Posts tagged ‘perempuan’
Resesi di Negeri Orang
Hampir lima belas tahun yang lalu resesi seperti sekarang ini terjadi di Indonesia, waktu itu saya baru saja kembali dari bekerja di Singapore, belum genap setahun saya bekerja lagi di Jakarta, serta merta semuanya berubah, itu semua karena kondisi ekonomi dan politik di Indonesia. Industri Konstruksi adalah industry pertama yang terkena imbasnya. Waktu itu, kantor tempat saya bekerja, mendapat surat yang pemutusan hubungan kerja dari pihak pemberi tugas dan karena saya ujung tombak, bekerja di proyek yang berhenti, maka saya pun langsung di PHK sore itu juga.
Keresahan memang sudah terasa sebelumnya, yaitu dengan beberapa orang kontraktor asing yang dipulangkan kenegara mereka masing-masing. Walaupun resah, tapi saya masih santai, dengan kepercayaan bahwa sebagai ‘orang lokal’ tentunya segala hal akan lebih mudah. Kan motto orang jawa yang terkenal itu: “…mangan ora mangan asal kumpul…” tetap selalu berlaku.
Meskipun demikian, kemarahan itu tetap ada juga dalam hati saya, dan saya tidak bisa cuma memendamnya saja, walaupun logika saya mengatakan bahwa, sebagai seorang perempuan, muda, single, tidak punya beban keluarga dan tidak punya tanggungan apa-apa; maka saya adalah orang pertama yang di PHK…. Waktu itu saya di PHK bersama teman-teman saya yang ekspatriat. Mereka harus pulang kampung. Prioritas pekerjaan yang tersisa adalah untuk mereka yang: lebih tua, laki-laki, dan mereka yang mempunyai excess baggage… atau tanggungan lainnya.
Mulai saat itulah pola berpikir saya langsung berubah. Ada rasa marah yang waktu itu berkecamuk dalam diri saya; yaitu mentang-mentang saya perempuan, dan masih single, lalu mereka dengan mudahnya memberhentikan saya, dengan pemikiran (mungkin…)”…ah kan dia bisa setiap saat kembali pada orang tuanya…?” ya memang itu mudah saja terjadi, karena kan orang tua saya masih ada, dan mereka akan selalu menerima kembali saya dan membantu saya…. Memang kelihatannya saya tidak punya beban, tapi bagaimana apabila orang tua saya justru tergantung dari dari saya…? Pemikiran saya waktu itu adalah: ini diskriminasi!, bukan Cuma karena saya masih single dan tidak punya beban, tapi juga karena saya perempuan!
Waktu itu saya ngomel-ngomel pada ibu saya dan juga teman perempuan saya, tapi rupanya mereka tidak terlalu risau seperti saya. Sementara itu apabila saya mengeluh pada teman lelaki saya, mereka ternyata lebih sensitive, setengahnya mereka lebih mengerti situasi saya, meskipun kebanyakan dari mereka tidak terkena PHK seperti saya. Sejak saat itu saya pun mengerti sekali apa rasanya terkena PHK dan kehilangan penghasilan. Dan sejak saat itu pula saya memutuskan untuk berpikir seperti laki-laki, tidak tergantung pada suami-suaminya untuk menentukan kemana jalan hidup saya. Saya harus mandiri….
Sekarang ini resesi ekonomi kedua yang saya alami… dan lebih parah lagi saya berada di negeri orang. Sebagai tenaga kerja asing di negara orang, maka saya adalah warga negara ke dua (kalau bukan warga negara ke tiga malah…) yang mana kamipun menjadi prioritas ke dua (atau ketiga) dari negera tersebut untuk dipertahankan, lepas dari ras, dan gender…. Jadi apabila perusahaan bankrupt, maka kamilah yang pertama-tama harus pergi.
Industri konstruksi seperti biasa adalah yang paling terasa imbasnya, dimana pun itu…. Sialnya saya selamanya bekerja di sector ini. Dan saya adalah semua yang saya sebutkan diatas, tenaga kerja asing, di negara asing, tepatnya di Bahrain.
Bahrain boleh saja terletak di Arabia, yang terkenal sebagai negara Petro Dollar…. Tapi jangan salah, cadangan minyak bumi di Bahrain adalah yang paling sedikit dari negara-negara GCC (Gulf Corporation Countries yang termasuk didalamya adalah Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirates Arab, Oman, Kuwait dan Bahrain). Bahrain sudah mengalami masa kejayaannya sepuluh tahun yang lalu, sekarang ini ia lebih mengandalkan pada industry pariwisata daripada pemasukan devisa dari sector minyak dan gas. Bahrain juga mengandalkan pada investasi asing untuk membangun negaranya.
Dengan adanya resesi global seperti sekarang ini, Bahrain memang berusaha bertahan. Memang, konstruksi yang sudah berjalan, masih tetap berjalan, tapi bukan berarti segalanya berjalan dengan mulus; ada yang berjalan dengan sangat lambat, dengan berbagai alasan, perlahan-lahan berhenti. Proyek saya sekarang ini adalah yang termasuk dalam kategori terakhir.
Kembali pada diskusi semula, tentang kehilangan pekerjaan dan berpikir seperti laki-laki; saya sebenarnya sudah mulai resah terhadap kelanggengan pekerjaan saya sejak awal tahun ini. Saya juga tau bahwa mencari pekerjaan sekarang ini tidak mudah. Semua orang juga mencari pekerjaan, dan ini berlaku global, tidak Cuma di Indonesia saja seperti hampir lima belas tahun yang lalu.
Terus terang saya tidak tau harus berbuat apa, apabila saya memutuskan untuk mencari pekerjaan, pertanyaannya adalah dimana? Di Bahrain atau di Indonesia atau mungkin di tempat lain? Apakah saya harus berpikir untuk saya sendiri atau saya harus berpikir untuk kami berdua, saya dan partner saya? Apakah mungkin kami memperoleh pekerjaan di tempat yang sama? Apakah ini artinya ‘hubungan jarak jauh?’ Apakah saya harus berpikir seperti perempuan pada umumnya: “pasrah saja sama lelaki saya….?” Aahh yang ini bukan diri saya yang mandiri seperti dulu….
Apakah Saya Kehilangan Kebebasan Saya?
Hampir empat tahun yang lalu saya membuat keputusan sendiri, bahwa saya akan berangkat ekpatriasi ke Timur Tengah, dengan membawa sebuah kopor, sebuah ransel besar berukuran 60 liter, sebuah laptop, kamera dan tiket pesawat “terbuka” ( open tiket – artinya dengan tanggal pulang yang tidak ditentukan sebelumnya - bukan tiket pulang-pergi yang biasa). Seperti saya tulis pada awal blog saya ini, saya tidak tau kapan saya pulang. Bisa seminggu kemudian atau…. entah kapan, tergantung ketahanan saya dan kekuatan saya sendiri untuk hidup di rantau.
Ketika itu semua keputusan saya ambil sendiri, tidak ada orang tua atau suami tempat bertanya… tidak ada partner tempat berdiskusi untuk keputusan yang kemudian mungkin saja merubah jalan hidup saya. Waktu itu pertanyaan teman-teman saya adalah, “….ngapain sih ke Arab. Apa cowok-cowok Indonesia kurang untuk kamu sampe harus cari orang Arab…?”
Pertanyaan tersebut memang cuma sebuah kelakar saja, tapi bukannya kelakar itu setengah serius? Saya diam saja, mau di jawab apa? Apapun jawabannya, mereka tidak akan ambil perduli, dan saya pun tidak perduli. Saya sudah kebal terhadap lelucon seperti ini. Dimulai dengan pertanyaan: “Kapan nih menikah…?” – pertanyaan klasik untuk anak perempuan menginjak usia 20 an…. atau yang lebih menyakitkan lagi adalah pernyataan yang setengah menghakimi: “Kamu sangat picky dalam memilih jodoh kamu… “. Saya tetap diam saja, dan sejalan dengan waktu, pertanyaan kemudian berubah, “mengapa kamu tidak menikah…?”
Mereka semua tidak tau bahwa memilih jodoh itu bukan seperti menerima kucing dalam karung. Ibu-ibu yang jahat itu juga memilih sayurnya yang mereka beli di tukang sayur dengan sangat hati-hati untuk dimakan bersama keluarganya… ; kenapa saya tidak boleh memilih jodoh saya dengan hati-hati juga? Jawaban saya “mengapa saya tidak menikah” adalah, karena saya pikir semua orang punya alasan sendiri-sendiri dengan jodohnya…. Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas yang bertubi-tubi saya terima pada saat saya umur 30an memang membuat saya depress.
Sekarang, 40 something, saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Saya menikmati kebebasan saya, tidak ada anak-anak yang mungkin membuat saya pusing dan suami yang sok otoriter mengatur diri saya. Saya bebas memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya sendiri, dan saya bertanggung jawab atas diri sendiri. Dan saya juga tidak pernah berpikir lagi bahwa saya akan pernah bertunangan dan kemudian menikah…. hare ginie! apa lagi saya memasuki periode ke dua dari hidup saya… masa menopause….
Percaya atau tidak, saya harus mengakui bahwa…. “manusia boleh berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan….” Pada saat saya sudah tidak berpikir akan pernah menikah… tau-tau teman saya, dengan siapa saya sering ngobrol dan jalan-jalan bareng di tengah ke sendirian di rantau meminta tangan saya…. Mungkin “proposal” Keith (demikian nama teman jalan bareng) ini bukan yang pertama saya dengar, tapi ini proposal pertama yang pernah saya terima!
Sebagai perempuan setengah baya, yang terbiasa berpikir logis dan tidak terlalu romantis; saya sangat realistis untuk tidak mengharapkan apa-apa sesudah saya menerima lamaran dia. Persiapan pernikahan… ah rasanya kurang layak untuk berpikir terlalu muluk pada umur segini, kami tidak muda lagi… dan inipun bukan pernikahan pertama untuk Keith; kami juga sangat jauh dari keluarga kami masing-masing…. jadi tidak perlu terlalu diresmikan… dan itu adalah pemikiran saya. Saya benar-benar tersentuh ketika dia mengatakan: “…lets buy an engagement ring…”
Saya tidak bisa berpikir lagi dan harus menjawab apa dari kata-katanya tersebut… tapi mungkin ada benarnya apa yang dikatakannya sambil berkelakar: “…. women are not supposed to think..,” Saya harus berhenti berpikir dan bertingkah lakulah seperti perempuan “normal” dan membiarkan dia berpikir….
Sebenarnya, saya tetap ingin seperti saya yang dulu, sebelum saya bertemu dengan Keith. Saya tidak ingin kehilangan kebebasan saya sebagai perempuan mandiri, “independent Annie,” begitu istilah Keith kalau saya mulai menunjukkan kemandirian saya.
Satu hal yang saya tau sekarang adalah bahwa saya tidak bisa memutuskan semuanya untuk diri saya saja. Saya harus berpikir untuk kami berdua; kami akan mendiskuskannya bersama. I am not traveling solo anymore….
Perempuan Saudi
BBC online hari ini memuat berita tentang tenaga kerja wanita di Saudi Arabia. Secara tradisional, perempuan dilarang bekerja oleh pemerintahannya yang seperti kita semua mengetahuinya, tata kehidupan sosial di Saudi Arabia di dominasi oleh laki-laki.
Perempuan bisa dikatakan adalah warga negara kelas dua. Mereka dilarang bekerja, mengemudikan kendaraan, memiliki hak suara, bahkan bepergian keluar negeri, ataupun bekerja tanpa seijin dari muhrimnya, artinya kalau tidak ada ijin dari ayah, atau saudara laki-laki atau suami, maka mereka tidak bisa melakukan semua yang saya sebutkan diatas. (pertanyaan selalu menggelitik saya adalah apa yang terjadi pada perempuan sebatang kara…? bagaimana dia menghidupi dirinya sendiri?)
Tapi itu semua perlahan-lahan berubah; walaupun masih sangat ekslusif, sekarang ada pabrik lampu yang tenaga kerjanya semua perempuan; begitu juga ada showroom mobil yang penjualnya semua perempuan, dan jangan salah mereka pun khusus melayani pembeli perempuan.
Berita diatas, adalah pencerahan bagi para perempuan, meskipun perjuangan mereka masih panjang. Seperti layaknya di Barat (Eropa dan Amerika), banyak perempuan Saudi yang menikmati pendidikan dan lulus dari perguruan tinggi dengan peringkat yang lebih baik dari pada para lelaki. Sayang kesempatan kerja untuk mereka sangat terbatas, sejauh ini, mereka yang dapat bekerja, kebanyakan atas kebaikan lelaki dalam hidup mereka. Selebihnya mereka harus terima saja tinggal di rumah.
Walaupun mereka bekerja pun kebanyakan pekerjaannya masih sangat tersegregasi dengan lawan jenisnya. Tapi percaya atau tidak, pemerintah Saudi sekarang menyadari bahwa dengan dipersulitnya perempuan untuk bekerja, menjadikan ekonomi rumah tangga hanya bertumpu pada satu pemasukan saja (belum lagi apabila istri lebih dari satu). Sehingga pemasukan rata-rata keluarga Saudi pun menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Pada belahan bumi yang lain ekonomi keluarga lebih baik karena ada dua pemasukan keuangan.
Ini membuat saya berpikir bahwa alangkah berutungnya perempuan di Indonesia (dan Asia Timur pada umumnya) yang secara tradisional mereka sebenarnya adalah pekerja, yang membantu ekonomi keluarganya…. lepas dari itu membatik dan berjualan batik (yang tradisional) ataupun mereka yang menjadi pembantu dan berekpatriasi ke timur tengah….
Dress Code 3
Ketika saya pertama kali datang ke Doha lebih dari dua tahun yang lalu saya khawatir, bagaimana saya harus berpakaian sebagai perempuan di Qatar, yang nota bene adalah salah satu negara Arab. Tapi kemudian saya merasa lebih santai karena sebenarnya kita dapat berpakaian dengan cara apapun, tergantung kita maunya apa dan siapa kita.
Kalau saya perempuan barat dan biasa berpakaian gaya international… semuanya bisa saja. Kalau kita perempuan India, mau pakai sari juga boleh… dan itu semua tergantung dari kepercayaan dan kebiasaan kita sendiri maunya ikut yang mana.
Lepas dari itu semua, saya percaya kita punya norma-norma berpakaian yang universal; artinya semua itu masuk dalam batas kesopanan yang wajar, dimanapun kita berada. Dikantor, tentunya gaya berpakaiannya lain dengan di pusat perbelanjaan, atau dipantai. Saya juga percaya kalau kita berpakaian lrebih banyak dipengaruhi oleh budaya; dan cara berpakaian dari tiap-tiap budaya ditentukan awalnya dari iklim setempat. Tapi kemudian perkembangan teknologi yangsangat pesat banyak mempengaruhi cara kita berpakaian…. (boleh percaya atau tidak, ini menurut saya…)
Yang tidak bisa saya terima sampai sekarang adalah cara orang Arab berpakaian, yang menurut saya agak munafik dan terlalu terpaku pada budaya, tidak mengikuti perkembangan jaman. Dan ini terutama sekali pada perempuannya. Contohnya banyak:
- Bayangkan, di Qatar pemerintahnya memberlakukan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan…. atau minimal inilah yang mereka usahakan. Tapi tidak begitu kenyataannya dengan penduduknya. Contoh untuk konteks diatas yang paling jelas adalah, bahwa pengemudi mobil perempuan itu mengemudikan mobilnya dengan tetap memakai tutup wajahnya, meskipun matanya tak tertutupi . Menurut saya ini salah besar untuk memberikan ijin mengemudi tanpa bisa di lihat wajahnya oleh pengemudi lain?
- Bagaimana dia bisa beroperasi seratus persen pada saat semua hal akan tampak lebih gelap dari pada normal….
Pengalaman unik yang saya anggap lucu adalah pada saat saya nonton bioskop. Perempuan yang duduk di sebelah saya adalah perempuan arab yang memakai “hijab”, lengkap dengan kerudung (jilbab) dan tutup untuk seluruh mukanya (bukan cuma kerudung untuk melindungi rambutnya saja) – tentunya semua berwarna hitam…. Percaya atau tidak, mereka memasuki ruangan theatre yang sudah gelap itu masih dengan kerudung wajahnya uang lengkap. Duduk di sebelah saya, mereka mulai membuka kerudung wajahnya. Yang bikin saya terheran-heran adalah di balik kerudung itu mereka masih memakai kaca mata hitamnya….???
Menurut saya ini semua aneh dan tak masuk diakal. Kalau kerudung muka di gunakan dengan alasan tidak ingin dilihat wajahnya oleh sesama jenis, saya mengerti…. artinya kalau ingin nonton film jangan di tempat publik, karena kehadiran lawan jenis tak bisa di hindari…. Kaca mata hitam diciptakan dengan tujuan melindungi mata dari silaunya sinar matahari, artinya kalau di dalam ruangan (di mall pusat perbelanjaan itu kan di dalam ruangan) tak ada sinar matahari yang mengganggu, apa masih perlu digunakan kacamata hitam? Apalagi menggunakan kacamata hitam di dalam bioskop yang sudah hampir gelap….
Itu semua sulit diterima di kepala saya…. Pada saat sebagian orang mengalami gangguan penglihatan, atau malah tak bisa melihat dan mencari banyak jalan untuk dapat melihat… kok mereka malah mengurangi kemampuan untuk melihat dengan jelas dan dengan warna yang utuh….?
Ijin Kerja
Susahnya jadi perempuan di negara yang di dominasi oleh laki-laki.
Sudah hampir 3 bulan saya bekerja di Doha, dan sampai sekarang saya belum punya surat ijin kerja (Working Permit) yang jelas. Biasanya sebagai tenaga kerja asing, (expatriate) kita selalu di lengkapi dengan surat ijin kerja yang tercantum di dalam ID card, dan ini lah yang jadi KTP kita di negara orang, pengganti passpor. Kalau di Singapore ini warnanya hijau, dan di Amerika mungkin semacam Green Card, kartu tanda pengenal dan juga surat ijin tinggal.
Anehnya ketika saya masuk Qatar pertama kali dan sampai sekarang saya masih pakai Bisnis Visa, dan masa berlakunya cuma 3 bulan saja, padahal saya datang untuk bekerja bukan bukan berbisnis. Seperti juga orang-orang asing yang datang ke Indonesia sebagai turis dan lalu kerja, mereka harus keluar dari Indonesia untuk sehari dan masuk lagi dengan visa turis baru, atau di extradisi dan tak boleh bekerja di Indonesia – kalo tertangkap basah. Logikanya saya harus keluar dari negara ini dan kemudian masuk lagi…. pertanyaannya adalah dengan visa apa?
Setelah kasak-kusuk sana sini, ternyata “mereka” (kantor dimana saya bekerja) tidak memasukkan saya dengan visa kerja seperti lazimnya tenaga kerja laki-laki yang lain adalah karena mereka belum pernah memasukan tenaga kerja perempuan ke Qatar, dan kayaknya Qatar juga belum pernah terima tenaga kerja profesional perempuan sebelumnya. Lalu bagaimana dengan para perempuan yang bekerja di Doha selama ini?
Katanya ada beberapa proses penilaian yang dilakukan oleh untuk memasukkan tenaga kerja, dan ini menurut hirarkinya:
- Kebangsaannya, dari negara mana dia berasal? Saat ini Quota untuk orang India sudah terlalu banyak. Artinya sebagai orang Indonesia, saya sudah tak punya masalah
- Profesinya, untuk profesi tertentu mereka tidak memasuk tenaga kerja, tapi karena saya tenaga professional di bidang konstruksi, ini pun tidak jadi masalah
- Gender… inilah yang jadi masalah… mereka rupanya tidak menerima orang Indonesia yang bekerja di bidang konstruksi sebagai engineer dengan gender perempuan….
Inilah bekerja di dunia laki-laki…. tak ada kesamaan hak sama sekali…. lalu bagaimana dengan para perempuan yang sudah bekerja di bidang konstruksi ? Mereka ternyata di sponsori oleh suami atau ayah mereka…. tak ada perempuan yang bekerja di dunia laki-laki dan menjadi sponsor dirinya sendiri….
Pertanyaannya adalah, apakan ini lebih enak untuk kaum perempuan? Tak usah bertanggung jawab pada dirinya sendiri…. Atau disini perempuan tidak bisa menikmati independensinya….



































