya terpaksa meninggalkan dari Kelapa Gading Mall sekitar jam 6 sore hari kerja (…. ini memang jam sibuk, tidak bisa saya hindari, karena urusan baru selesai pada saat itu). Tujuannya adalah Duren Tiga… tak bisa di hindari, harus ke Duren Tiga, karena disinilah saya tinggal. Dengan kata lain menghindari point 1 dan point 2 diatas, adalah tidak mungkin!

Melanjutkan cerita di atas, saya beruntung berkendaraan dan bersupir dalam perjalanan tersebut. Pada saat kami meninggalkan Kelapa Gading, supir saya agak bingung, apakah akan menggunakan fasilitas jalan tol atau melalui jalan normal…. yang mana  dua-duanya punya kemungkinan untuk macet.  Lucunya, kami lalu terjebak untuk masuk jalan tol, dan seperti di duga sebelumnya, di jalan tol pun bukan berarti lebih lancar.

Cepat cerita, akhirnya kami keluar dari jalan tol, karena harus berbelok menuju duren tiga. Menjadi supir di Jakarta, mungkin menharuskannya mempunyai banyak alternatif jalan lain atau jalan tikus, karena jalan yang normal terlalu macet atau sangat lambat…. Jadilah kami mengambil jalan tikus melalui Tegal Parang, masuk berbelok-belok…. Saya pikir kami akan keluar di daerah Buncit, dan melanjutkan perjalanan melalui Warung Buncit. Ternyata jalan yang dipilihnya adalah jalan yang akhirnya keluar di Jalan Duren Tiga Raya, di depan Apotik Duren Tiga.

Terus terang, saya pribadi buka orang yang senang menggunakan jalan tikus, karena saya tidak mudah menghafal jalan dan hampir selalu nyasar apabila saya harus berkendaraan sendiri. Tapi supir kami ini sangat tau jalan yang akan di laluinya… Jalan yang dipilih pun berbelok-belok dan semakin sempit, artinya, dengan lebar jalan yang cuma tiga setengah meter, saluran buangan air di satu sisi dan sisi lain adalah pagar/bangunan rumah tinggal, belum lagi termasuk tempat parkir motor dan mobil, tempat pada pedagang kaki lima ikut mangkal disepanjang jalan tersebut, dengan kata lain jalanan ini sebenarnya cuma layak di lalui kendaraan satu arah saja. Kalaupun dua arah artinya bergantian, menggunakan jalan tersebut.

Pada satu titik, kami berbelok untuk masuk ke jalan tikus yang lebih kecil lagi, sudut belok yang tajam dan dinding rumah langsung di kiri kanan jalan. Tidak ada rambu lalu lintas yang mengatakan jalan tikus ini adalah satu arah…. Segera setelah kami belok, saat itu juga ada kendaraan lain di depan kami (yang masih ada di mulut gang tersebut)…. dan memaksa kami untuk mundur, dan mengalah, karena tidak ada jalan lain. Tapi untuk mundur ternyata tidak mudah, ada mobil-mobil lain yang menggunakan jalan dibelakang kami, belum lagi serbuan motor yang menyulitkan kami untuk mundur….kami menghabiskan waktu kira-kira 30 menit sendiri untuk keluar dari keruwetan itu, tapi bukan berarti sesudah ini perjalanan menjadi lancar….

Masih di belantara Tegal Parang, kami lalu terjebak dengan keramaian pasar malam yang sedang berlangsung di kawasan perumahan ini, sehingga ada banyak sekali kendaraan mobil dan motor yang parkir disepanjang jalan yang cuma lebarnya maksimum 4 meter ini, belum lagi lautan manusia yang ingin menyaksikan pasar malam tersebut…. Percaya atau tidak, akhirnya kami menghabiskan waktu kira-kira dua jam sendiri untuk bentang jalan tikus dari Tegal Parang ke Duren Tiga, atau total perjalanan dari Kelapa Gading ke Duren Tiga menjadi 3 jam sendiri, dari jam enam sore, hingga jam 9 malam tiba dirumah…. Terus terang,  ini pengalaman berkendaraan paling melelahkan untuk saya, padahal saya bukan supir…

Kesimpulan, apakah jalan tikus adalah suatu solusi? jalan tikus mungkin itu jawaban dari seorang pragmatis yang sudah terlalu lama terjebak dalam masalah transportasi ini dan inilah solusi sesaat; tapi itu bukan solusi jangka panjangdan bukan solusi untuk Jakarta dengan penduduk 9 juta (malam hari) karena:

  • bagaimana apabila saya tidak punya kendaraan pribadi yang bisa mengantarkan saya berpetualangan melalui jalan tikus tersebut?
  • bagaimana apabila tidak ada jalan tikus ke tempat tujuan tersebut?
  • bagaimana apabila semua jalan tikus akhirnya penuh juga seperti pengalaman saya diatas?

Ada yang punya solusi….?

Local Cuisine

Whenever I am home, with my relatives or my old friends in Indonesia, their common questions are “what kind of food do you eat out there in Arabia….?” Or during family functions usually they serve home-made traditional Indonesian Cuisine especially for me. In their mind, I must be craving for Indonesian food all the time as they also know that I don’t cook so good, as a matter of fact, I am a pretty crap cook!!!

To the ignorant minds, I must have eaten too many traditional “Middle East Cuisine” that made me hankering for the original Indonesian food… ha ha ha is that right? The truth is, I’ve been eating anything except traditional Middle East food!

The question is what is Traditional Middle Eastern Food? And where can I find it? In the City Center Mall, the biggest mall in Bahrain, with it’s huge food court, could I find any Arabian food counter? Sadly NO! Out of more than 20 food counters, I could only find one Persian food counter, the closest to the Arabian Food, with no Shawarmas to display. The other food counters are American Fast food, Italian fast food, Pizza counter, a couple of Thai food counter and a mixture of Indian/Chinese food counter. It seems that Arabian food is not at home in their own country….

What about traditional Indonesian Cuisine?

Photo 2 – Padang Restaurant, at every corner of Jakarta’s road. – uploaded by flickr by 536

Photo 3 – variety of Padang Food on a single table – uploaded first time by 88DB.com

Well I must say not so bad… in fact Indonesian food was doing well, despite the fact the Malaysian tried to take over our food, such as Padang Food (, it is still at home in Indonesia, Padang food was still there on almost every corner of the street in Jakarta…

When I went to Grand Indonesia, one of the newest Jakarta’s shopping Mall, to have lunch in its food court, there are plenty of different traditional Indonesian foods. Such as different type of Sotos, Gudeg, Empal, not to mention the most famous Nasi Goreng and Gado-gado, despite the invasion of foreign food.

Photo 4 – Chicken Soto – uploaded first time by kataichan

Photo 5 – Gudeg – uploaded first time by budihs

The Traffic Issue in Jakarta

As I am waiting for my transfer to Doha, which supposedly should be within 3 weeks, I decided to take my annual leave to visit my Mum in Jakarta. After a little hassle to get the ticket as I had to change all my holiday plans for the next 10 months, I managed to get a ticket to Jakarta despite being high season. Well I guess a ticket for one person is easier than tickets for two or more. Or maybe this is the beauty of travelling solo…

Anyway, arriving in Jakarta, was not as happy as usual, Jakarta is really getting busier than the last time as I remember. Nobody was able to pick me up at the airport, at 3.00 pm, I guess everybody is busy and no time for pick ups at the airport, as the travelling time to the airport is at least one hour from the city center. If you live in the suburbs at the other end from the Airport… hmmm that might take you at least another 2 hours to drive from the airport to home. Unlike Bahrain, or Dubai, where we feel the changes caused by this global recession; Jakarta is busy and hectic as ever… there’s no sign of recession at all, nor was there any signs after the bomb attack that hit Jakarta almost a month ago.

Aside from a routine annual holiday visiting my Mom, the purpose of this holiday was really a working holiday, sorting out my empty apartment so that somebody could rent it out and maybe a little of networking with old friends. Thus I ended up on the road every day, from 9 in the morning to almost 8 in the evening before I arrived at home again.

While I was on the road, I really could not help observing the traffic in Jakarta and comparing it to Bahrain and Doha. From the type of street, type of vehicle on the road and the behavior of the drivers; I wonder what makes it so out of control in Jakarta: no driving order, no regulations obeyed; everybody’s high tempered, everybody’s in a hurry nobody gives way for the benefit of the traffic flow; too many private cars, too many motorbikes and not enough proper public transportation.!!!

Photo 1- A mixture between pedestrian, public transportation, private cars with no lanes to follow.

photo originally uploaded by worldautonews

In Doha and Bahrain on the other hand, maybe because of the weather and the heat during summer, there are not many motorbikes and not many people on the street, even though there is only limited public transportation in operation. The behavior of the people is also different; even though I encounter crazy drivers, most of them are willing to give way to others. Maybe because of the vehicles are homogenous and everybody drives within the lanes.


Believe it or not, less accidents happen in Jakarta compared to Bahrain and more so compare to Doha where at least one accident happens at each roundabout per day…. The question now is who is the better driver, the people in Doha or Jakarta?

Issue Transportasi di Jakarta

Saya jarang menulis tentang transportasi di Jakarta, maklum, saya tidak tinggal di Jakarta. Tapi sekali ini saya pulang ke Jakarta, dalam rangka menunggu proses pindah pekerjaan, disamping itu, ini kan kewajiban seorang anak juga yang tetap menengok orang tuanya, walaupun cuma sekali setahun.

Sesudah agak kusut karena harus merubah jadwal penerbangan tiket, yang sedianya Desember, menjadi Agustus; yang mana adalah high season, karena musim libur sekolah dan libur musim panas, akhirnya saya bisa memperolah tempat duduk untuk terbang ke Indonesai…. Mungkin inilah untungya ‘traveling solo,’ lebih mudah mendapatkan tiket daripada traveling berdua atau dengan rombongan.

diambil dari worldautonews

diambil dari worldautonews

Akhirnya saya sampai juga di Jakarta, setelah kurang lebih 9 bulan yang lalu saya menginjakkan kaki di Jakarta. Pesawat tiba di Jakarta pukul 2.30 sore…. beberapa hari sebelumya saya sudah memberi tahu adik saya untuk menjemput saya. Tapi rupanya permintaan ini sulit dipenuhi oleh orang Jakarta, yang sibuk dan kemana-mana “jauh.” Saya bisa mengerti ini, walaupun bekerja di Jl. Gatot Subroto, dibutuhkan minimal satu jam sendiri untuk mencapai airport, belum lagi mencari parkir, menunggu kedatangan, dan mengantarkan pulang…. al hasil habis lah setengah hari kerja hari itu.   Ini benar-benar jauh berbeda dari Bahrain atau Dubai, yang karena resesi global, jumlah kendaraan di jalanan menjadi jauh berkurang.

Tapi tak bisa di pungkiri, ada banyak hal yang membedakan antara Jakarta/Bandung dengan kota-kota di negara-negara di Timur Tengah, dari mulai jenis jalannya, jenis mobilnya, hingga perilaku pengendaranya pun berbeda. Yang membuat saya terheran-heran dengan kondisi di Jakarta yang diluar kendali:

  • Terlalu banyak kendaraan pribadi, terlalu banyak sepeda motor, dan fasilitas kendaraan umum yang tidak layak.
  • Jenis kendaraan yang berlalu lalangpun tidak homogen yang membuatnya semakin simpang siur, disamping itu jumlah orang/pejalan kaki yang ada di permukaan jalan pun tak kalah banyaknya.
  • Semua orang dengan temperamen tinggi, semua orang tergesa-gesa dan tidak ada yang mau mengalah demi kelancaran perjalanan.
  •  Tidak ada aturan berkendaraan, hampir tidak ada aturan yang di taati

Sebaliknya di Doha dan Bahrain kondisinya berbeda:

  • Mungkin karena cuacanya yang sangat terik di musim panas, maka tidak banyak sepeda motor yang berlalu lalang dijalan seperti layaknya di negara-negara Asia Tenggara.
  • Walaupun fasilitas kendaraan umumnya “belum” layak, tapi tidak banyak orang yang berlalu lalang di jalan.
  • Jenis kendaraan pribadi pun lebih homogen. lebih besar, dan dengan kondisi yang rata-rata lebih baik.
  • Walaupun orang Arab dikenal dengan temperamen tinggi dan agak ugal-ugalan, tapi di jalan, mereka lebih taat pada peraturan dan lebih sabar, mau mengalah demi kelancaran lalu lintas, dan jangan salah, mereka tertib pada peraturan lalu lintas yang berlaku.

Tapi percaya atau tidak, kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Jakarta, secara statistik lebih sedikit dibandingkan dnegan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Doha yang paling sedikit satu kali sehari terjadi tabrakan di benderan jalan di Doha yang mana jumlah ada ratusan…. Pertanyaannya adalah siapa pengendara yang lebih baik, supir di Jakarta atau di Doha?

mn-090810-1
Kecelakaan lalulintas di Doha

 

Puasa di Kantor

Waktu saya tinggal dan bekerja di Indonesia, masalah yang dihadapi hanyalah sekitar bagaimana kita menyamakan pendapat dalam hal menyelesaikan masalah kantor, maklum dari latar belakang pendidikan yang berbeda dan dari universitas yang berbeda saja sering membuat salah paham; saya pikir disini karena ada masalah kebanggaan almamater.  

Ditempat saya bekerja ini masalah latar belakang almamater yang berbeda, pendidikan yang berbeda memang jadi masalah, tapi tak begitu terasa dibandingkan dengan latar belakang etnis yang berbeda, disamping bahasa yang berbeda juga.  

Ini tahun ke dua saya tinggal di doha. Perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan yang multi national dengan komposisi berbagai kebangsaan, budaya, agama, bahasa dan adat istiadat. Harus di akui kerja di tempat seperti ini susah-susah gampang.  

Ada masalah beda pendapat dalam hal menyelesaikan pekerjaan, ada masalah tata krama dalam hal berinteraksi dengan sesama teman kantor, dan ada juga masalah perbedaan agama. Hal yang terakhir ini sekarang menjadi agak menonjol karena bulan puasa.  

Dengan penduduk Qatar yang sekitar 800 ribu orang dan hanya 250 ribu saja orang Qatar, masih harus dipertanyakan apakan mayoritas penduduk beragama Islam. Memang ini negara Islam… sangat jelas, tapi mereka juga menerima banyak tenaga asing yang nota bene beragama bukan islam. Bangsa-bangsa kulit putih sudah dapat dipastikan beragama nasrani; orang philipina 99% adalah beragama nasrani juga. Mereka yang berasal dari anak benua asia, India, Pakistan, SriLanka, Nepal dan Bangladesh,  masih harus dipertanyakan, karena mereka ada yang beragama nasrani dan hindu disamping beragama Islam. Bagaimana dengan orang Arabnya sendiri? Mereka juga ada yang beragama nasrani, seperti mereka yang berasal dari Syria, Palestina, Jordania, Lebanon dll. Dengan kata lain, penduduk Qatar sebenarnya mungkin Cuma 35% maksimum 45% adalah Muslim. Kenyataan lain adalah bahwa tidak semua orang taat beragama, dalam arti bahwa mereka menjalankan kewajibannya beragamanya.  

Dikantor saya tempat saya bekerja yang kantor multi nasional, dengan jumlah pegawai yang 40 orang, Cuma 5 orang yang muslim. Dan seperti saya katakan sebelumnya, tidak semua orang menjalankan kewajiban beragamanya. Saya misalnya tidak berusaha untuk munafik dengan mengaku seorang muslim yang baik, dan sebagai orang indonesia kebanyakan yang „memiliki toleransi“ yang cukup besar, sangat memaklumi bahwa orang tetap makan dan minum di depan orang yang berpuasa, seperti yang saya biasa alami di Jakarta. Rupanya tidak demikian di Doha ini, dengan Cuma 4 orang muslim yang menjalani ibadah puasa, rasanya mereka yang berbeda dengan mayoritas orang kantor, dan siapa yang harus melakukan tenggang rasa disini?  

Yang terjadi adalah orang Arab yang puasa itu mengajukan protes secara resmi karena cangkir berisi minuman tetap berlalu lalang di koridor kantor diantarkan oleh office boy…. dan tidak ada seorangpun yang makan, minum atau merokok didepan mereka. Pertanyaannya adalah siapa yang harus toleran terhadap siapa?  

Menurut saya agama adalah urusan tiap pribadi itu sendiri dengan Tuhannya. Bagaimana kita menjalankan ibadah agama kita adalah tanggung jawab saya dengan Tuhan saya. Tidak perlu di pamerkan pada orang lain dan tidak perlu memaksakan orang lain untuk menjalankan ibadahnya seperti saya sendiri. Atau dengan kata lain, kalau saya beragama Islam, tidak perlu memaksakan orang lain ikut beragama Islam seperti saya; kalau saya tidak menjalani puasa, saya tidak perlu mengajak orang lain untuk ikut tidak berpuasa, begitu juga sebaliknya…..  

Dipihak lain bagian dari godaan berpuasa adalah melihat orang lain tetap makan dan minum seperti biasa sementara itu kita harus menahan diri untuk tidak bergabung dengan mereka, ikutan makan dan minum. Apa susahnya dengan ini sih? Mengapa hal ini di jadikan issue besar oleh kantor dengan populasi Muslim yang minoritas? 

Pengalaman di kantor saya di Jakarta, yang mayoritas muslim dan hanya 20% saja yang bukan muslim, rasanya tidak ada yang mengeluh karena para non muslim itu tidak puasa…. Dan ini saya pikir yang namanya toleransi beragama.

Dubai atau Doha

Dua tahun yang lalu saya mengeluh tentang hidup di Qatar ini. Kami seolah-olah terpencil dan terpisah dari negara sekitar…. Jauh dari peradaban dunia yang lain. Hiburan yagn ada cuma 3 shopping Mall dan bioskop yang notabene filmnya mungkin ketinggalan jaman, atau malah mungkin film-film tertentu tak bisa masuk sama sekali. Tempat jajanan pun terbatas, dan masih banyak alasan yang lainnya.

Dari ngobrol-ngobrol dengan banyak expat yang lain, tentang aktifitas mereka sesudah jam kantor; kebanyakan dari mereka selalu mengatakan bahwa mereka pergi tidur pukul 9 malam! Kenapa? Karena sudah tak ada lagi yang bisa dikerjakan malam itu…

Bandingkan dengan waktu saya di Jakarta, begitu sibuknya dan kayaknya semua orang juga begitu… Jam 9 malam saya masih ada di jalan, sedang menuju pulang atau masih di tempat dugem…. Malah sering kali sampai dirumah sekitar jam 11 malam…. sudah tak ada waktu lagi untuk bercengkerama dengan orang rumah.  Kualitas hidup rasanya sangat  terbatas….

Dubai di lain pihak, lebih menjanjikan banyak pilihan tempat entertainment, tempat makan, dan masih banyak aktifitas lainnya yang bisa dilakukan…. atau ini minimal dari cerita-cerita orang yang sudah pernah ke Dubai (saya sendiri belum pernah ke Dubai….).

Begitu banyaknya entertainment di luar rumah sehingga kita bisa menghabiskan waktu sepanjang malam di pinggir jalan, cafe, disco dll.

 Tapi kalau kita mau melihat hikmahnya dari ke dua hal di atas itu, maka ada hal lain yang bisa dipetik ya itu, kita bisa berhemat banyak. Bayangkan, setiap keluar rumah artinya pengeluaran. Di Doha, tidak ada apa-apa di luar sana, artinya kita tidak perlu menghabiskan uang kita untuk segala entertainment itu…

Dan rasanya inilah tujuan kita di rantau, mengumpulkan uang dan menabung….. meskipun saya juga setuju bahwa pada saat yang sama kita juga masih butuh untuk menikmati hidup ini….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 205 other followers

%d bloggers like this: