07-09-10 Puasa di Kantor
comments 2

Puasa di Kantor

Waktu saya tinggal dan bekerja di Indonesia, masalah yang dihadapi hanyalah sekitar bagaimana kita menyamakan pendapat dalam hal menyelesaikan masalah kantor, maklum dari latar belakang pendidikan yang berbeda dan dari universitas yang berbeda saja sering membuat salah paham; saya pikir disini karena ada masalah kebanggaan almamater.  

Ditempat saya bekerja ini masalah latar belakang almamater yang berbeda, pendidikan yang berbeda memang jadi masalah, tapi tak begitu terasa dibandingkan dengan latar belakang etnis yang berbeda, disamping bahasa yang berbeda juga.  

Ini tahun ke dua saya tinggal di doha. Perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan yang multi national dengan komposisi berbagai kebangsaan, budaya, agama, bahasa dan adat istiadat. Harus di akui kerja di tempat seperti ini susah-susah gampang.  

Ada masalah beda pendapat dalam hal menyelesaikan pekerjaan, ada masalah tata krama dalam hal berinteraksi dengan sesama teman kantor, dan ada juga masalah perbedaan agama. Hal yang terakhir ini sekarang menjadi agak menonjol karena bulan puasa.  

Dengan penduduk Qatar yang sekitar 800 ribu orang dan hanya 250 ribu saja orang Qatar, masih harus dipertanyakan apakan mayoritas penduduk beragama Islam. Memang ini negara Islam… sangat jelas, tapi mereka juga menerima banyak tenaga asing yang nota bene beragama bukan islam. Bangsa-bangsa kulit putih sudah dapat dipastikan beragama nasrani; orang philipina 99% adalah beragama nasrani juga. Mereka yang berasal dari anak benua asia, India, Pakistan, SriLanka, Nepal dan Bangladesh,  masih harus dipertanyakan, karena mereka ada yang beragama nasrani dan hindu disamping beragama Islam. Bagaimana dengan orang Arabnya sendiri? Mereka juga ada yang beragama nasrani, seperti mereka yang berasal dari Syria, Palestina, Jordania, Lebanon dll. Dengan kata lain, penduduk Qatar sebenarnya mungkin Cuma 35% maksimum 45% adalah Muslim. Kenyataan lain adalah bahwa tidak semua orang taat beragama, dalam arti bahwa mereka menjalankan kewajibannya beragamanya.  

Dikantor saya tempat saya bekerja yang kantor multi nasional, dengan jumlah pegawai yang 40 orang, Cuma 5 orang yang muslim. Dan seperti saya katakan sebelumnya, tidak semua orang menjalankan kewajiban beragamanya. Saya misalnya tidak berusaha untuk munafik dengan mengaku seorang muslim yang baik, dan sebagai orang indonesia kebanyakan yang „memiliki toleransi“ yang cukup besar, sangat memaklumi bahwa orang tetap makan dan minum di depan orang yang berpuasa, seperti yang saya biasa alami di Jakarta. Rupanya tidak demikian di Doha ini, dengan Cuma 4 orang muslim yang menjalani ibadah puasa, rasanya mereka yang berbeda dengan mayoritas orang kantor, dan siapa yang harus melakukan tenggang rasa disini?  

Yang terjadi adalah orang Arab yang puasa itu mengajukan protes secara resmi karena cangkir berisi minuman tetap berlalu lalang di koridor kantor diantarkan oleh office boy…. dan tidak ada seorangpun yang makan, minum atau merokok didepan mereka. Pertanyaannya adalah siapa yang harus toleran terhadap siapa?  

Menurut saya agama adalah urusan tiap pribadi itu sendiri dengan Tuhannya. Bagaimana kita menjalankan ibadah agama kita adalah tanggung jawab saya dengan Tuhan saya. Tidak perlu di pamerkan pada orang lain dan tidak perlu memaksakan orang lain untuk menjalankan ibadahnya seperti saya sendiri. Atau dengan kata lain, kalau saya beragama Islam, tidak perlu memaksakan orang lain ikut beragama Islam seperti saya; kalau saya tidak menjalani puasa, saya tidak perlu mengajak orang lain untuk ikut tidak berpuasa, begitu juga sebaliknya…..  

Dipihak lain bagian dari godaan berpuasa adalah melihat orang lain tetap makan dan minum seperti biasa sementara itu kita harus menahan diri untuk tidak bergabung dengan mereka, ikutan makan dan minum. Apa susahnya dengan ini sih? Mengapa hal ini di jadikan issue besar oleh kantor dengan populasi Muslim yang minoritas? 

Pengalaman di kantor saya di Jakarta, yang mayoritas muslim dan hanya 20% saja yang bukan muslim, rasanya tidak ada yang mengeluh karena para non muslim itu tidak puasa…. Dan ini saya pikir yang namanya toleransi beragama.

2 Comments

  1. Taufik H.L.J

    Saya agak surprise, bisa terjadi kondisi demikian di Qatar yang notabene negara muslim. Yang saya alami di Oman, waktu kunjungan saya yang pertama sedang bulan Puasa. Rumah makan (sekitar proyek) buka jam 6 sore (magrib-saat buka) sampai jam 2 pagi(saat saur).Jadi meskipun saya non muslim, supaya tidak ‘merepotkan’ yang sedang berpuasa untuk sekedar mencarikan ‘makanan’ buat saya sendiri, saya putuskan ikut berpuasa selama satu minggu saya berada disini. Waktu berangkat, karena menuju ke barat waktu puasa jadi lebih panjang , tapi sebaliknya waktu pulang waktu puasa jadi lebih pendek. Yang lucu, hari pertama saur di Oman, kebiasaan teman melakukan saur dekat2 jam saur ternyata kena batunya. Karena rumah makan sudah closed 1 jam sebelum saur, untung ada yang masih berbaik hati membuat take away saur for us.

    Like

  2. ninqtr

    Ya, di Arabia sini lifestyle berbeda… siang hari separuhnya tidur…. apalagi kalau musim panas. Weekend malah mungkin orang tak tidur sampai pukul 5 pagi…. sesudah itu mereka tidur sampai saat sholat jumat… Bulan puasa, makan sahur berlangsung jam satu malam….

    Like

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s