comments 2

Pindahan

Setelah lebih dari tiga tahun saya tinggal di Doha dan beberapa kali pindah rumah (di Doha) akhirnya saya harus pindah juga, tapi kali ini bukan pulang kampung, ke Indonesia, tetapi cuma kesebarang… alias ke Bahrain.  Tugas saya mengharuskan saya pindah.

Segala macam yang harus dibawa, termasuk meja dan kursi dibelakang kopor tersebut dan home theatre....

Segala macam yang harus dibawa, termasuk meja dan kursi dibelakang kopor tersebut dan home theatre....

Rencana pindahan sebenarnya sudah berlangsung sejak bulan Agustus yang lalu dimana saya setengah mengharapkan akan memulai bekerja di tempat yang baru tanggal 1 September. Ada banyak hal yang terganggu karena rencana pindahan yang tertunda-tunda:

  • Kapan harus mulai berkemas-kemas, memasukkan perabotan kedalam peti atau kopor dan meninggalkan barang yang tersisa.
  • Banyak teman-teman yang sudah menagih untuk pesta perpisahan. Pada saat pesta perpisahan sudah di adakan, ternyata kepergian saya masih lama…. jadi aneh rasanya pesta perpisahan tersebut, karena saya tidak juga meninggalkan mereka.
  • Tidak bisa memakai perangkat tertentu karena sudah terlanjur di kemas dalam paket yang akan di kirim, dan yang paling sial adalah:
  • Rencana liburan keluar negeri menjadi batal, karena tidak tau harus memesan tiket dari mana, dari tempat sekarang atau dari tempat tinggal yang baru nanti.

Lepas dari itu semua, pindahan kali ini memang berbeda dengan pindahan ketika pertama kali saya meninggalkan Indonesia. Pada saat itu, saya masih punya home base dimana saya bisa menyimpan barang-barang besar yang saya miliki dan tinggal angkat kopor untuk pindah ke tempat baru di luar negeri.

Sekarang kondisinya berbeda, saya masih tetap hidup dengan “kopor” saya, hanya saja untuk hidup lebih dari 3 tahun tentunya “kopor” saya sudah bertambah; apabila dulu hidup dengan 1 kopor, tentunya sekarang sudah lebih dari itu. Semua barang harus dipilih:

  • apa yang perlu di bawa,
  • apa yang perlu di buang,
  • apa yang perlu di jual, dan
  • apa yang perlu di hibahkan….

dan kemudian meninggalkan rumah bersih dan kosong.

Terus terang ada susah dan senangnya hidup seperti ini. Senangnya mungkin adalah berpindah tempat ke tempat baru, negara baru, dan petualangan baru. Susahnya adalah saya tidak bisa menyimpan barang-barang sebagai kenang-kenangan, karena tidak ada ruangan untuk itu, saya juga tidak bisa membeli barang-barang untuk jangka panjang, karena akan sangat sulit untuk di bawa-bawa dari satu negara ke negara lainnya, misalnya seperti perabot rumah tangga, baik itu berupa perlengkapan dapur atau furniture untuk rumah….

Filed under: Expat Archive, iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

2 Comments

  1. Pingback: Satu Hari Sebelum Pindah « Modern Nomad

  2. Ian

    wah saya ngikutin blognya loncat2 ternyata duah di Bahrain ya. Selamat Datang di Bahrain yaa

    Like

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s