comment 0

Musibah

Sungguh berat untuk bekerja di rantau, terutama apabila kita harus pergi sendirian, meninggalkan keluarga, teman dan tetangga yang sudah lama, bertahun-tahun kita kenal atau bahkan seumur hidup kita kenal. Bekerja di luar negeri, terutama sekali dirasakan apabila kita bekerja di industri konstruksi yang proyeknya berpindah pindah tempat setiap dua sampai tiga tahun; yang mana memaksa kita juga untuk berpindah-pindah tempat mengikuti proyeknya.

Apabila kita mempunyai anak yang remaja, berpindah-pindah tempat dan negara setiap dua atau tiga tahun tentu bukan solusi yang baik. Bukan cuma masalah lingkungan belajar dan teman-temannya tetapi juga pelajaran yang harus di kejarnya. Karenanya banyak ekspatriate barat yang meninggalkan keluarganya di negara asal mereka dan bekerja sendirian di rantau, sementara itu istrinya mengawasi anak mereka.

Kondisi diatas bukan hal yang mudah, kami hidup sebenarnya sendirian. semua adalah teman baru yang kami kenal selama setahun atau dua tahun terakhir. Mereka pun berasal dari negara yang lain yang berbeda kebiasaan, adat istiadatnya, budaya dan tata kramanya, dan banyak hal-hal lain yang membuat kita tidak bisa dekat satu lain dengan mudahnya. Kadang-kadang waktu satu tahun tidak cukup.

Lima hari yang lalu, kami semua di kejutkan dengan meninggalnya seorang teman yang terkena serangan jantung. Dia, bekerja sendirian di Qatar, meninggalka anak-anak dan istrinya di Afrika Selatan, baru saja kembali dari liburannya di kampung halaman. Tiba-tiba saja terkena serangan jantung segera sesudah rapat rutinnya di kantor.

Apa yang dirasakan? untuk teman-teman bekerjanya tentu ada perasaan kaget, dan bingung. Untuk keluarganya tentu ini berita yang sangat mengejutkan, sangat kehilangan. Dia tiba-tiba pergi tanpa pernah kembali lagi, tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Bagaiman dengan teman-temannya? Sejujurnya harus saya katakan mungkin tidak ada perasaan kehilangan, karena begitu banyak orang datang dan pergi setiap bulannya… kasus ini mungkin lebih mirip seperti teman yang harus meninggalkan kita untuk bekerja di tempat lain. Tetapi perasaan yang terbesar yang kami rasakan adalah begitu terpencilnya kita semua dari orang-orang yang biasa kita kenal, dan kita berada ditengah orang-orang asing yang baru tidak begitu kenal siapa kita sebenarnya dan kami cuma berkomunikasi dalam bahasa inggris, sama sekali tidak dalam bahasa ibu….

Perasaan kebersamaan hanyalah karena kami sama-sama jauh dari keluarga dan teman-teman dekat, dan perasaan sebatang kara bersama-sama lah yang menyatukan kami dan mendekatkan kami….

Filed under: Expat Archive, iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s