Posts tagged ‘tourism’
Photographing Burj Khalifa
This is my first time to see The New Dubai and Burj Khalifa, and as we are meeting Keith’s daughter and her new baby the next day, I thought I’d better to get it off my chest to photograph Burj Khalifa and it’s singing fountain that only happens in the evening. I asked a shop keeper of a souvenir shop in Dubai Mall when will the Singing Fountain start and he said “It won’t start before 6.30 pm and it will only show every 30 minutes.
As a good photography enthusiast, I learned that:
- Do a reconnoiter how to get to the location of where I would shoot the picture later on and how to get there.
- A nicer picture should be taken during the magic hour, or around sunset; and sunset was supposed to be around 6.02 pm and twilight should be at 7.01 pm.
- Come early and prepare my photography gear for action.
Thus I decided to arrive between 5.30 to 6 o’clock, so that still plenty of time for me as well as I won’t keep my husband waiting too long… the thing that he has to put up with – waiting for me photographing nonsense. However, I did not expect is this:

The crowd who watch the singing fountain
There’s no way to find a space for me to set up my tripod and take pictures over those heads and arms with cameras. I wonder where are all these people are coming from? If they are residents, how often do they take pictures of this as the singing fountain happens everyday? If they are tourists like me, I salute Dubai for it’s ability to attract tourism so much.
Another hick-up I had was as I was using my new camera, which is a Nikon D600, a full frame camera but able to mount a DX lens. What I didn’t quite understand was how to look for the framed picture through the view finder, thus this is the result:

Top end of the building was cut from the picture.
I realized then that the location I chose to take the picture was too close to the object and too low. I needed to be further away from the object like this:

Further away, but missing the singing fountain – still too low
What do you think???
I also uploaded some picture on Nin’s Lenscape - my photography blog
Pariwasata, apa yang dicari?
Kurang lebih sebulan sebelum libur Lebaran, seorang teman yang sama-sama melakukan ekspatriasi, sibuk berusaha menghubungi saya karena dia ingin menghabiskan libur Lebarannya dengan berwisata ke London. Langkah pertamanya adalah tentu membuat visa ke Inggris. Saya pun mengatakan padanya. “…baca saja blog saya dengan judul Membuat Visa ke Inggris…” posting yang ini memang saya buat khusus untuk mereka yang ingin mengurus visa untuk Inggris tapi tidak tinggal di Indonesia (Jakarta). Tapi rupanya dia tidak cukup sabar untuk membaca blog saya itu dan sebenarnya dia ingin jalan pintas saja: kemana persisnya harus pergi untuk membuat visa ke Inggris untuk mereka yang tinggal di Doha.
Memang blog saya itu dibuat khusus untuk orang Indonesia yang tidak tinggal di Indonesia, tapi memang itu tidak memuat khusus kemana harus pergi membuat visa apabila tinggal di Doha, Qatar…. alasan saya sederhana saja, ada begitu banyak negara diluar Indonesia untuk mengurus visa ke Inggris.
Sesudah memperoleh visanya diapun kemudian pusing dengan cara membeli tiket pesawatnya…. apakah harus pergi ke agen perjalanan (tulisan saya: Kapan harus pergi ke Agen Perjalanan memuat tentang ini) atau cukup membeli tiket online saja. Belum selesai masalah tiket, dia pusing lagi dengan memilih tinggal di hotel apa di London…. Pusing berikut adalah apa yang mau di lihat di London. Dengan waktu jalan-jalan selama 5 hari, diapun kebingungan bagaimana cara menghabiskan waktu keliling London selama itu.
Terus terang dengan pertanyaan dan kebingungan teman saya itu, saya jadi berpikir ternyata cukup ruwet untuk merencanakan perjalanan wisata mandiri. Berikut ini adalah tip saya untuk memecahkan masalah seperti diatas:
- Agen perjalanan bisa membantu kita untuk memberikan paket pesawat dan hotel. Tentu hotel yang ditawarkan minimum hotel berbintang 3 keatas. Agen itu juga bisa memberikan alternatif lokasi hotel di kota yang kita tuju. Pada kenyataannya, informasi yang diberikan Agen sebenarnya tidak membantu kita sama sekali. Contohnya: hotel pertama kali saya berkunjung ke Bahrain adalah: Mercure hotel…. atas rekomendasi agen, ini hotel bintang 4 dan “all suite hotel”…. apa artinya? Lokasinya di daerah “Seef”… dimana ini Seef di Bahrain…? untuk orang yang belum pernah keBahrain, nama itu sama sekali tidak ada artinya…. hotel Mercure seperti apa kualitasnya…. Terus terang ini seperti membeli kucing dalam karung….
- Memesan semuanya lewat internet memberikan kita kontrol penuh terhadap apa yang kita pesan, lokasi hotel… tentunya sudah kita cek lebih dahulu dengan Google Map atau Google earth, dimana lokasi hotel itu di kota tersebut, apakah di pusat kota, atau di pinggir kota…. Alternatif hotelnya pun bisa lebih bervariasi, dari mulai hotel bintang 1 sampai dengan bintang 6…. dari mulai nama hotel yang terkenal sampai dengan hotel “mickey-mouse.” Kerugiannya tentu adalah kita membutuhkan waktu yang banyak untuk melakukan riset itu semua. Terus terang saya lebih senang melakukan hal yang terakhir ini. Dan ada banyak alamat website yang memberikan fasilitas ini, semuanya biasanya memberikan foto hotel yang bersangkutan, peta dan apa saja yang menarik disekitar hotel itu, termasuk berapa jaraknya dari hotel tersebut dan biasanya mereka juga melengkapi foto hotel yang bersangkutan, peta dan apa saja yang menarik disekitar hotel itu, termasuk berapa jaraknya dari hotel tersebut:
- active hotels
- booking
- hotels
- HotelClub
- Late Rooms dan masih banyak lagi
- Pertanyaan keempat adalah ‘apa yang mau di lihat’ apabila kita melakukan perjalanan wisata? Sebenarnya banyak hal yang bisa dilihat di suatu kota, tergantung minat kita…. apa mau:
- shopping? atau
- melakukan wisata museum setempat, gunanya tentunya adalah untuk mengetahui sejarah dan bagaimana budaya setempat berkembang
- wisata arsitektur?
- menikmati kehidupan malam
- menikmati makanan lokal dan minumannya…
- ada banyak hal yang bisa dihabiskan disuatu kota besar, termasuk menikmati taman kotanya, kebun binatangnya dan lain-lain…. bosan dengan itu semua,
- ada kota lain disekitar kota besar yang mungkin cukup menarik untuk di kunjungi.
Menjawab pertanyaan yang ketiga ini sebenarnya yang paling sulit, karena setiap orang memiliki beda keinginan. Saya tidak bisa merekomendasikan apa-apa untuk memberi saran apa yang ingin kita lihat apabila kita mengunjungi kota negara lain. Setiap kota dan negara berbeda-beda apa yang dilihat, dan setiap orang memiliki alasannya sendiri untuk memilih negara dan kota tersebut untuk di kunjungi. Itulah sebabnya mungkin setelah melalui proses pertama (mengurus visa) sampai dengan proses ke tiga, tahap ke empat adalah membeli buku perjalanan – travel book - dari situ kita mengetahui tempat-tempat menarik yang perlu kita kunjungi di kota tujuan. ada banyak penerbitan yang memberikan panduan lengkap tujuan wisata populer, termasuk didalamnya adalah peta kota tersebut, seperti terbitan Lonely Planet misalnya. Rekomendasi saya adalah terbitan DK Eyewitness Travel, penerbit ini memberikan berbagai jenis panduan wisata dan yang penting adalah bergambar. Sayangnya buku-buku panduan wisata ini agak sulit di dapat di Jakarta kecuali terbitan Periplus.
Setelah bercerita panjang lebar tentang tempat-tempat yang patut di kunjungi di London, dan menyarankan untuk segera membeli buku panduan wisata London, teman saya itu akhirnya membeli juga buku tentang London yang di lengkapi dengan petanya…. tapi dia sebenarnya tidak perduli dengan peta tersebut….dan sepertinya sikap seperti ini mewakili orang Indonesia pada umumnya, artinya:
- Orang Indonesia lebih senang melakukan wisata luar negeri dengan rombongan dan semuanya diatur oleh agen perjalanan, lengkap dengan pemandu wisatanya yang dibawa dari Indonesia sebagai Team Leadernya. Ini semua menyelesaikan masalah diatas, dari mulai mencari visa, membeli tiket, mencari hotel, dan mengatur apa saja yang harus dilihat di tempat yang ingin di kunjungi itu.
- Tidak mudah mencari “travel Book” tentang negara-negara tujuan wisata, baik yang popular apalagi yang tidak popular… karena itu tidak dibutuhkan, semua sudah di atur oleh paket yang diberikan oleh Agen Perjalanannya. (apabila saya ingin sarkastik maka komentar saya adalah: budaya membaca belum merasuk ke dalam kebanyakan orang Indonesia…)
- Kecanggungan untuk browsing dan riset tempat-tempat wisata melalui internet, membuat tujuan wisata Indonesia pun tidak pandai mengemas webpage nya menjadi sarana marketing yang informative dan kemudian menarik untuk di kunjungi. Pada jaman sekarang ini sebenarnya “tidak punya web page = tidak dikenal = tidak dikunjungi.
- Kurangnya minat membaca travel book juga membuat sulitnya mencari informasi tentang travel destination di Indonesia yang dibuat oleh orang Indonesia, sehingga tujuan wisata yang dikelola oleh orang Indonesia tidak masuk ke travel book internasional, mungkin ini sebabnya turis asing cuma datang ketempat yang itu-itu juga….
- Peta juga menjadi kendala; tidak semua kota di Indonesia memiliki peta, baik peta sederhana ataupun peta lengkap, dan peta tersebut juga tidak di update setiap tahun. Peta yang adapun tidak di jual di setiap toko buku atau supermarket. Peta perjalanan antar kota yang muncul setiap menjelang lebaran, dibuat secara independent dan tidak di koordinasi dengan pemerintah daerah dan Departemen Pekerjaan Umum, sehingga rambu-rambu jalannya tidak singkron dengan yang ada di peta

rambu lokasi yang juga menerangkan tempat pariwisata di tempat itu, dan tempat parkirnya
Pemikiran diatas adalah sebenarnya cuma uneg-uneg saja, masih banyak hal lain yang perlu di perbaiki untuk meningkatkan minat traveling dalam negeri dan juga meningkatkan kunjungan wisata ke Indonesia. Pertanyaan saya adalah tugas siapa sebenarnya semua itu? Departemen Pariwisata, Pemerintah Daerah atau….?
Ngarai Cheddar
Pernah dengar nama Cheddar? para penggemar keju di Indonesia pasti pernah dengar nama ini, karena keju jenis Cheddar buatan Kraft sangat populer di Indonesia. Tapi siapa yang tau kalo nama Cheddar ini berasal dari desa Cheddar di Inggris yang terletak di sekitar Cheddar Gorge di Inggris. Lalu apa istimewanya dari desa Cheddar ini, dan apa sih Gorge itu?
Gorge itu sama dengan Canyon dalam bahasa Inggris Amerika dan artinya adalah lembah, yang terletak di antara dua tebing yang curam, biasanya ini terjadi karena erosi sungai dan proses ini terbentuk selama ber ratus-ratus tahun lamanya sesudah terjadi proses pengerasan dan sebagainya.
Apa yang istimewa dari Ngarai Cheddar yang terbentuk sekitar 9000 tahun yang lalu? Ditemukan baru sekitar tahun 1903 dan kemudian menjadi kawasan wisata Inggris dan bisa dikunjungi dalam sehari saja. Sayangnya untuk mencapai tempat ini agak sulit. Apabila kita datang dari London, maka lama perjalanannya adalah kira-kira 2,5 jam bermobil atau mungkin sama dengan seperti dari Jakarta ke Bandung lewat jalan tol. Dari kota Bath mungkin lebih dekat, kira-kira cuma 30km saja.
Jalanannya pun sempit (lihat foto-foto pada English Country Side) dan berkelok-kelok dan mengingatkan saya pada jalur Jakarta -Bandung melalui Puncak Pass, yang sepanjang jalan tersebut adalah kebun teh. Bedanya mungkin adalah pada suatu kelokan tiba-tiba pemandangannya pun berubah.
“Cheddar Gorge ini unik…” kata partner perjalanan saya, “cuma satu-satunya di Inggris…” dan ketika mobil kami memasuki kelokan jalan berikut, tiba-tiba saja pemandangan landsekapnya berubah menjadi sangat dramatis… terus terang, yang ini tidak ada disepanjang jalan puncak (di Jawa Barat). Kami tiba-tiba saja berada di tengah jurang dengan kedua tebing batu tinggi di kedua sisi jalanan kami, yang membuat jalanan menjadi abu-abu dan lebih gelap, karena bayangan tebing yang menghalangi sinar matahari.
Walaupun sudah tengah hari, karena kami datang pada musim semi, dan belum musim turis, maka tempat ini masih sangat sepi, bersama kami cuma ada satu mobil lain yang juga berhenti di tempat parkir yang sudah disediakan.
“Pada musim panas, tempat parkir ini sangat penuh… pada jam dua siang seperti ini akan sangat sulit mendapatkan tempat parkir….” begitu penjelasan partner saya yang kebetulan berasal dari kawasan ini. Memang harus di akui bahwa di tepi jalan dua arah yang masing-masing cuma satu jalur ini, disediakan juga parkir sejajar dan di tempat-tempat terbuka (yang cuma sedikit itu) disediakan tempat parkir untuk bus besar. Rupanya musim panas tempat ini sangat popular dengan turis.
Lalu apa yang menarik dari Cheddar Gorge ini sampai orang datang berbondong-bondong ke tempat ini?
- Gua-gua yang terbentuk ribuan tahun itu merupakan obyek wisata edukatif bagi anak-anak sekolah untuk berkenalan dengan geologi, disamping kemasan tourismenya yang memberikan informasi ringan dilengkapi penjelasan audionya yang bisa kita pinjam sebelum memasuki gua-gua tersebut. Konon disalah satu gua ini ditemukan Manusia Purba Inggris.
- Untuk mereka yang hobby panjat tebing, inilah tempatnya…. dan jangan salah walaupun sistem keamanannya sangat diawasi, tapi musibah panjat tebing sering terjadi… mungkin karena medannya sangat sulit.
- Apabila Panjat Tebing terlalu sulit, maka alternatif lainnya adalah hiking yang tidak kalah menariknya
- Desa Cheddar yang berada tidak jauh dari ngarai ini memiliki hasil pertanian yang terkenal keseluruh dunia, yang menjadi ciri khasnya… keju jenis cheddar yang lezat. dan ‘warung-warung’ sepanjang jurang ini menjual keju ini sebagai souvenir utamanya….
- Menara Pemantau dengan 274 anak tangganya untuk melihat kawasan ini dari ketinggian tertentu
Sayang kami datang pada saat off season, sehingga obyek wisata ini, baik gua maupun toko-toko souvenirnya tutup semua. Tapi lumayan, saya berhasil mengabadikan sedikit foto-foto dari kawasan ini, meskipun saya harus melawan udara dingin.
Apa yang bisa saya pelajari dari Cheddar Gorge ini?
- Bagaimana pandainya orang Inggris mengemas industri pariwisatanya dengan menyisipkan informasi yang berbau pendidikan, sehingga awam menjadi lebih mengetahui tentang geologi, arkeologi dan alamnya setelah mengunjungi tempat ini selain menikmati pemandangannya.
- Membangun museum pra sejarah di dekat itu untuk mengabadikan penemuan manusia purbanya dan kembali lagi pada masalah edukatif tadi, disamping juga memberikan pemasukan tambahan untuk pemeliharaan tempat tersebut.
- Walaupun dilengkapi dengan rumah makan dan “warung kopi” tapi jumlahnya tidak sampai merusak pemandangannya, sehingga keasriannya masih terjaga, tanpa terlalu merusak lingkungan.
- Walaupun lokasinya sulit, tapi tepat di ngarai itu tidak ada sama sekali tempat penginapan, rupanya sistem perencanaan lingkungan yang baik, yang tidak mengijinkan dibangun penginapan kecuali di desa terdekat, sehingga ini pun membantu ekonomi penduduk setempat dengan industri Bed & Breakfast mereka.
Berkunjung ke Stonehenge
Bagi mereka yang menyukai sejarah dan arkeologi, tentunya kata dan nama stonehenge ini tidak asing; itu loh konstruksi pertama yang dibuat oleh umat manusia jaman pra-sejarah.
Lokasi
Dimana persisnya Stonehenge ini? Untuk yang samar-samar mengetahuinya, Stonehenge terletak di negara Inggirs, sayang agak jauh dari kota London. Tapi jangan kuatir, ada banyak paket tour di hotel-hotel di London dan kota-kota besar lainnya di Inggris yang menawarkannya. Kunjungannyapun tidak sulit, naik mobil/bus wisata mungkin cuma 2 jam saja.
Apabila kita ingin secara independen datang kesana, naik kereta api pun tidak soal, bisa di capai dari Stasiun Waterloo di London dan tujuan akhirnya adalah stasiun KA di Salisbury, yang kira-kira jaraknya 15 km lebih sedikit dari Stonehenge ini. Harga tiketnya sekarang ini kira-kira GBP 25.00 return. atau untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi website tentang Stonehenge ini
Stonehenge
Publikasi tentang Stonehenge ini cukup besar, malah ada salah satu website yang mengatakan: “Stonehenge is surely Britain’s greatest national icon…”. Tapi apa sebenarnya kisah dibalik itu semua?
Stonehenge sebenarnya adalah kelompok batu menhir (seperti yang di ceritakan oleh komik Obelix) besar, yang ditumpuk sedemikian rupa, yang mana pada jamannya adalah merupakan konstruksi engineering yang menakjubkan.
Saya tidak mau cerita terlalu panjang lebar tentang Stonehenge ini, karena ada banyak tulisan tentang ini yang bisa di buka di jaringan internet ini. Website stonehenge yang ini cukup populer dan singkat membahasnya.
Berwisata ke Stonehenge
Saya berkesempatan untuk datang kesana langsung, berkendaraan mobil sendiri. Sebenarnya pemandangan yang disajikan apabila kita datang dengan mobil/bus cukup dramatis, karena posisi jalan (apabila kita datang dari arah timur) cukup tinggi terhadap lapangan terbuka lokasi prasasti ini. Sayang nya ketika kami mencapai tempat itu hujan deras (ini rupanya yang dikatakan orang “english weather”) sehingga tak tak bisa membuat foto-foto yang menarik.
Hujan kemudian langsung berhenti pada saat kami mencapai tempat parkir mobil. Sehingga ada sedikit foto-foto yang tetap bisa saya rekam (lihat pada blog seasoned traveller saya)
Pendapat saya? – lepas dari publikasi yang heboh yang dilakukan oleh pemerintah Inggris… ternyata Stonehenge tidak sebesar yang pernah saya bayangkan.
Impressive? – hmm… saya tak begitu yakin terhadap yang ini… mungkin apabila 10 adalah sangat impressive maka skore saya cuma 4 saja.
Worth to visit? – sama sekali tidak!
Gilanya, banyak turis Amerika yang datang dengan rombongan busnya… Kira-kira mereka merasa tertipu ga ya…?
Yang mungkin bisa di cermati adalah bahwa kita juga punya banyak prasasti pra sejarah seperti yang ada di Kutai, tapi kenapa tidak bisa memiliki publikasi yang sama? adakah karena ke kurang perdulian bangsa indonesia terhadap sejarah dan peninggalan nenek moyang kita? atau karena masalah bahasa yang menjadi kendala untuk banyak hal? atau ke dua-duanya, atau ada lagi yang lain mungkin….?
Lihat juga catatan perjalanan saya ke Inggris Selatan di pada posting: “Naik Mobil di Inggris Selatan 1 dan 2
Villa di Bali
Sebagai “Seasoned Traveler”, sekali kali saya melakukan perjalanan ke Bali. Sepanjang tahun 2008 ini, dua kali saya berkunjung ke Bali. Dan seperti janji saya terdahulu, saya berusaha untuk berkunjung ke bali tidak sebagai turis, walaupun kenyataannya saya datang sebagai turis.
Tapi jalan-jalan dengan keluarga, terutama orang tua, menjadikan sulit untuk saya untuk berjalan-jalan tidak sebagai turis local, dari Jakarta. Kami tinggal di villa, yang saya sewa untuk seluruh keluarga. Ada keuntungan dan kerugian untuk tinggal di villa dibandingkan dengan tinggal di hotel.
Keuntungannya mungkin kami memiliki seluruh villa itu untuk kami sendiri, ada “private pool” dan kami bisa melakukan apa saja semau kami, pesta semalam suntuk atau yang lain-lainnya. Kondisi villa tersebut cukup terawat. Rupanya fasilitas villa sewa seperti ini sedang trend di Bali, dengan pelayanan seperti layaknya Service Apartment. Pelayanannya seperti layaknya hotel. membersihkan villa, pelayanan laundry, dan mungkin fasilitas memasakan makanan, dll. Yang masih harus kami lakukan sendiri adalah membeli bahan makanannya untuk juru masak villa memasakkan makanannya.
Kerugiannya, besar kolam renang tentunya terbatas dibandingkan kolam renang yang dimiliki hotel. Interaksi dengan pengunjung lain yang sama sekali tidak ada. Sarapan pagi yang masih menjadi kendala setiap hari harus dipikirkan dan belanja sendiri.
Pertanyaanya sekarang apa yang kita inginkan dari fasilitas penginapan ini, apa yang kita lakukan selama perjalanan ke Bali. Apakah kita ingin melihat Bali dengan melakukan eksplorasi, dan akomodasi yang kita bayar hanya sebagai tempat tidur saja? Atau kita benar-benar ingin beristirahat tanpa di ganggu oleh dunia luar dan tamu lain?
Apabila kunjungan wisata kita adalah untuk explorasi, melihat bali dari budaya sampai dengan turis asingnya, maka rasanya kita tidak perlu tinggal di villa, karena interaksi dengan orang lain yang terbatas. Tapi apabila kunjungan kita untuk bersantai dan terisolasi dari kesibukan dunia, mungkin idea yang baik untuk tinggal di villa.
Yang membuat saya terheran-heran adalah lokasi villa yang disewakan. Villa-villa itu tersebar di seluruh Bali, tanpa memperdulikan aksesibilitas dan kemudahan pencapaiannya. Harga yang di janjikan pun kadang-kadang gila-gilaan. Bisa lebih mahal dari pada tinggal di hotel. Dan yang di luar dugaan adalah bahwa kita tetap kehilangan privasi karena adanya pelayan yang terus menerus bekerja di sekitar rumah untuk memasakkan, dan membersihkan rumah dan lain-lain
Manila – Kesan Pertama
Philipina adalah negara ASEAN yang agak di luar jalur… promosi turisme dan lain-lain tidak segencar seperti negara lainnya, atau setidaknya itulah impressinya bagi kebanyakan orang Indonesia yang saya kenal. Tapi itu bukan berarti bahwa saya tidak punya keinginan untuk berkunjung ke negara tetangga itu, apalagi ada banyak teman saya di Timur Tengah ini yang orang Philipina. Kebetulan saya punya alasan yang tepat untuk berkunjung kesana. Inilah cerita saya
Masalah Hotel
Seperti membeli kucing dalam karung, saya pun memutuskan untuk menginap di Hotel Dusit Thani berdasarkan dari informasi yang di dapat dari Internet. Tanpa mengetahui dimana persisnya lokasi hotel ini di Manila, dan berapa jauh dari lokasi menarik lainnya. Dari harganya, mustinya hotel ini sekelas dengan hotel bintang 4 sampai 5. Minimal meskipun lokasinya jauh dari mana-mana, tapi hotelnya nyaman…. hanya itu pertimbangan saya.

Mixed Used di tengah Makati... mengingatkan saya pada Grand Indonesia, cuma ramainya seperti Mall Ambassador
Beruntung ternyata semuanya ternyata baik, hotelnya seperti yang saya duga, lokasinya ternyata di Makati… yang ternyata berdasarkan peta yang saya lihat, merupakan pusat bisnis di Manila.
Makati
Didalam kompleks yang sama, di seberang jalan adalah pusat pertokoan SM. dan seberang dari kompleks bisnis ini adalah Hotel Intercontinental. Dan diseberang lainnya adalah Hotel Shangri La. Pusat pertokoan yang mengikat hotel-hotel itu adalah Glorietta Shopping Mall.
Terus terang nama-nama yang saya sebutkan itu tak berarti apa-apa untuk orang-orang yang tidak kenal Manila sama sekali. Disamping itu nama tersebut tidak terkenal di luar Philippine. Tapi untuk gambaran kasar, seperti foto-foto dibawah inilah Glorietta Shopping Mall itu, yang untuk orang Manila sementara ini paling top.
Bagaimana perbandingannya dengan Jakarta… hmmm mungkin bandingannya adalah seperti Plaza Semanggi, dengan keramaiannya seperti Mall Ambasador….
Yang menarik dari Kawasan Makati ini adalah meskipun sangat macet, tapi pejalan kaki adalah lebih diutamakan, semua dapat di capai dengan berjalan kaki. Jalan pun tidak terlalu lebar, sehingga untuk menyeberang jalan tidak seperti menyeberang jalan Asia Afrika di Senayan, yang sangat lebar itu. Perbedaan yang lain adalah: Pedagang Kaki lima tidak ada sama sekali dikawasan ini.

Stasiun LRT Ayala, yang mengantarkan sebagian besar pembelanja ke Makati. Setidaknya lebih bersih dari pada Jakarta yang penuh dengan Kaki Lima.

Pejalan kaki yang diuntungkan dengan jalan yang teduh tanpa harus berebut ruang dengan pedagang kaki lima
Kendaraan Umum
Kendaraan Umum di kota besar selalu menarik perhatian saya, apalagi di Manila, yang seperti halnya Jakarta, adalah salah satu kota paling macet di dunia. Disamping itu Manila juga di kenal dengan Jepney nya…. yang menjadi angkutan umum tradisional yang masih exist di pusat kotanya.

Pejalan kaki yang diuntungkan dengan jalan yang teduh tanpa harus berebut ruang dengan pedagang kaki lima
Agak sedikit ke pinggir kota, kendaraan umum yang digunakan lain lagi… bukan Bemo atau Mikrolet yang sangat banyak di Jakarta, atau pun bajay, yang sudah mulai dilarang di Jakarta dan popular di India, tapi seperti inilah angkutan antar / dalam wilayah di kawasan Manila City.

Aslinya ini sepeda motor biasa, yang di vermaak dan kemudian mengangkut total 7 orang pada satu saat.
Bagaimana kaum marginal naik kendaraan umum ke kota…. hmmm… rupanya menikmati udara luar dengan angin semilir adalah kenikmatan kita semua, bangsa-bangsa ASEAN….

Duduk "diatas" kereta api komuter, bukan di dalamnya adalah hal biasa seperti juga mereka di Jabotabek....
Belanja di Indonesia
Sebagai orang Indonesia, dimanapun saya, saya tetap cinta Indonesia; walaupun saya tinggal di luar negeri, saya tetap loyal dengan Indonesia. Dan seperti layaknya pembantu yang pulang kampung setelah bekerja di Jakarta, pada saat lebaran, pulang kampung artinya menghidupkan ekonomi di kampung dengan kemampuan belanja mereka yang membawa uang dari Jakarta.
Sayapun berlaku begitu ketika “pulang kampung”, dengan maksud mengobati rasa kangen saya juga berbelanja di Indonesia. Dan tidak seperti sebagian orang Indonesia yang gemar berbelanja ke Singapore (dengan kata lain membelanjakan Rupiah Indonesia ke Dollar), saya membawa devisa ke Indonesia dan tetap senang untuk belanja di Indonesia….
Perhitungan ekonomi sederhananya mungkin saya membelanjakan Dollar saya ke rupiah (karena hasil kerja di luar negeri yang berupa dolar dan dibelanjakan di Indonesia). Dengan seperti ini saya juga membantu perputaran ekonomi Indonesia. Analogi yang sama seperti “Pembantu yang Pulang Kampung” ini juga yang didapat oleh pemerintah Philipine dari rakyatnya yang bekerja di luar negeri. Dan konsep yang sama juga yang di dapatkan oleh banyak negara lain dari obyek wisatanya, karena “turis asing” yang membawa devisa ke negaranya.
Dengan pemikiran mulia seperti ini, saya pun lalu belanja. Bukan cuma ke mall yang besar dan baru seperti Grand Indonesia, tapi juga ke Mall yang kelas menengah, seperti Mall Ambasador saja. Disana saya bisa menemukan macam-macam yang dengan mudah bisa saya bawa kembali ke luar negeri.
Karena uang Indonesia yang begitu rendah nilainya, mengakibatkan belanja dengan nilai yang besar harus mengantongi uang yang tebal dan tidak praktis. Beruntung ada teknologi “credit card” yang “seharusnya” memudahkan berbelanja dan tidak perlu membawa uang cash terlalu “tebal”. Dan dari kacamata turis asing, tentunya hal ini juga memudahkan, tanpa harus menukarkan uangnya ke rupiah.
Sayangnya hal tersebut tidak terlalu di dukung oleh kemudahan sistem yang ada. Toko yang menerima credit card, meskipun itu adalah visa card atau master card yang sama, tapi apabila credit card itu di keluarkan oleh bank yang asing di dengar (seperti Lloyd Bank dari Inggris) misalnya… maka toko tersebut enggan melakukan transaski jual beli tersebut.
Cerita di atas adalah pengalaman saya kemarin berbelanja…..Ternyata tidak mudah untuk berbelanja:
- Kartu kredit yang diterima untuk belanja ternyata hanya kartu kredit yang di keluarkan oleh bank (internasional) yang di kenal di Indonesia seperti Citibank (padahal citibank di Amerika sudah mulai bangkrut) atau HSBC bank.
- Karena belanja lebih dari 2 juta maka kartu kredit harus di verifikasi ke BNI (padahal produk yang di jual rata-rata harganya jutaan – lho lalu semua harus hasil penjualan toko tersebut harus di verifikasi lebih dahulu….?)
- Walaupun Bank tersebut dikenal di Indonesia, tapi apabila kartu kredit tidak di terbitkan oleh cabang Indonesia juga tidak mudah (kartu kredit HSBC bank saya di terbitkan di Qatar), lagi-lagi harus di verifikasi ke BNI.
Alih-alih mau membantu perputaran ekonomi Indonesia, kok malah sistemnya di persulit…. Benang merahnya adalah bagaimana Indonesia bisa siap untuk menerima devisa dari turis seperti Singapore apabila belanja dengan mata uang asing saja sulit. Atau saya harus berpikir: …pantes orang Indonesia lebih senang belanja di Singapore?”
Merencanakan Liburan ke Philipina
Liburan akhir tahun kali ini adalah ke Manila, ibukota negara Philipina. Seperti rutinitas merencanakan liburan ke suatu negara, saya selalu berusaha mencari tahu tentang tujuan liburan ini dari segala sumber, teman-teman orang Filipina, buku, internet dll. Diluar dugaan mencari informasi tentang Philippine dan Manila ternyata tidak mudah.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti :
- Di airport apa sebaiknya saya mendarat, dan seberapa jauh dair kota Manila?
- Sebaiknya tinggal di hotel apa di Manila, yang dekat dengan tempat wisata atau dekat dengan pusat pertokoan, tempat jajan, dll?
- Apabila wisata metropolitan lalu tempat apa saja yang layak di kunjungi di Manila?
- Karena saya akan menghadiri pesta pernikahan teman, maka gambaran lokasi tempat pernikahan pun harus diketahui juga.
- Bagaimana sistem transportasinya? Sehingga memudahkan kita untuk berkeliling kota, atau setidaknya datang ketempat pernikahan tersebut.
Pertanyaan sederhana seperti di atas ternyata tidak terjawab oleh banyak teman-teman saya yang orang Philippina, meraka mengusulkan banyak nama tempat yang sama sekali tidak berarti dan tidak memberikan gambaran apa-apa untuk orang awam yang pertama kali berkunjung ke Manila. Dan sepertinya dibutuhkan kemampuan tertentu untuk bisa menjelaskan kepada orang awam…
Ini membuat saya berpikir mungkin memang tidak ada obyek yang menarik di Manila…. kita harus berkunjung ke tempat-tempat lain di luar Manila. Apabila ini kasusnya, lalu bagaimana dengan sarana transportasi untuk ketempat lain di luar Manila? Informasi inipun sulit didapat.
Bandingkan dengan Indonesia yang mungkin memiliki obyek wisata yang lebih kaya dari pada Filipina. Kecuali Bali, rasanya sedikit info tentang Indonesia yang lainnya…. dan janga lupa kita harus melihatnya dari kacamata orang asing yang ingin datang ke Indonesia.



















