Posts tagged ‘Tenaga Kerja’
Camaraderie a la Indonesia
Ketika saya bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja sekarang kurang lebih hampir lima tahun yang lalu, saya satu-satunya orang Indonesia yang berkerja di perusahaan ini di Qatar. Populasi orang Indonesia di Qatarpun masih sangat sedikit.
Lebih dari sebulan kemudian saya mendapat seorang teman. Tapi karena jam kerja dan tempat kerja kami berbeda, kami jadi jarang bergaul, saya bekerja di “core office” sementara dia bekerja di “site office.” Dia pun memiliki shift yang berbeda, saya bekerja dengan jam yang normal, mulai jam 7.00 pagi dan berakhir jam 4.00 sore, sementara itu jam kerja teman saya itu adalah shift malam. Dia laki-laki dan saya perempuan (seolah-olah gender jadi issue besar), di Arabia, issue gender jadi masalah besar.
Kehidupan sosial? – ini yang sulit, Read more…
Resesi di Negeri Orang
Hampir lima belas tahun yang lalu resesi seperti sekarang ini terjadi di Indonesia, waktu itu saya baru saja kembali dari bekerja di Singapore, belum genap setahun saya bekerja lagi di Jakarta, serta merta semuanya berubah, itu semua karena kondisi ekonomi dan politik di Indonesia. Industri Konstruksi adalah industry pertama yang terkena imbasnya. Waktu itu, kantor tempat saya bekerja, mendapat surat yang pemutusan hubungan kerja dari pihak pemberi tugas dan karena saya ujung tombak, bekerja di proyek yang berhenti, maka saya pun langsung di PHK sore itu juga.
Keresahan memang sudah terasa sebelumnya, yaitu dengan beberapa orang kontraktor asing yang dipulangkan kenegara mereka masing-masing. Walaupun resah, tapi saya masih santai, dengan kepercayaan bahwa sebagai ‘orang lokal’ tentunya segala hal akan lebih mudah. Kan motto orang jawa yang terkenal itu: “…mangan ora mangan asal kumpul…” tetap selalu berlaku.
Meskipun demikian, kemarahan itu tetap ada juga dalam hati saya, dan saya tidak bisa cuma memendamnya saja, walaupun logika saya mengatakan bahwa, sebagai seorang perempuan, muda, single, tidak punya beban keluarga dan tidak punya tanggungan apa-apa; maka saya adalah orang pertama yang di PHK…. Waktu itu saya di PHK bersama teman-teman saya yang ekspatriat. Mereka harus pulang kampung. Prioritas pekerjaan yang tersisa adalah untuk mereka yang: lebih tua, laki-laki, dan mereka yang mempunyai excess baggage… atau tanggungan lainnya.
Mulai saat itulah pola berpikir saya langsung berubah. Ada rasa marah yang waktu itu berkecamuk dalam diri saya; yaitu mentang-mentang saya perempuan, dan masih single, lalu mereka dengan mudahnya memberhentikan saya, dengan pemikiran (mungkin…)”…ah kan dia bisa setiap saat kembali pada orang tuanya…?” ya memang itu mudah saja terjadi, karena kan orang tua saya masih ada, dan mereka akan selalu menerima kembali saya dan membantu saya…. Memang kelihatannya saya tidak punya beban, tapi bagaimana apabila orang tua saya justru tergantung dari dari saya…? Pemikiran saya waktu itu adalah: ini diskriminasi!, bukan Cuma karena saya masih single dan tidak punya beban, tapi juga karena saya perempuan!
Waktu itu saya ngomel-ngomel pada ibu saya dan juga teman perempuan saya, tapi rupanya mereka tidak terlalu risau seperti saya. Sementara itu apabila saya mengeluh pada teman lelaki saya, mereka ternyata lebih sensitive, setengahnya mereka lebih mengerti situasi saya, meskipun kebanyakan dari mereka tidak terkena PHK seperti saya. Sejak saat itu saya pun mengerti sekali apa rasanya terkena PHK dan kehilangan penghasilan. Dan sejak saat itu pula saya memutuskan untuk berpikir seperti laki-laki, tidak tergantung pada suami-suaminya untuk menentukan kemana jalan hidup saya. Saya harus mandiri….
Sekarang ini resesi ekonomi kedua yang saya alami… dan lebih parah lagi saya berada di negeri orang. Sebagai tenaga kerja asing di negara orang, maka saya adalah warga negara ke dua (kalau bukan warga negara ke tiga malah…) yang mana kamipun menjadi prioritas ke dua (atau ketiga) dari negera tersebut untuk dipertahankan, lepas dari ras, dan gender…. Jadi apabila perusahaan bankrupt, maka kamilah yang pertama-tama harus pergi.
Industri konstruksi seperti biasa adalah yang paling terasa imbasnya, dimana pun itu…. Sialnya saya selamanya bekerja di sector ini. Dan saya adalah semua yang saya sebutkan diatas, tenaga kerja asing, di negara asing, tepatnya di Bahrain.
Bahrain boleh saja terletak di Arabia, yang terkenal sebagai negara Petro Dollar…. Tapi jangan salah, cadangan minyak bumi di Bahrain adalah yang paling sedikit dari negara-negara GCC (Gulf Corporation Countries yang termasuk didalamya adalah Saudi Arabia, Qatar, Uni Emirates Arab, Oman, Kuwait dan Bahrain). Bahrain sudah mengalami masa kejayaannya sepuluh tahun yang lalu, sekarang ini ia lebih mengandalkan pada industry pariwisata daripada pemasukan devisa dari sector minyak dan gas. Bahrain juga mengandalkan pada investasi asing untuk membangun negaranya.
Dengan adanya resesi global seperti sekarang ini, Bahrain memang berusaha bertahan. Memang, konstruksi yang sudah berjalan, masih tetap berjalan, tapi bukan berarti segalanya berjalan dengan mulus; ada yang berjalan dengan sangat lambat, dengan berbagai alasan, perlahan-lahan berhenti. Proyek saya sekarang ini adalah yang termasuk dalam kategori terakhir.
Kembali pada diskusi semula, tentang kehilangan pekerjaan dan berpikir seperti laki-laki; saya sebenarnya sudah mulai resah terhadap kelanggengan pekerjaan saya sejak awal tahun ini. Saya juga tau bahwa mencari pekerjaan sekarang ini tidak mudah. Semua orang juga mencari pekerjaan, dan ini berlaku global, tidak Cuma di Indonesia saja seperti hampir lima belas tahun yang lalu.
Terus terang saya tidak tau harus berbuat apa, apabila saya memutuskan untuk mencari pekerjaan, pertanyaannya adalah dimana? Di Bahrain atau di Indonesia atau mungkin di tempat lain? Apakah saya harus berpikir untuk saya sendiri atau saya harus berpikir untuk kami berdua, saya dan partner saya? Apakah mungkin kami memperoleh pekerjaan di tempat yang sama? Apakah ini artinya ‘hubungan jarak jauh?’ Apakah saya harus berpikir seperti perempuan pada umumnya: “pasrah saja sama lelaki saya….?” Aahh yang ini bukan diri saya yang mandiri seperti dulu….
Penerbangan ke Indonesia
Hiburan di dalam pesawat untuk penerbangan ‘intercontinental’ /antar benua seperti ini, selalu penting, apalagi setelah setiap airline itu memberikan fasilitas monitor untuk setiap tempat duduk dan pilihan film yang banyak. Sayangnya hampir semua penerbangan dari Arabia (Qatar Airways, Etihad, dll), dengan tujuan Jakarta, tidak pernah memberikan pesawat dan pelayanan terbaiknya untuk ini, monitor di depan kursi saya rusak, begitu juga sebagian besar monitor yang lain… dengan kata lain seluruh sistem hiburan untuk penerbangan ini tak ada yang berfungsi. Yang saya heran tak ada penumpang yang complaint.
Anehnya ketika saya terbang kembali ke Abu Dhabi, dan kali ini berangkat dari Manila (bukan dari Jakarta), semua fasilitas pesawat berfungsi dengan prima. Tontonan dalam pesawat sesuai dengan buku panduan; monitor di depan kursi pun lebih besar, tempat duduknya lebih bersih; minuman (juice/air) pun di sirkulasikan setiap jam tanpa diminta. Semua itu berbeda 180 derajat dengan pelayanan yang diberikan oleh pesawat yang sama dengan tujuan Jakarta.
Setelah ngobrol dengan seorang yang bekerja di salah satu penerbangan di Arabia… ternyata diapun membenarkan, bahwa penerbangan dengan tujuan dan dari Indonesia, adalah “paling menguntungkan”, karena:
- Penumpang yang mayoritas pembantu itu tidak butuh tontonan dalam pesawat; tidak biasa untuk nonton tv/film baik ditempat kerjanya atau di kampungnya. Belum lagi mengoperasikannya yang sulit, tontonannya pun sulit dimengerti, bukan bahasa Indonesia. Dengan kata lain, sistem individual monitor yang tidak berfungsi adalah tidak penting untuk penerbangan jalur ini dan tidak ada yang mengeluh
- Majalah/brosur yang tersediapun tak perlu diperbaharui… tidak akan ada yang membaca dan mengerti funginya juga, karena: penumpangnya pun tidak ada yang tertarik untuk membacanya…. dengan kata lain tak perlu rutin diperbaharuinya.
- Minuman/makanan yang disajikan pun terbatas, untuk minta air putih saja tidak mudah, sering harus ambil sendiri. Apalagi minuman keras, yang sering kali diminta oleh penumpang penerbangan ke Eropa/Amerika/ketempat tujuan lainnya, tapi ke Indonesia, mungkin bisa di hitung dengan jari.
- Toiletnya yang dibiarkan kotor, terutama pada saat mendekati tujuan… tak ada yang filing a complaint.
Dengan kata lain, budget penerbangan ke dan dari Indonesia bisa ditekan dibandingkan dengan penerbangan tujuan negara lain; masalah yang timbul paska penerbangan, seperti penumpang yang complain terhadap pelayanan yang buruk dll, hampir tidak pernah ada; walaupun pelayanan dan segala macam fasilitas yang lainnya tidak sempurna. Pekerjaan pramugarinya pun tidak repot, karena penumpangnya tidak rewel dan mereka tidur sepanjang perjalanan….
Liburan Pulang Kampung
Selama saya bekerja di Luar Negeri, paling tidak saya selalu pulang ke Indonesia sekali setahun. Apabila rejeki memungkinkan saya pulang lebih dari satu kali setahun.
Ada banyak penerbangan dari Timur Tengah tujuan Indonesia, dan saya selalu berusaha untuk mencoba satu persatu dengan Qatar Airways, Emirates Airways, dan Etihad Airlines. Lain kali mungkin saya akan mencoba yang kurang popular, Kuwait Airways.
Setiap kali saya pulang, selalu musim liburan, apakah itu dalam rangka Hari Raya Eidl Fitr. atau Eidl Adha. Karenanya saya selalu bersama-sama dengan Tenaga Kerja Indonesia yang mencari peruntungan di Arabia, apabila tenaga kerja kasar atau pembantu; percaya atau tidak mayoritas perempuan. Hidup Perempuan Indonesia! yang walaupun di siksa di negara orang, tapi mereka tetap menjadi pemasukan devisa, minimal untuk kampungnya….
Komposisi Penumpang
Komposisi penumpang yang pesawat yang saya tumpangi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang 40% adalah pembantu Indonesia, 20% orang Indonesia yang datang dari Eropa dengan menaiki Qatar Airways atau Emirates Airways dan transit di Doha atau Dubai untuk terus ke Indonesia; sisanya adalah orang asing dengan tujuan akhir Singapore. Sesudah menurunkan penumpang di Singapore, penumpang baru naik, yang kebanyakan adalah pekerja/turis Indonesia di Singapore.
Percaya atau tidak, “pulang kampung” kali ini, komposisi penumpang berbeda, karena jumlah penumpang pembantu berkurang, tidak lagi 40% tapi cuma 20% saja, persentase yang sama juga mewakili turis asing yang datang ke Indonesia (pesawat ini langsung dari Abu Dhabi – Jakarta, tanpa stop-over di Singapore). Sisanya, yang 60% itu adalah tenaga kerja professional Indonesia yang kebanyakan laki-laki!
Ini pemandangan menggembirakan menurut saya, karena artinya:
- Semakin banyak tenaga professional Indonesia yang mendulang dolar… dibandingkan dengan cuma menjual pembantu saja.
- Semakin banyak pemasukan devisa Indonesia, karena mereka (para professional) itukan nilai jualnya lebih baik dibandingkan cuma menjual tenaga kasar saja.
- Penghargaan Indonesia di luar negeri membaik, karena selama ini Indonesia dikenal cuma bisa mengekspor pembantu saja.
- Professional Indonesia juga di akui di Luar Negeri, dan tidak cuma dari industri Minyak dan Gas saja, tapi di Industri yang lain.
Penumpang yang 20% sisanya, yang adalah turis asing, memang belum bergerak banyak, tapi sudah lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya yang cuma sekitar 10% saja. Walaupun mereka memang bukan lagi turis dari Eropa, seperti yang kebanyakan di harapkan oleh Indonesia (orang eropa punya “kantong” yang lebih tebal…). Tapi turis asing itu datang dari negara-negara Arabia: Saudi Arabia, Abu Dhabi, Jordan, Lebanon dll. Tujuan akhir pun untuk mereka tentunya bukan Bali (seperti kebanyakan orang Eropa) tapi lebih banyak adalah kota-kota lain di Pulau Jawa seperti Bandung, Yogyakarta, Solo dll. Sayangnya mereka bukan orang Arab yang berkantong tebal…
Visa Kerja
Apa yang harus dilakukan sesudah tanda tangan draft kontrak yang mengatakan bahwa kita setuju untuk pindah pekerjaan? Tentunya kita tak perlu melakukan apa-apa, hanya tinggal tunggu waktu saja sesuai dengan perjanjian untuk melapor di kantor baru pada tanggal yang disepakati.
Kalau bekerja di Indonesia, tentunay tak banyak yang harus dilakukan; sambil menunggu waktu, kita tentunya harus mengajukan surat pengunduran diri pada perusaah tempat kita sedang bekerja. Kalau kita akan pindah ke luar negeri, tidak semudah itu, karena kita harus memasukkan data pribadi dan dokumen imigrasi untuk di proses oleh negara tujuan. Data pribadi tersebut termasuk:
- Fotokopi ijasah (minimal, yang bisa di scan lalu di email saja cukup) atau untuk negara tertentu membutuhkan ijasah yang di legalisir yang asli… artinya kita harus mengirimkan dokumen tersebut melalui pos internasional (yang harganya tidak murah) disamping menjamin bahwa ijasah ini sampai di tempat tujuan….
- passfoto atau dalam bahasa inggrisnya adalah passport photo… biasanya ukurannya tertentu, ada yang 3 x 4 cm, ada yang 1 x 1 inci, atau ada juga yang 5 x 5 cm. Warna latar belakangnya pun berbeda-beda setiap negara tujuan.
- Fotocopy / scanned passpor tujuannya adalah untuk memperoleh visa kerja.
Sesudah semua hal diatas di kirim maka yang tak ada lagi yang harus dilakukan, kecuali menunggu. Berapa lama kita harus menunggu? Ini yang sulit di tebak.
Pengalaman saya yang terjadi sekarang ini mungkin patut di cermati… sialnya memiliki paspor Indonesia.
Bersama-sama dengan seorang teman dari kantor yang memiliki paspor Inggris, kami merencanakan untuk pindah bersama-sama ke Bahrain, masuk ke kantor yang sama pula. Kami mulai mengurus visa dan segala macam tetek bengeknya bersama-sama. Pihak kantor Bahrain pun menjanjikan bahwa dalam waktu kurang lebih dua minggu visa akan selesai dan kami bisa bersama-sama pindah ke Bahrain.
Dua minggu kemudian Visa teman saya yang berpaspor Inggris, selesai. Bagaimana dengan nasib visa saya yang harus di cap di paspor Indonesia? Sekarang sudah lebih dari satu bulan saya menunggu dan hasilnya tetap tak jelas. Petugas yang menguruskan visa mengatakan bahwa ada banyak antrian untuk visa dari negara-negera Asia.
Jengkel saya mendengarnya… rupanya diskriminasi dalam segala bentuk masih terus berlaku dimana-mana. Saya juga tak bisa berkomentar apa-apa ketika seorang teman saya yang berpaspor Inggris itu mengatakan: “My white skin gives me ticket to everywhere…” Sombong memang kedengarannya… tapi kasus diatas adalah contoh kecil kebenaran kata-katanya, kulit putih, paspor dari negara Eropa Barat… semuanya lebih mudah!!!
Mencari Pekerjaan di Luar Negeri 2
Pertama kali saya mendapatkan pekerjaan di kawasan Gulf ini bukan melalui agen, tapi melalui ajakan seorang bekas clien kantor saya di Indonesia, maklum bekerja di industri konstruksi jalurnya berbeda dengan bekerja di indusri minyak dan gas yang sudah tidak asing lagi dengan peluang bekerja di Timur Tengah. Sialnya lagi Agen Tenaga Kerja Indonesia yang terpercaya koneksinya khusus untuk industri minyak dan gas saja.
Saya pun lalu menghubungi agen internasional yang jaringannya mulai dari Australia, Asia Timur dan Timur Tengah dan Eropa… Tadinya saya kurang yakin apakah mereka akan mengakui keberadaan expatriat Indonesia; dari pengalaman di kantor orang Indonesia kurang populer, dari mulai bahasa Inggrisnya yang lemah sampa daya tahan untuk hidup dirantaunya….
Setelah menghubungi berbagai “Head Hunter” internasional, merekapun menelepon saya melalui telepon Internasionalnya. Sayangnya di telepon oleh agen bukan berarti saya sudah mendapatkan pekerjaan, karena mereka baru mendata lagi dan bertanya-tanya tentang pekerjaan apa yang saya cari dan lain-lain. Seolah-olah CV yang saya kirim melalui websitenya kurang menjelaskan… atau memang tidak menjelaskan… entah lah.
Data sudah mereka miliki lengkap, barulah mereka menelepon kembali untuk wawancara awal…, ini masih dengan agen. Merekapun lalu menjanjikan bahwa clien mereka memiliki banyak clien yang semuanya bonafide…. Mungkin ini penting, karena terus terang saya tidak berminat untuk bekerja dengan clien lokal (arab), lebih baik bekerja dengan perusahaan Internasional, dengan manajemen Barat. Agen-agen inilah yang kemudian membuatkan janji dengan clien mereka untuk wawancara langsung.
Rupanya wawancara pun ada berbagai cara: wawancara melalu telepon atau tatap muka. biasanya mereka akan memanggil calon pegawainya untuk datang ke kantor mereka, atau apabila kebetulan mereka mampir untuk bisnis yang lain.
Sayangnya dari lebih dari 10 kali wawancara, cuma satu yang benar-benar berhasil nyangkut dan cocok dengan segala klasifikasi pekerjaan yang dicari dan tentunya imbalan jasa yang dicari…
Paket Gaji tergantung dari Lokasi Penempatan
Sebuah survey mengatakan bahwa me mutasi pegawainya ke luar negeri, terutama untuk perusahaan multinational mengatakan bahwa mereka yang bersedia di tempatkan di luar negeri biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk akhirnya bersedia ditempatkan di luarnegeri, atau bahkan sesederhana seperti di mutasi ke kota lain.
Lokasi
Hal tersebut karena ada perbedaan imbalan jasa yang signifikan untuk tiap-tiap lokasi penempatan, Ada yang bisa mencapai 40% lebih besar dari penduduk lokal, yang melulu dalam bentuk tunjangan tambahan diatas gaji dasar. Dipihak lain apabila kita kurang beruntung, mungkin saja hal tersebut diatas tidak pernah di tawarkan, pada renumerasi mutasi kita, mengingat segala kesulitan yang mungkin dihadapi di lokasi global.
Pertanyaannya adalah lokasi mana yang paling menarik di dunia untuk relokasi? Kota-kota di Eropa mungkin menarik untuk sebuah relokasi, mengingat fasilitas infrastruktur dan segala kebudayaannya yang sudah sangat mapan selama berabad-abad. Amerika mungkin tempat lain yang juga tak kalah menariknya. tapi jangan salah Amerika tidak selalu tampak seperti yang digambarkan di film-film Hollywood. Kenyataannya bisa lebih jelek dari pada yang kita biasa liat di film.
Dimata Ekspatriat Barat (Eropa, Amerika, dan Australia) London mungkin tempat yang menarik (begitu juga dimata Ekspatriat Indonesia tentunya) dan tempat lain yang dinilai eksotik adalah Shanghai, yang secara finansial menggiurkan. Kenyataannya, walaupun imbalan jasanya sangat menggiurkan, tetapi biaya hidup di London sangat tinggi, dan jangan lupa, nilai itu mungkin kira-kira sama seperti yang diterima oleh penduduk London kebanyakan (dengan catatan pekerjaan yang sama). Gambaran saja, survey diatas mengatakan bahwa 45% dari mereka yang ditempatkan di London mengatakan bahwa perusahaan akan memberikan mereka tunjangan hidup untuk relokasi mereka. Tapi keuntungan ini segera harus di keluarkan untuk “non-dom fee“, sistem mana baru saja di keluarkan oleh pemeritah Inggris untuk mereka yang tinggal di Inggris untuk jangka panjang. Biaya ini sebesar GBP 30,000 harus dibayarkan oleh para ekspatriat yang tinggal di Inggris jangka panjang dan mereka yang berusaha menghindar dari pajak pengdapatan dari mereka yang memperoleh penghasilan dari luar Inggris.
Sebaliknya di Shanghai dapat dipastikan bahwa andan memperoleh keuntungan fiskal yang bisa mencapai 75%.
Mencari Pekerjaan di Luar Negeri-1
Untuk banyak orang, idea untuk dimutasi bekerja di luarnegeri adalah impian. Beberapa diantaranya mungkin cukup beruntung impian tersebut diatas menjadi kenyataan.
Pertanyaannya adalah apa yang membedakan mereka yang berhasil merealisasikan impian itu, bekerja diluarnegeri dengan pengalaman dan cerita yang menarik dengan gaya hidup yang berbeda dengan kalau tinggal di Indonesia?
Keberanian! – ini yang membedakan. Keberanian untuk melamar, dan membuat surat lamaran dalam bentuk CV dan cover letter yang tepat dan di kirim pada perusahaan atau agen tenaga kerja yang tepat. Atau intinya adalah semua tergantung ke cocokan….
Melamar Pekerjaan: - apabila anda menginginkan sesuatu dalam hidup ini, apa yang harus dilakukan adalah bekerja untuk mendapatkannya. Kesepatan seringkali datang pada saat yang tak terduga. Karenanya mimpi intuk bekerja di luar negeri bukanlah hal yang tidak mungkin pada saat anda mulai mencari-cari kesempatan di luarnegeri.
Apabila anda memiliki kemampuan untuk berbahasa Inggris “sedikit” saja apalagi ada bahasa ketiga, mungkin saja impian anda bisa menjadi kenyataan, karena jelas anda memiliki kelebihan dari pada calon yang lain. Di kawasan Timur Tengah misalnya, anda tidak perlu bisa bahasa Arab untuk bisa berfungsi disini, cukup bahasa Inggris yang memadai, maka anda sudah bisa hidup…. dan mereka sangat memerlukan bermacam-macam tenaga kerja….
Jangan lupa, anda bisa menggunakan fasilitas internet untuk mencari kesempatan kerja di luar negeri, mulai dari agen tenaga kerja hingga perusahaan yang membutuhkan… tinggal menghubungi mereka saja, maka anda akan mulai di cari oleh mereka (baca juga tulisan sebelumnya tentang Cara Kerja Agen Tenaga Kerja dan Tugas Agen Tenaga Kerja).
Membuat Surat Lamaran: – Hal yang pertama yang harus dilakukan adalah membuat surat lamaran, dan untuk go internasional tentunya sebaiknya menghubungi agen tenaga kerja internasional secara online. Disini pentingnya mempunyai CV dan “Cover Letter” yang baik, gampang di baca dan menarik.
CV inilah yang kemudan menjadi kunci mereka untuk menghubungi anda. Alat anda untuk berjualan tentang kemampuan anda, pengalaman anda dan lain-lain.
Ini artinya adalah CV/resume anda serta “cover Letter” anda harus dibuat secara profesional, baik, singkat dan jelas, dan tentunya dalam bahasa Inggris yang baik dan benar. Apabila ini sulit, sebaiknya anda menghubungi seorang profesional khusus yang memperbaiki CV anda. Apabila CV anda tidak cepat mengenai tujuan, maka besar kemungkinan agen ini akan mengabaikan CV anda, mengingat mereka tidak punya banyak waktu untuk meriview satu persatu dari begitu banyaknya surat lamaran yang mereka terima diari penjuru dunia.
Dalam CV anda ini jangan lupa cantumkan data pribadi anda, seperti nomor telepon anda yang bisa setiap saat dihubungi, alamat email yang sering anda buka. Jangan lupa dalam CV anda, cantumkan juga orang yang bisa memberikan referensi tentang anda, nomor telepon dan alamat email mereka.


















