Skip to content

Posts tagged ‘pindahan’

Menyeberang ke Qatar

Saya memang terbang dengan Business Class, dari Manama Bahrain ke Qatar; barang yang saya bawa juga seadanya, meskipun terus exceed the limit, tapi permasalahan belum selesai disitu. Bagaimana dengan barang-barang yang lain? seperti TV misalnya dan mobil kami? dan yang paling penting buat saya mungkin adalah Keith, dia masih tertinggal di Bahrain!

Gambar disebelah ini tidak benar-benar merekfleksikan apa yang terjadi pada saya, tapi begitulah kira-kira Keith akan menyeberang ke Qatar, dengan mobil dan sebagian barang-barang yang tersisa. Sebagian barang yang lain sudah di angkut oleh perusahaan expedisi.

Sebenarnya ini mungkin bukan perjalanan istimewa cuma kira-kira 142 km saja, tapi ini dengan pesawat dan cuma ditarik garis lurus terdekat antara Manama dan Doha, tapi jarak ini jadi berbeda pada saat perjalanan ditempuh dengan mobil dan melalui tanah Saudi Arabia.

Dari apartemen tempat kami tinggal hingga perbatasan dengan Saudi mungkin tidak seberapa, cuma kira-kira 20 menit saja; perjalanan dari perbatasan Bahrain dengan Saudi sampai dengan perbatasan berikut, antara Saudi dan Qatar, ‘hanya’ maksimum 335 km, atau sama dengan Jakarta-Pemalang saja, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan didalam negara Qatar, atau dari Abu Samra ke Doha, yang cuma akan memakan waktu kira-kira satu setengah jam sampai dua jam, tergantung kemacetan di jalan.

Dengan kondisi jalan yang  sangat baik atau setara dengan jalan tol Jakarta – Bogor, secara matematika, dengan jarak tempuh kurang dari 450 km dan katakanlah kecepatan rata-rata adalah 90 km per jam, maka Manama-Doha bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 5 jam saja, dan ditambah mungkin urusan diperbatasan, maka paling lambat waktu Keith akan tiba di Doha enam jam kemudian.

Untuk kebanyakan orang Palestina perjalanan seperti ini adalah hal biasa. Mereka biasa melakukan perjalanan dari Doha hingga Amman (di Jordania). Dengan sebagian besar perjalanan adalah di tanah Saudi, perjalanan itu mereka tempuh antar 10 sampai dengan 20 jam, tergantung dari kecepatan mengemudinya. Untuk teman-teman orang Indonesia yang tinggal di Qatar, perjalanan inipun biasa, untuk mereka yang melakukan Umroh dari Qatar ke Saudi (lihat peta)

Untuk Keith perjalanan ini sebenarnya juga tidak terlalu istimewa. Pertama kali dia melakukan perjalanan ini adalah dari Riyadh ke Ras Al Kheima, 31 tahun yang lalu; perjalanan epicnya dari Riyadh hinggal London, naik mobil, bersama keluarganya, sekitar duapuluh tahun yang lalu, waktu tempuhnya sekalian mampir-mampir hampir tiga minggu sendiri.

Tapi perjalanan ini jadi berbeda, karena dia tidak cuma berkunjung ke negara lain dan lalu kembali;  dia juga mengexport mobilnya, perjalanan ini oneway, tidak kembali lagi ke Bahrain, dengan segala macam barang yang dibawanya dalam mobil itu beserta mobilnya; artinya dia mengexport mobil tersebut beserta isinya. Surat-surat yang harus disiapkannya pun berbeda dengan kalau melakukan umroh misalnya.

Lalu dokumen apa saja yang harus disiapkan? ini listnya:

  • Transit visa ke Saudi, yang mana berlaku untuk pengemudinya yang berlaku selama 3 hari. Mengurus transit visa ini sebenarnya mudah, cuma jadi agak lama apabila kedutaan Saudi tutup, dan mereka biasanya libur panjang pada saat Eidl Fitri. Jadi harus pandai-pandai mengatur waktu perjalanan. Khusus untuk Bahrain, pengurusan transit visa Saudi ini di sub kontrak kan pada agen perjalanan yang mereka tunjuk di Bahrain.
  • Ada visa khusus untuk mobilnya yang juga menjadi bagian dari dokumen perjalanan itu. Visa ini bisa di mintakan pada agen perjalanan tersebut.
  • Nomor mobil Bahrain harus diganti, tidak lagi dengan nomor mobil Bahrain yang biasa, tapi dengan nomor mobil export. Untuk kepengurusan yang ini, dilakukan di kantor polisi dengan mengembalikan nomor asli dan menggantinya dengan nomor export. Masa berlaku nomor export ini cuma tiga minggu saja; artinya mobil tersebut harus meninggalkan Bahrain dalam waktu kurang dari 3 minggu, lebih dari itu, maka kadaluarsa.
  • Asuransi untuk mobil untuk melakukan perjalanan di Saudi dan di negara tujuan yang berlaku selama tiga minggu, sebelum asuransi ini diperbaharui di negara tujuan. Walaupun kita tidak mengharapkan terjadi kecelakaan, tapi asuransi ini adalah sesuatu yang harus dan di periksa di perbatasan. Polis asuransi bisa dibeli di perusahaan asuransi dekat denga perbatasan antara Bahrain dan Saudi, dan itu bisa dilakukan pada hari keberangkatan.
  • Pajak mobil. ini yang paling penting dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengurusnya. Pajak pembelian mobil biasanya di keluarkan pada saat membeli mobil di tempat tertentu dan sesuai dengan nomor mesin dan nomor registrasi mobil tersebut. Tapi pada saat nomor registrasi mobil berubah, tentunya surat-suratnya pun menjadi berubah disesuaikan dengan nomor registrasi eksport yang baru. Surat-surat ini dikeluarkan oleh dealer mobilnya, jadilah Keith harus mengurusnya dengan perusahaan mobil Honda yang menjual mobil tersebut.
  • Mobil ini bisa di import masuk Qatar apabila pemilik mobil ini memiliki visa tinggal (Residence Permit) di Qatar atau minimal visa kerja. Apabila Keith tidak memiliki visa ini maka dia tidak bisa mengimport/mengendarai mobil ini masuk ke Qatar, walaupun dia berhasil menyeberang melalui Saudi.

Semua urusan dokumen perjalanan beres maka berangkatlah Keith menyeberang melalui tanah Saudi dengan semua barang-barang sisa, meninggalkan aparteman kami di Doha yang sekarang kosong.

Pindahan

Kurang dari setahun yang lalu saya melakukan pengepakan besar-besaran; dalam rangka pindahan. Ini bukan cuma pindah rumah atau pindah kota, tapi pindah negara; dari Qatar ke Bahrain. Total sekitar 500 kg sampah…. atau mungkin lebih tepat “personal effect“, isinya segala macam barang, kecuali furniture yang berhasil kami  kumpulkan selama tiga tahun tinggal di Doha. Saya pun kemudian membongkar semuanya segera setelah kami tiba di Manama, dan berharap kami akan tinggal di sini minimal lebih dari tiga tahun. 

suasana di kantor

suasana di kantor

Kami belum sempat benar-benar mengenal Bahrain, walaupun sedikit-sedikit kami mulai mengenal tempat-tempat menarik dan layak di kunjungi di, ketika tiba-tiba saja kami harus pindah lagi dan berkemas-kemas lagi untuk kembali pindah ke Qatar…. Yah, inilah nasib expat, kami tidak tau apa yang akan terjadi pada kami besok, kami tidak bisa melakukan rencana jangka panjang…. dalam waktu kurang dari seminggu sesuatu bisa saja berubah 180 derajat, tanpa bisa mempersiapkan apa-apa. 

koridor di kantor

koridor di kantor

Sialnya saya kali ini tidak cuma harus berkemas-kemas di rumah, di kantor pun saya harus melakukan pengepakan. Proyek tempat saya bekerja selama kurang lebih 10 bulan terakhir ini habis. Klient kami bukan hanya memberhentikan kontraktor yang mengerjakan proyek ini, tapi juga memberhentikan kami sebagai konsultan yang bertugas mengawasi pekerjaan kontraktor dan semua yang terlibat dalam pembangunan proyek kota baru di tengah padang pasir Bahrain ini. Jadilah sayapun melakukan pengepakan dirumah dan di kantor; tidak seperti ketika saya masih di Doha, pengepakan dilakukan pelahan-lahan selama dua bulan. Di rumah saya cuma punya waktu tiga minggu sebelum saya harus meninggalkan Bahrain, dan di kantor lebih gila lagi, 2 hari saja sebelum “mover company” mengangkut barang-barang tersebut dari bedeng kemabli ke kantor pusat.

Dipihak lain kantor Bahrain juga agak terlalu bersemangat “mengusir” saya. Sebelum kami di instruksikan untuk mengemas seluruh bedeng, saya dipanggil oleh boss saya, dan kapan paling cepat saya bisa pindah ke Qatar…. Memang saya seyogyanya bersyukur, karena pekerjaan selalu menanti untuk saya, dan saya tidak sempat menganggur; tapi di satu lain pihak, saya tidak bisa bernafas…, (mungkin ada baiknya saya pindah profesi jadi “professional packager.” ) Tapi karena saya cuma pegawai biasa, saya harus menurut saja, dan menyesuaikan diri pada saat kantor kantor pusat menginginkan saya untuk segera pindah. Saya minta waktu tiga minggu sebelum saya benar-benar pindah ke Doha dan dua minggu di antaranya adalah cuti untuk pulang ke Indonesia… Artinya saya cuma punya waktu 1 minggu saja untuk benar-benar beres-beres dirumah, dan mengepak semuanya masuk kotak sebelum saya benar-benar pindah ke Qatar.

    
suasana di rumah

suasana di rumah

Gaya hidup seperti ini benar-benar berbeda dengan hidup normal orang biasa yang tinggal di satu tempat hampir seumur hidup mereka. Orang-orang itu benar-benar mengetahui kota mereka tinggal luar-dalam, mengenal tetangganya dengan siapa mereka tumbuh menjadi besar dan tua bersama, mereka menyaksikan perubahan yang berlangsung secara lambat dari lingkungannya…. Sementara itu kami, seperti layaknya kaum Gypsy saja, atau mungkin lebih tepat suku Beduin, yang nomaden berpindah pindah tempat di padang pasir …..

Rencana Liburan yang Kacau

This is a photo showing airplanes from Emirate...

Image via Wikipedia

Pada beberapa posting yang lalu saya bercerita tentang memesan tiket untuk berlibur ke negara sekitar pada bulan Juni atau Juli, yang menjadi gagal total, karena semua tiket habis. Karena ketakutan ke habisan tiket, kamipun lalu merubah strategi dengan merencanakan beberapa liburan untuk kurun waktu setahun kedepan.

Ada beberapa kemungkinan untuk memesan tiket seperti ini:

  • Cara tradisional adalah datang ke agen perjalanan yang mengatur rute penerbangan dengan menggunakan alternatif dari beberapa airline, dan kemudian memilih yang termurah dengan konkesi yang paling disukai pula. Biasanya prosedurnya adalah kita datang terlebih dahulu untuk memesan tiketnya, dan kemudian beberapa hari kemudian, datang kembali untuk mengambil tiketnya. Cara ini menguntungkan sebenarnya, karena kita juga bisa sekalian memesan hotel dengan saran-saran yang diberikan oleh agen tersebut.
  • Memesan langsung ke penerbangan – airline yang diinginkan, dengan mengkombinasikan dengan paket liburan yang ditawarkan oleh airline tersebut. Kadang-kadang beberapa airline tertentu juga menawarkan sekalian paket wisatanya. Sayangnya biasanya paket wisata ini cuma untuk negara asal penerbangan tersebut. Seperti misalnya hotel dan paket wisata ini cuma untuk Dubai, karena ditawarkan oleh Emirates Airlines. Sistem pebayarannya juga bisa dilakukan pada saat tiket dan voucher di terbitkan.
  • Membeli tiket secara online. Keuntungannya adalah bahwa tiket ini biasanya lebih murah dari pada membeli melalui agen perjalanan. Alasannya adalah karena dengan membeli online kita tidak dibebankan oleh biaya administrasi dan jasa agen perjalanan. Tiket yang diperoleh pun e-ticket yang tinggal langsung di print saja. Kelemahannya tentu adalah karena kita harus langsung bayar saat itu juga dan tiket menjadi tidak bisa berubah lagi.

Kembali ke cerita awal, saya pun lalu memesan tiket online sekaligus berusaha memanfaatkan airmiles yang sudah berhasil kami kumpulkan sebagai seasoned traveller. Cara online ini menurut saya lebih nyaman, karena saya toh sudah tahu akan menggunakan penerbangan apa, dan bisa melihatnya pelan-pelan di rumah, disamping juga lebih murah, karena tidak memanfaatkan jasa agen perjalalanan. Tetapi karena tujuan perjalanan kami adalah ke dua negara sekaligus, dan berusaha memanfaatkan airmiles dari Emirates Airlines yang terkumpul, hal ini tidak bisa dilakukan online, jadilah kami terpaksa tetap pergi ke agen penerbangan Emirates terdekat, yang ternyata merekapun tidak bisa melakukan booking untuk airmile kami; alasannya adalah airmiles tidak bisa digunakan untuk peak season yaitu libur lebaran. Dengan kata lain, agen Emirates pun ternyata tidak bisa membantu kami.

Karena tujuan liburan kami adalah Syria dan Lebanon, yang mana merupakan tujuan populer pada musim libur Idhul Adha Desember nanti, kami pun lalu cepat saja memutuskan tanggal berangkat dan membayarnya sehingga tiket sudah ditangan untuk tujuan liburan ini (tanpa menggunakan airmiles). Rutenya adalah Bahrain – Lebanon dan Syria – Bahrain, jadwalnya Desember 2009. Ini kami lakukan karena pihak agen penerbangan mengatakan bahwa harga tiket akan  naik minggu depan apabila kami tidak membayarnya sebelum itu, disamping mereka tidak mau memberi jaminan bahwa tiket itu tidak akan hangus. Hmmmm… repot juga ya…

Mengingat jadwal liburan kami adalah selalu bersamaan dengan peak season di arabia ini, sampai di rumah, kami pun segera melakukan pembelian online tiket-tiket yang lain; termasuk didalamnya adalah rencana liburan ke Inggris dengan memanfaatkan Airmiles dari British Airways yang hampir kadaluwarsa. Rutenya: Bahrain – Manchaster – Bahrain, jadwalnya adalah pada saat libur Idhul Fitri bulan September 2009

Sementara itu airmiles dari Emirates Airlines belum juga terpakai dan saat pemesanan kadaluwarsa. sayang apabila hangus… dan nilainya lumayan ini, bisa untuk dua orang dan dua kali penerbangan di sekitar Arabia ini, Saya selalu ingin melihat negara-negara Arabia yang lain. Jadilah saya pun segera membeli tiket online untuk perjalanan: Bahrain – Dubai – Bahrain bulan Maret 2010 dan Bahrain – Muscat – Bahrain bulan Mei 2010.

Oh iya, saya jadi ingat saya juga tetap harus pulang ke Indonesia sekali setahun, dan jadwal ini belum masuk dalam jadwal liburan diatas untuk tahun 2009. Saya pikir saya gabung saja salah satu jadwal liburan saya dengan ke Indonesia. Saya memutuskan untuk menggabungkannya dengan liburan ke Syria. Jadi rutenya adalah: Bahrain – Dubai (stop over) – Lebanon – Syria (perjalanan darat) – Dubai – Jakarta – Dubai – Bahrain, bulan Desember selama 20 hari.

rencana perjalanan

rencana perjalanan

Ok, semua beres, dibayar, dan semua tiket sudah ditangan; total ada 5 rencana perjalanan, 4 diantaranya berdua, dan 1 sendirian yaitu pulang ke Indonesia. Semua perjalanan dimulai dan berakhir di Bahrain.

Rencana liburan yang sudah sangat jelas, semua  sudah dibayar dan tiket sudah ditangan tersebut menjadi GATOT alias gagal total, karena saya tiba-tiba harus pindah tugas… bukan pindah ke kota lain, tapi pindah ke negara lain,  dari Bahrain ke Qatar…. dan saya harus pindah ke Qatar dalam waktu tiga minggu dari sekarang, padahal semua rencana liburan tersebut baru dimulai 2 bulan dari sekarang….

Kayaknya jadi serba susah, pada saat membeli tiket terlalu dekat dengan rencana penerbangan, maka rencana liburan gagal karena kehabisan tiket. Tapi pada saat saya memesan jauh-jauh hari… ada hal lain yang diluar dugaan yang membuat rencana tersebut juga jadi gagal….

Satu Hari Sebelum Pindah

Idealnya pindahan itu se sedikit mungkin kepusingan, semua berjalan dengan normal sampai saat terakhir…. Kenyataannya ga segampang itu. Mengemas barang-barang seperti saya tulis di blog sebelum ini sudah dilakukan lebih dari satu bulan sebelumnya, dan dua minggu sebelum keberangkatan saya sudah jenuh dengan menyortir barang-barang:

  • mana yang harus di buang,
  • mana yang masih layak untuk di hibahkan/dijual
  • mana yang ditinggal dan akhirnya
  • mana yang perlu dibawa….

Saya pun sudah menghubungi agen “Mover” yang akan mengirim barang-barang yang terlalu besar untuk masuk kedalam kopor dan menjadi 2 kopor saja. Dan mereka pun sudah memberikan tawaran harga serta menelpon saya kembali, kapan tepatnya saya akan pindah… yang sampai seminggu terakhir belum juga punya kepastian harinya.

Kebosanan menunggu visa lebih dari satu setengah bulan membuat saya ingin cepat-cepat pindah. Jadilah seminggu sesudah visa siap saya memutuskan untuk pindah, yang artinya:

  • menyelesaikan berkemas-kemas terakhir, padahal saya terlanjur beli komputer desktop baru yang besar (monitor sebesar 20″!) yang tidak portable untuk dibawa-bawa…
  • menyelesaikan semua surat menyurat dan dokumen tinggal di negara Qatar ini
  • menyelesaikan pekerjaan kantor yang tersisa, untungnya karena rencana pindah yang berlarut-larut, pekerjaan ini sudah tidak banyak lagi, karena sebagian besar sudah di delegasikan….

Lalu dokumen apa saja yang harus di selesaikan?

  • Menginventaris barang-barang apartemen – untungnya saya tinggal di Apartemen kantor, yang sudah “fully furnished” jadi tinggal masuk keapartemen dan menempatinya. Kemudian meninggalkan setiap saat tanpa pusing dengan urusan kontrak dengan land lordnya. Urusan yang terjadi cuma masalah inventarisasi saja.
  • Menyelesaikan pembayaran PUB (Public Utility BIll) yang terakhir yang mana juga tidak begitu sulit, cuma berlansung beberapa menit saja, tapi memang harus meluangkan waktu.
  • Menyelesaikan sewa mobil dengan Car Rental – Mobil sudah tidak punya lagi karena kecelakaan yang terjadi lebih dari setahun yang lalu.
  • Mengirim cicilan terakhir dari Doha ke Jakarta sebelum kemudian melanjutkan cicilan tersebut dari tempat baru.
  • Mengambil sisa uang dari tabungan, menutup credit card dan menutup bank account… artinya saya akan traveling dengan cash… tak ada atm dan tak ada credit card sama sekali. (Mungkin ini pelajaran untuk saya bahwa lain kali saya harusnya bawa credit card dari Jakarta).
  • Membatalkan keanggotaan Sport Club, karena nilainya lumayan untuk di jual pada orang lain selama sisa bulan yang masih berlaku.
  • Menukar uang QRiyal dengan BDinnar untuk pegangan selama saya belum terima uang di lokasi baru.
Cargo ke Bahrain

Cargo ke Bahrain

Apa lagi ya…. rupanya banyak juga yang harus di kerjakan setelah di list. Rasanya semua beres, hanya hari terakhir masih harus mengurus agen mover yang masih harus datang dan mengemas seluruh barang-barang yang pada akhirnya harus dibawa.

Yang aneh sebenarnya adalah Cargo yang dipilih ternyata hanya melakukan pemaketan setelah jam 10 malam! Jadilah saya menunggi mereka bekerja sampai dengan hampir jam 3 pagi… padahal 12 jam kemudian akan terbang meninggalkan Doha…

Hari terakhir di Doha bukan berarti saya bisa santai ada lagi hal-hal yang masih harus di urus dengan kantor:

  • Membatalkan sambungan dengan Qtel (sambungan telepon rumah dan saluran internet) dan membayar tagihan terakhir.
  • Mengembalikan kunci apartemen ke kantor dan kemudian menanda tangani surat serah terima sehingga kami setuju bahwa kami tidak punya hutang apa-apa dengan kantor dan siap untuk hidup baru…

Semua beres…. pamitan dengan teman-teman dekat di kantor, karena cuma mereka lah teman-teman saya di Doha selama ini, dan cuma tinggal beberapa orang saja yang masih tersisa, kebanyakan mereka juga sudah “MOVE ON” dengan hidup mereka yang baru…

Pindahan

Setelah lebih dari tiga tahun saya tinggal di Doha dan beberapa kali pindah rumah (di Doha) akhirnya saya harus pindah juga, tapi kali ini bukan pulang kampung, ke Indonesia, tetapi cuma kesebarang… alias ke Bahrain.  Tugas saya mengharuskan saya pindah.

Segala macam yang harus dibawa, termasuk meja dan kursi dibelakang kopor tersebut dan home theatre....

Segala macam yang harus dibawa, termasuk meja dan kursi dibelakang kopor tersebut dan home theatre....

Rencana pindahan sebenarnya sudah berlangsung sejak bulan Agustus yang lalu dimana saya setengah mengharapkan akan memulai bekerja di tempat yang baru tanggal 1 September. Ada banyak hal yang terganggu karena rencana pindahan yang tertunda-tunda:

  • Kapan harus mulai berkemas-kemas, memasukkan perabotan kedalam peti atau kopor dan meninggalkan barang yang tersisa.
  • Banyak teman-teman yang sudah menagih untuk pesta perpisahan. Pada saat pesta perpisahan sudah di adakan, ternyata kepergian saya masih lama…. jadi aneh rasanya pesta perpisahan tersebut, karena saya tidak juga meninggalkan mereka.
  • Tidak bisa memakai perangkat tertentu karena sudah terlanjur di kemas dalam paket yang akan di kirim, dan yang paling sial adalah:
  • Rencana liburan keluar negeri menjadi batal, karena tidak tau harus memesan tiket dari mana, dari tempat sekarang atau dari tempat tinggal yang baru nanti.

Lepas dari itu semua, pindahan kali ini memang berbeda dengan pindahan ketika pertama kali saya meninggalkan Indonesia. Pada saat itu, saya masih punya home base dimana saya bisa menyimpan barang-barang besar yang saya miliki dan tinggal angkat kopor untuk pindah ke tempat baru di luar negeri.

Sekarang kondisinya berbeda, saya masih tetap hidup dengan “kopor” saya, hanya saja untuk hidup lebih dari 3 tahun tentunya “kopor” saya sudah bertambah; apabila dulu hidup dengan 1 kopor, tentunya sekarang sudah lebih dari itu. Semua barang harus dipilih:

  • apa yang perlu di bawa,
  • apa yang perlu di buang,
  • apa yang perlu di jual, dan
  • apa yang perlu di hibahkan….

dan kemudian meninggalkan rumah bersih dan kosong.

Terus terang ada susah dan senangnya hidup seperti ini. Senangnya mungkin adalah berpindah tempat ke tempat baru, negara baru, dan petualangan baru. Susahnya adalah saya tidak bisa menyimpan barang-barang sebagai kenang-kenangan, karena tidak ada ruangan untuk itu, saya juga tidak bisa membeli barang-barang untuk jangka panjang, karena akan sangat sulit untuk di bawa-bawa dari satu negara ke negara lainnya, misalnya seperti perabot rumah tangga, baik itu berupa perlengkapan dapur atau furniture untuk rumah….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 235 other followers

%d bloggers like this: