comment 0

Konsumsi Alkohol

Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia sangat moderat untuk aturan-aturan beragama dalam banyak hal. Hal sederhana yang ingin saya bicarakan disini adalah “alkohol”. Minuman alkohol di jual bebas di supermarket-supermarket, seperti halnya di banyak negara-negara Eropa, begitu juga dengan minyak wangi yang mengandung alkohol. Itu semua belum termasuk makanan yang mengandung alkohol… termasuk disini adalah makanan tradisional.

Lain halnya dengan di Arabia, negara-negara teluk (termasuk disini adalah: Saudi Arabia, Oman, UAE, Qatar, dan Kuwait), aturan untuk menjual dan membeli minuman keras jauh lebih ketat, atau bahkan di negara-negara seperti Saudi Arabia dan Kuwait, minuman keras secara resmi sama sekali tidak ada. Tapi tidak begitu halnya dengan negara-negra GCC yang lain. Di Oman minuman keras cuma bisa di jumpai di hotel-hotel besar berbintang lima yang mana merupakan rantai hotel internasional, seperti di Intercontinental hotel misalnya. Di Bahrain yang secara tradisional adalah hub dari negara-negara Arabia dengan Eropa, minuman keras di jual di tempat-tempat yang lebih umum dan adalah pemandangan umum untuk menyaksikan sekumpulan orang arab “minum” di bar dan cafe, tanpa tedeng aling-aling. Hal yang sama juga terjadi di UAE akhir-akhir ini dengan adanya iklim ke terbukaan mereka.

Di Qatar berbeda lagi, negara ini lebih “kering” dari UAE atau Bahrain. Minum alkohol cuma bisa dilakukan di hotel-hotel berbintang tertentu saja, dan restoran yang menjual minuman keras cuma dalam hitungan dua atau tiga restoran saja. Untuk menjualnya restoran dan hotel ini harus mempunyai ijin khusus dari pemerintah. Untuk konsumsi pribadi, minuman keras bisa dibeli di toko khusus yang menjual minuman keras ini. Toko milik pemerintah yang bernama “Qatar Distribution Company” ini monopoli pemerintah, dan diseluruh Qatar cuma ada satu saja, yang mengontrol seluruh konsumsi minuman keras perorangan seluruh negara ini.

Tidak semua individual bisa membeli minuman keras di toko ini; harus ada ijin khusus untuk itu. Tapi untuk memperoleh ijin itu tidaklah sulit, yang dibutuhkan cuma surat keterangan dari perusahaan tempat kita bekerja yang menyatakan besar gaji kita dan deposit uang sebesar QR 1000.- yang bisa diminta kembali pada saat kita tidak ingin punya ijin ini lagi atau pada saat kita pindah dari Qatar. Aturan mainnya adalah pembelian kita ini adalah untuk konsumsi pribadi, tidak untuk di jual pada orang lain, disamping itu ada quota tertentu yang mengijinkan kita untuk membeli minuman keras sampai dengan jumlah tertentu sebulannya.

Saya beruntung memiliki kesempatan untuk melihat toko ini, yaitu ikut dengan teman saya yang punya kartu pass ini. Maklum tidak semua orang bisa masuk ke toko ini kecuali menunjukkan kartu pass tersebut. Dengan berlagak sebagai istrinya, saya bisa masuk… kalau dua orang laki-laki dengan satu kartu pass saja, cuma satu orang saja yang boleh masuk.

Disini saya terkejut, maklum selama ini saya pikir minuman keras adalah konsumsi dan bagian dari tradisi orang kulit putih. Diluar dugaan, lebih dari separuh pengunjung toko ini adalah “brown skin.” Ada banyak orang India, Filipina dan orang Arab yang membeli minuman keras… bir berkardus-kardus, dan berbagai jenis minuman beralkohol lainnya…. Hal mana tidak pernah saya lihat selama di Indonesia.

Uniknya lagi setelah saya tanya pada teman saya di kantor, tak ada diskriminasi sama sekali untuk membeli minuman keras. Tak ada pertanyaan bahwa sebagai muslim tak boleh membeli minuman keras. Dan jangan salah teman saya ini Sholat lima waktu tetapi dia juga rutin minum minuman keras ini setiap sesudah Sholat Isa, sebelum tidur. Alasannya adalah minuman tersebut enak dibadan, terutama untuk membuatnya lebih nyenyak tidur.

Peraturan tidak boleh mengkonsumsi Alkohol sama sekali rupanya tidak bisa di sepelekan begitu saja, mereka harus melonggarkan peraturan itu dalam bernegara, karena kalau ini tidak ada sama sekali, maka tenaga asing yang membantu membangun negaranya tidak akan ada yang mau datang. Peraturan agama kemudian di longgarkan dengan peraturan bernegara, dan malah di manfaatkan oleh negaranya dengan mengontrol dan memonopoli peredaran alkohol di negara itu…. Dan kecuali di Saudi yang ada polisi agamanya, dinegara tetangga ternyata bagaimana kita beragama masih merupakan kebebasan individu….

Filed under: Expat Archive, iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s