Posts tagged ‘transportation’
Camel Ride at Wadi Rum
Wadi Rum Is the famous dessert valley that cut into the granite rock and sand stone in south of Jordan. It made famous to the Western modern history because of the connection with British officer T.E Lawrence during the Arab Revolt in the First World War. What I did was not like Crossing Jordan on camel the way Laurence of Arabia did, but at least I did this when we were at Wadi Rum, Jordan, Camel Ride with my fellow traveler.
It was early in the morning at 7am, and I think the temperature was as low as below 4 °C, and the Bedouin who will take us for Camel Ride around (not across) Wadi Rum was already there, waiting for us….
Well the ride was not as majestic as in the hey day of Silk Road era, or as epic as Lawrence of Arabia, but it is historic for me as by doing this I crossed off my Travel Bucket List
Road Trip and Sat-Nav System
I was worried as one of my guest to my wedding who comes from London were driving all the way to Edinburgh, and as I mentioned before, none of us knows anything about Edinburgh at all. She might have been to Edinburgh before, as she said, but it was on business trip, and I am pretty sure that she was flying in to Edinburgh.
This time she had to drive to Edinburgh, I am sure she could find her way out when it comes to intercity driving, as the map and the signage along the way was very clear. I’ve done that (navigating from London to Bristol) relying on UK map and the sign post along the road – considering I am an Indonesian tourist. But when entering the city, Read more…
Airport Doha
Dua minggu menjelang musim liburan Lebaran saya di tugaskan ke Qatar – bukan untuk pindahan loh, tapi sekedar dinas saja. Tugas berakhir bersamaan dengan dimulainya musim libur lebaran. artinya, hari Kamis ini sebagian besar orang di kantor bergegas untuk pulang dan kemudian menuju bandara, mengejar pesawat yang menginggalkan Doha biasaya sekitar jam 10 malam, artinya jam delapan harus sudah berada di bandara Internasional Doha.
Pembicaraan di kantor pun lalu berkisar cerita-cerita pengalaman kesibukan dan insiden di bandara. Memang, airport Doha ini letaknya tidak jauh dari kota Doha, bisa dikatakan ini masih termasuk di dalam kota. dan jangan salah apron nya bisa terlihat dari jalan utamanya. Dengan kata lain sebenarnya mencapai airport tidak terlalu jauh. Ini berlainan sekali dengan di Jakarta, yang airportnya sangat jauh dari kota Jakarta, dan membutuhkan perjalanan panjang untuk mencapai airport.
Jarak airport dari kantor saya, cuma kurang dari lima menit dengan mobil, malah apabila bawaan tidak terlalu banyak dan suhu udara tidak terlalu panas, airport mungkin bisa dicapai dengan jalan kaki saja. Ketika saya masih tinggal di Doha, jaraknya dengan mobil mungkin cuma 10 menit saja. Tapi waktu tempuh ini bisa menjadi sangat lama apabila musim liburan seperti sekarang ini.
Saya jadi ingat ketika saya masih tinggal di Doha dan mengejar pesawat yang berangkat jam 10 malam, saya harus berangkat dari rumah paling lambat jam 6.30 supaya bisa mencapai dua jam sebelum berangkat…. loh kok? Ya, tujuannya adalah untuk mengalahkan kemacetan yang dimulai sekitar jam 7 malam. Yang jadi masalah adalah karena pada jam paling macet, jarak tempuh antara lampu merah terdekat hingga menuju airport bisa sampai satu jam lamanya. Belum lagi kemacetan calon penumpang yang akan masuk ke airport yang antriannya bisa sampai keluar bangunan.Beberapa teman saya malah sampai terpaksa ketinggalan pesawat, bukan karena terlambat berangkat, tapi karena kemacetan yang terjadi di mulut bandara….
Fenomena “pulang kampung” pada saat lebaran ternyata bukan cuma untuk orang Indonesia saja, tapi dibelahan dunia yang ini juga begitu, dan bukan cuma orang Indonesia yang berkerja di kawasan ini yang ingin cepat-cepat menginggalkan Qatar untuk pulang ke Indonesia, tapi orang-orang Qatarnya pun rupanya juga ingin cepat-cepat meninggalkan Qatar, karena tidak kalah banyaknya adalah orang -orang lokal/Qatar sendir yang juga bepergian… loh jadi sebenarnya mereka itu pulang kampung atau berwisata….? atau mungkin untuk mereka bukan masalah berkumpul dengan keluarga dan merayakannya dirumah, tapi lebih sebagai libur panjang…?
p.s.
Ini merupakan posting saya yang terakhir dengan alamat website ini, sesudah ini saya akan melanjutkan cerita-cerita saya dari rantau dengan menggunakan alamat baru, dan yang paling penting adalah domain saya sendiri. Isinya masih tetap sama, petualangan saya di negara-negara Arabia. Sambil sesekali jalan-jalan ke manca negara. Jangan lupa ya, kunjungi website saya yang baru: http://ninstravelog.net dengan judul yang sama pula: Nins’ Travelog
Jalan Tikus
Berkendaraan di Jakarta bisa benar-benar menyebalkan…. atau mungkin tidak juga (tentunya ini untuk mereka yang sudah terbiasa dan tidak punya pilihal lagi). Menyambung posting saya sebelum ini tentang issue transportasi di Jakarta, seorang teman berkilah tentang masalah transportasi ini dan mengatakan tidak terlalu buruk, selama kita:
- hari-hari tertentu misalnya hari sabtu atau minggu dan di daerah tertentu
- jam-jam tertentu terutama untuk daerah Jakarta pusat.
Loh tapi pertanyaannya adalah, bagaimana agar aktifitas sehari-hari tidak terganggu oleh masalah transportasi yang harusnya mendukung pekerjaan kita, artinya:
- Apabila kita harus melakukan transaksi bisnis di tempat tertentu pada hari kerja dan bukan hari Sabtu dan Minggu. Apa itu artinya bisnis gagal?
- Bagaimana dengan janji yang terpaksa harus dilakukan pada jam sibuk dan di kawasan sibuk? Memang jawabannya mungkin adalah ganti waktu dan pindah lokasi, tapi kenyataannya ini semua tidak mudah, karena artinya ada banyak pihak yang harus menyesuaikan diri dan banyak bisnis yang juga ikut terpengaruh…. Jadi harus bagaimana ini?
Teman saya itu kemudian mengusulkan dengan menggunakan “jalan tikus….“ Ini pengalaman saya ketika saya terpaksa meninggalkan dari Kelapa Gading Mall sekitar jam 6 sore hari kerja (…. ini memang jam sibuk, tidak bisa saya hindari, karena urusan baru selesai pada saat itu). Tujuannya adalah Duren Tiga… tak bisa di hindari, harus ke Duren Tiga, karena disinilah saya tinggal. Dengan kata lain menghindari point 1 dan point 2 diatas, adalah tidak mungkin!
Melanjutkan cerita di atas, saya beruntung berkendaraan dan bersupir dalam perjalanan tersebut. Pada saat kami meninggalkan Kelapa Gading, supir saya agak bingung, apakah akan menggunakan fasilitas jalan tol atau melalui jalan normal…. yang mana dua-duanya punya kemungkinan untuk macet. Lucunya, kami lalu terjebak untuk masuk jalan tol, dan seperti di duga sebelumnya, di jalan tol pun bukan berarti lebih lancar.
Cepat cerita, akhirnya kami keluar dari jalan tol, karena harus berbelok menuju duren tiga. Menjadi supir di Jakarta, mungkin menharuskannya mempunyai banyak alternatif jalan lain atau jalan tikus, karena jalan yang normal terlalu macet atau sangat lambat…. Jadilah kami mengambil jalan tikus melalui Tegal Parang, masuk berbelok-belok…. Saya pikir kami akan keluar di daerah Buncit, dan melanjutkan perjalanan melalui Warung Buncit. Ternyata jalan yang dipilihnya adalah jalan yang akhirnya keluar di Jalan Duren Tiga Raya, di depan Apotik Duren Tiga.
Terus terang, saya pribadi buka orang yang senang menggunakan jalan tikus, karena saya tidak mudah menghafal jalan dan hampir selalu nyasar apabila saya harus berkendaraan sendiri. Tapi supir kami ini sangat tau jalan yang akan di laluinya… Jalan yang dipilih pun berbelok-belok dan semakin sempit, artinya, dengan lebar jalan yang cuma tiga setengah meter, saluran buangan air di satu sisi dan sisi lain adalah pagar/bangunan rumah tinggal, belum lagi termasuk tempat parkir motor dan mobil, tempat pada pedagang kaki lima ikut mangkal disepanjang jalan tersebut, dengan kata lain jalanan ini sebenarnya cuma layak di lalui kendaraan satu arah saja. Kalaupun dua arah artinya bergantian, menggunakan jalan tersebut.
Pada satu titik, kami berbelok untuk masuk ke jalan tikus yang lebih kecil lagi, sudut belok yang tajam dan dinding rumah langsung di kiri kanan jalan. Tidak ada rambu lalu lintas yang mengatakan jalan tikus ini adalah satu arah…. Segera setelah kami belok, saat itu juga ada kendaraan lain di depan kami (yang masih ada di mulut gang tersebut)…. dan memaksa kami untuk mundur, dan mengalah, karena tidak ada jalan lain. Tapi untuk mundur ternyata tidak mudah, ada mobil-mobil lain yang menggunakan jalan dibelakang kami, belum lagi serbuan motor yang menyulitkan kami untuk mundur….kami menghabiskan waktu kira-kira 30 menit sendiri untuk keluar dari keruwetan itu, tapi bukan berarti sesudah ini perjalanan menjadi lancar….
Masih di belantara Tegal Parang, kami lalu terjebak dengan keramaian pasar malam yang sedang berlangsung di kawasan perumahan ini, sehingga ada banyak sekali kendaraan mobil dan motor yang parkir disepanjang jalan yang cuma lebarnya maksimum 4 meter ini, belum lagi lautan manusia yang ingin menyaksikan pasar malam tersebut…. Percaya atau tidak, akhirnya kami menghabiskan waktu kira-kira dua jam sendiri untuk bentang jalan tikus dari Tegal Parang ke Duren Tiga, atau total perjalanan dari Kelapa Gading ke Duren Tiga menjadi 3 jam sendiri, dari jam enam sore, hingga jam 9 malam tiba dirumah…. Terus terang, ini pengalaman berkendaraan paling melelahkan untuk saya, padahal saya bukan supir…
Kesimpulan, apakah jalan tikus adalah suatu solusi? jalan tikus mungkin itu jawaban dari seorang pragmatis yang sudah terlalu lama terjebak dalam masalah transportasi ini dan inilah solusi sesaat; tapi itu bukan solusi jangka panjangdan bukan solusi untuk Jakarta dengan penduduk 9 juta (malam hari) karena:
- bagaimana apabila saya tidak punya kendaraan pribadi yang bisa mengantarkan saya berpetualangan melalui jalan tikus tersebut?
- bagaimana apabila tidak ada jalan tikus ke tempat tujuan tersebut?
- bagaimana apabila semua jalan tikus akhirnya penuh juga seperti pengalaman saya diatas?
Ada yang punya solusi….?
The Traffic Issue in Jakarta
As I am waiting for my transfer to Doha, which supposedly should be within 3 weeks, I decided to take my annual leave to visit my Mum in Jakarta. After a little hassle to get the ticket as I had to change all my holiday plans for the next 10 months, I managed to get a ticket to Jakarta despite being high season. Well I guess a ticket for one person is easier than tickets for two or more. Or maybe this is the beauty of travelling solo…
While I was on the road, I really could not help observing the traffic in Jakarta and comparing it to Bahrain and Doha. From the type of street, type of vehicle on the road and the behavior of the drivers; I wonder what makes it so out of control in Jakarta: no driving order, no regulations obeyed; everybody’s high tempered, everybody’s in a hurry nobody gives way for the benefit of the traffic flow; too many private cars, too many motorbikes and not enough proper public transportation.!!!
Issue Transportasi di Jakarta
Saya jarang menulis tentang transportasi di Jakarta, maklum, saya tidak tinggal di Jakarta. Tapi sekali ini saya pulang ke Jakarta, dalam rangka menunggu proses pindah pekerjaan, disamping itu, ini kan kewajiban seorang anak juga yang tetap menengok orang tuanya, walaupun cuma sekali setahun.
Sesudah agak kusut karena harus merubah jadwal penerbangan tiket, yang sedianya Desember, menjadi Agustus; yang mana adalah high season, karena musim libur sekolah dan libur musim panas, akhirnya saya bisa memperolah tempat duduk untuk terbang ke Indonesai…. Mungkin inilah untungya ‘traveling solo,’ lebih mudah mendapatkan tiket daripada traveling berdua atau dengan rombongan.
Akhirnya saya sampai juga di Jakarta, setelah kurang lebih 9 bulan yang lalu saya menginjakkan kaki di Jakarta. Pesawat tiba di Jakarta pukul 2.30 sore…. beberapa hari sebelumya saya sudah memberi tahu adik saya untuk menjemput saya. Tapi rupanya permintaan ini sulit dipenuhi oleh orang Jakarta, yang sibuk dan kemana-mana “jauh.” Saya bisa mengerti ini, walaupun bekerja di Jl. Gatot Subroto, dibutuhkan minimal satu jam sendiri untuk mencapai airport, belum lagi mencari parkir, menunggu kedatangan, dan mengantarkan pulang…. al hasil habis lah setengah hari kerja hari itu. Ini benar-benar jauh berbeda dari Bahrain atau Dubai, yang karena resesi global, jumlah kendaraan di jalanan menjadi jauh berkurang.
Tapi tak bisa di pungkiri, ada banyak hal yang membedakan antara Jakarta/Bandung dengan kota-kota di negara-negara di Timur Tengah, dari mulai jenis jalannya, jenis mobilnya, hingga perilaku pengendaranya pun berbeda. Yang membuat saya terheran-heran dengan kondisi di Jakarta yang diluar kendali:
-
Terlalu banyak kendaraan pribadi, terlalu banyak sepeda motor, dan fasilitas kendaraan umum yang tidak layak.
- Jenis kendaraan yang berlalu lalangpun tidak homogen yang membuatnya semakin simpang siur, disamping itu jumlah orang/pejalan kaki yang ada di permukaan jalan pun tak kalah banyaknya.
-
Semua orang dengan temperamen tinggi, semua orang tergesa-gesa dan tidak ada yang mau mengalah demi kelancaran perjalanan.
-
Tidak ada aturan berkendaraan, hampir tidak ada aturan yang di taati
Sebaliknya di Doha dan Bahrain kondisinya berbeda:
-
Mungkin karena cuacanya yang sangat terik di musim panas, maka tidak banyak sepeda motor yang berlalu lalang dijalan seperti layaknya di negara-negara Asia Tenggara.
-
Walaupun fasilitas kendaraan umumnya “belum” layak, tapi tidak banyak orang yang berlalu lalang di jalan.
-
Jenis kendaraan pribadi pun lebih homogen. lebih besar, dan dengan kondisi yang rata-rata lebih baik.
-
Walaupun orang Arab dikenal dengan temperamen tinggi dan agak ugal-ugalan, tapi di jalan, mereka lebih taat pada peraturan dan lebih sabar, mau mengalah demi kelancaran lalu lintas, dan jangan salah, mereka tertib pada peraturan lalu lintas yang berlaku.
Tapi percaya atau tidak, kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Jakarta, secara statistik lebih sedikit dibandingkan dnegan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Doha yang paling sedikit satu kali sehari terjadi tabrakan di benderan jalan di Doha yang mana jumlah ada ratusan…. Pertanyaannya adalah siapa pengendara yang lebih baik, supir di Jakarta atau di Doha?

- Kecelakaan lalulintas di Doha
SIM Indonesia di UK.
Sejak mendengar banyak cerita-cerita dari teman-teman yang memperoleh kesulitan untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM) di Qatar, saya jadi mengamati sejauh apa kekuatan SIM Indonesia di Luar Negeri. Setiap negara memiliki peraturannya sendiri-sendiri terhadap driving license.
Karena kunjungan wisata saya kali ini adalah ke Inggris dan ke country side, dan kota-kota kecil lainnya di South England – sama sekali tidak menyentuh London seperti umumnya kunjungan wisata dari Indonesia yang populer; maka alat transportasi yang digunakan adalah mobil. Karenanya kami harus menyewa mobil.
Teman perjalanan saya dari Bahrain yang orang lokal (maksudnya orang Inggris) tentunya adalah supir utama. Tetapi karena pesanan mobil sewaan yang di lakukan lewat internet dan dibuat atas nama saya, maka teman saya mengijinkan saya untuk menjadi co-driver – supir cadangan – padahal saya tidak kenal jalanan di Inggris (meskipun sama-sama setir kanan seperti di Indonesia), apalagi perjalanan yang akan kami lakukan adalah perjalanan antar kota.
Percaya atau tidak ketika saya di daftarkan untuk menjadi salah satu pengendara mobil sewaan tersebut, SIM Internasional yang saya miliki tidak begitu “bergigi”, petugasnya lebih memperhatikan SIM saya yang dikeluarkan oleh Komdak di Jakarta yang berbahasa Indonesia itu. Beruntung saya membawanya dan tidak di tinggal di Bahrain atau malah lebih konyol lagi di Jakarta.
Cuma koreksi untuk Polisi Lalu Lintas Indonesia yang mengeluarkan SIM kayaknya harus di cantumkan juga di kartu SIM itu “tanggal di keluarkan” SIM tersebut, bukan hanya “berlaku s/d” saja….





















