comment 0

Ideal Job – Pekerjaan Ideal

mn-070907-1Ketika saya ditanya oleh teman saya yang masih tinggal di Indonesia, “bagaimana environment pekerjaan di kantor saya?” Langsung saya berpikir bahwa dia mendapat tawaran untuk bergabung dengan kantor saya yang ada di Timur Tengah ini.

Memang selalu merisaukan pada saat kita diterima untuk bekerja di luar negeri, ada banyak hal yang harus dipikirkan memang, dari mulai masalah keluarga yang: apakah saya harus meninggalkan keluarga? atau mereka di bawa? sampai masalah idealisme dan konsistensi kita terhadap ilmu yang di tuntut pada saat kita kuliah dulu. Yang belakangan ini tentunya tak ada hubungannya dengan masalah keuangan.

Saya percaya, setiap orang punya idealisme sendiri-sendiri, dari mulai masalah kebutuhan dasar sampai agama. Pertanyaannya sebenarnya adalah apa prioritas kita sekarang? Pada saat jaman susah seperti sekarang ini? pengangguran yang menumpuk dan penghasilan yang secukupnya – kalau bukan seadanya, apakah kita masih memikirkan “environment” kantor? Masih untung kita masih punya pekerjaan, yang membuat dapur kita mengepul di rumah.

Latar belakang pendidikan saya adalah Arsitek, yang mana pekerjaan ideal seorang arsitek lugunya adalah:

  • mendesain (apakah itu bangunan berskala besar, ataupun sebuah rumah sederhana)… lalu kemudian sambil mengekspressikan diri dengan desain-desain yang “inovatif” dia juga kemudian mengajar… artinya dia menurunkan ilmunya kepada penerusnya… yang siapa tau akan menggantikannya pada saat dia uzur nanti.
  • Bagaimana arsitek itu mendapatkan idea dan mengembangkan desainnya? adalah dengan jalan-jalan… dengan sering melakukan traveling dan melihat-lihat karya arsitektur lainnya di tempat-tempat lain di luar kandangnya. Dan biro arsitek yang baik memberikan kesempatan arsiteknya melakukan kunjungan wisata ini dalam rangka “studi banding”
  • Yang membuatnya pekerjaan itu menjadi ideal juga adalah imbalan jasanya yang memuaskan. Pada kenyataanya, pekerjaan seorang arsitek itu tidak melulu menggambar. Karya-karya desian yang “wah” itu juga akhirnya harus dibangun, dan tetap dibutuhkan seorang arsitek di lapangan sana yang merelisasikan idelaisme gambaran tersebut… dan ini juga tidak mengurangi kualitasnya sebagai seorang arsitek.
  • Lalu ada jenjang karier yang menjanjikan, atau pengakuan dari perusahaan tersebut terhadap prestasi kita.
  • Lalu ada masalah teman-teman kantor dan politik kantor, yang mana apabila tidak kondusif pun bisa membuat bekerja menjadi tidak nyaman dan mengakibatkan nilai pekerjaan itu menjadi tidak ideal lagi.
  • belum lagi ada yang namanya tekanan pekerjaan, pada saat semua itu terpenuhi, tapi kita harus bekerja lebih dari 12 jam sehari, membuat waktu kita untuk kepentingan pribadi, misalnya mencari pasangan hidup, atau membina keluarga jadi terlupakan. Apakah pekerjaan ini masih dinamakan ideal?

mn-070907-2Setelah bertahun-tahun saya mendapatkan idelaisme saya sebagai seorang arsitek yang ceritanya “mendesian” dan bekerja di kantor desain, dengan environment kerja yang sangat “nyaman”, saya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan di Qatar. .

Saya tahu persis bahwa disini:

  • saya tidak mungkin menjadi arsitek yang mendesain seperti pada pekerjaan saya sebelumnya. Tapi saya punya kesempatan untuk traveling dengan cara saya sendiri.
  • Imbalan jasanya? lumayan untuk membiayai hobby traveling saya.
  • Jenjang karier…. hmmm bekerja di perusahaan besar pasti ada jenjang kariernya, tapi pada saat kita tidak tinggal lama di perusahaan itu, hanya passing by, sebenarnya karier apa yang ingin di cari?
  • Masalah teman kantor? ini kan sebenarnya dimana pun kita, sama saja, tergantung bagaimana kita menyesuaikan diri… Tapi memang bekerja di luar negeri, mencari teman lebih sulit, karena kita memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda.
  • Tekanan pekerjaan? kembali lagi, ini kan sebenarnya masalah “stress management” saja; lepas dari itu semua jam kerja tidak segila seperti bekerja di Jakarta, yang ditambah dengan perjalanan pulang-pergi ke kantor yang juga mengurangi quality time dengan keluarga

Jadi apa sebenarnya yang membuat saya memutuskan utuk bekerja di Qatar? Alasannya sederhana saja, hanya untuk “petualangan“nya saja. Bonus yang saya dapat dari keputusan ini adalah:

  • Bisa melakukan traveling kemana pun yang saya inginkan, tanpa menunggu jatah/kebijaksanaan dari kantor untuk melakukan “survey ke luar negeri”, dengan uang saku yang saya atur sendiri, tanpa tergantung dari kantor.
  • Punya banyak waktu untuk melakukan kegiatan dan hobi lainnya, seperti misalnya menemukan hobi fotografi, belajar melukis seperti dulu lagi, melakukan kegiatan berbagai olahraga dan atau melakukan riset arsitektur, yang mana juga memenuhi idealisme lama, tanpa dikejar-kejar waktu
  • Menemukan belahan hati… hal mana tak pernah terpikirkan ketika berangkat ke Qatar….
Filed under: Expat Archive, iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s