comment 0

Disconnected

Beberapa waktu yang lalu teman-teman kuliah saya mengadakan reuni besar.. ini pertama kali sesudah lebih dari sepuluh tahun tidak mengakan reuni dan sesudah hampir dua puluh tahun yang lalu sebagian besar dari kamu lulus. Reuni besar-besaran ini mengumpulkan hampir dari separuh dari kami yang tersebar antara Jakarta, Bandung dan sekitarnya, Jawa timur (mungkin…) dan Bali. Beberapa orang pun berdatangan dari luar negeri. Kita semua bujangan dan bergaya seperti ketika jaman kuliah dulu. Menyewa villa khusus di Bali dan kami menginap disana selama dua malam dan 3 hari maksimum. Aktivitasnya lengkap dengan kolam renang, sehingga siapa yang berminat bisa bersantai di dalam kolam renang atau cuma duduk-duduk saja ditepi kolamya sambil ngerumpi tentang masa lalu.

Saya ikut reuni jarak jauh saja… melalui fasilitas komunikasi internet, lewat Skype yang memugkinkan saya ngobrol dengan teman-teman saya, dengan fasilitas kamera komputer, saya tak cuma bisa mendengarkan suara mereka, tapi juga melihat satu-satu dari mereka, saya juga bisa melihat mereka ber dansa dan mendengarkan suara musik hingar-bingar era 80an… yang top dengan nama slow rock atau apa lah itu; layaknya saya menjadi bagian dari kegiatan mereka…. Gilanya, di ujung sana, mereka memasang layar proyektor yang besar dan wajah saya terpampang dengan sangat besarnya di dinding villa tempat mereka menginap.

Kira-kira dua minggu kemudian, teman-teman SMP pun mengadakan reuni, kali ini di Jakarta saja. Makan-makan bersama di salah satu restoran. Gaya reuninya lebih low profile, tidak terlalu hi-tec seperti teman-teman kuliah. Pemberi tahuannya pun mendadak, cuma sebulan sebelum reuni diadakan dan melalui ajang Facebook, Tapi tak ada tuh yang namanya Skype atau telepon atau komputer atau segala macam tetek bengek, yang ada cuma hasil akhirnya saja berupa foto-foto yang upload di Facebook. Meskipun lebih sederhana, tapi yang datang lumayan banyak, mungkin hampir separuh dari kami menyempatkan diri untuk datang. Dan untuk saya, reuni ini adalah yang pertama kali saya dengar setelah hampir 35 tahun tidak pernah ketemu… Dari foto-foto yang saya lihat, mereka semua sudah berubah bentuknya, meskipun masih ada beberapa yang tetap sama.

Wah rasanya kangen juga untuk ngobrol lagi, ketemu lagi dengan muka-muka yang dulu pernah sangat familiar di mata dan di hati saya… Pasti mereka semua sudah berubah, berkeluarga dan membanggakan anak-anaknya… pasti ada cerita-cerita tentang pengalaman mereka yang membedakan kita satu sama lain, dan mungkin saja ada diantara mereka juga yang masih tetap berhubungan akrab….

Sedih rasanya saya tidak bisa ikut hadir diantara mereka. Walaupun teknologi itu sudah sangat membantu, dengan adanya sambungan telepon, video camera dan layar lebar, tapi keceriaan reuni itu rasanya tetap belum lengkap kalo kita sendiri tidak hadir disana. Bayangkan, video camera yang menempel di komputer itu cuma bisa merekam satu sudut saja, tidak bisa ikut melihat aktifitas di ruangan yang lain. Tidak bisa ikut berenang misalnya. Sayapun cuma bisa bercakap-cakap satu lawan satu saja, karena kamera yang terpasang di komputer cuma punya sudut pandang yang sempit…. Hingar bingar musik yang mereka mainkan memang terdengar, tapi suasananya tidak tidak ikut disampaikan, keceriaan disana tidak ikut terbawa.

Apa yang saya rasakan disinipun sulit dimengerti oleh mereka; saya jadi berpikir, betapa saya terisolasi dari kehidupan yang saya kenal sejak saya kecil hingga sebelum saya pindah. Mereka tidak tau apabila saya tidak punya teman-teman dengan kegilaan yang sama, dan kebiasaan yang sama. Saya juga tidak punya teman-teman yang berpikir dengan bahasa yang sama, bercakap-cakap dengan lelucon yang sama. Tontonan TV pun berbeda, tidak ada sinetron yang mana kita bisa sama-sama menertawakan dan lain-lain…. Itu hal yang sehari-hari, lalu hal lain-lain, seperti kelompok sosial, yang mana sering menghubungkan kita kembali ke asal kita…. dimana mungkin kita akan mendapatkan bantuan pada saat kesulitan, atau yang menyatakan identitas…. Dan bagian yang terakhir inilah yang tiba-tiba terpikirkan oleh saya.

Ya, saya memang pernah menjadi bagian dari asosiasi/organisasi tertentu, universitas “anu” atau SMA “itu” atau SMP dan SD yang lain… atau mungkin kita bagian dari keluarga besar “so and so.” tapi siapa yang kenal dengan nama-nama itu pada saat kita berada diluar negeri? terpisah dari semua orang itu, dan juga disconnected dengan semua asosiasi dan organisasi yang ada di Indonesia. Yang membuat semakin sedih adalah semakin lama kita tinggal di luar Indonesia, semakin kita terlupakan, disconnected, dan semakin terisolasi dengan gaya hidup, makanan, cara berpikir dan kebiasaan yang mana selama ini kita dibesarkan dengan itu semua.

Saya jadi merasa ‘lost’

Beberapa bulan sebelum saya meninggalkan Doha, ada banyak teman-teman dari Indonesia yang bergabung dengan perusahaan dimana saya bekerja sekarang. Tapi saya lalu pindah ke Bahrain… dan saya harus membangun network baru dan teman baru, yang mana butuh waktu dan energi baru untuk mengembangkan itu semua.Kenyataannya, saya tidak punya teman-teman sesama orang Indonesia… dan dengan saya bekerja, semakin sulit saya bersosialisasi mencari teman, karena pada saat itu teman-teman sesama orang Indonesia yang saya jamin pasti banyak juga di rantau ini, mereka berasal dari akar yang berbeda dengan saya; interaksi sangat sedikit. Saya jadi merasa “LOST”;  disconnected dan isolated.

Saya bergaul dengan teman-teman yang cuma saya kenal sejak beberapa bulan yang lalu (orang Indonesia atau bukan); mereka tidak kenal siapa saya sebenarnya, dan begitu juga sebaliknya; mereka berasal dari latar belakang yang berbeda sama sekali. Nama dan wajah yang saya kenal ini juga berlalu dengan sangat cepatnya; bisa dalam hitungan hari, minggu atau bulan saja… sesudah itu entah lah pergi kemana mereka semua. Pada saat saya pindah atau mereka pindah pun, masing masing moved on, tidak ada yang perduli lagi dengan kehidupan yang lalu.  

Sarana Facebook dan segala macam fasilitas networking mungkin memang membantu mendekatkan kita kepada “akar” kita yang pernah kita tinggalkan, tetapi ini bukan berarti mengurangi rasa “lost” nya, karena pada saat kita ditanya: “network where we belong to?” Lho belong yang mana? Indonesia? ah banyak orang sudah lupa dengan saya, karena sudah begitu lama saya pergi meninggalkan Indonesia…. Qatar? siapa yang masih tinggal disana? banyak orang sudah moved-on pada saat saya meninggalkan Qatar, dan siapa yang tau apakah orang-orang yang saya tinggalkan itu masih disana? Bahrain? saya tidak kenal siapa-siapa di Bahrain…. Semua teman-teman saya sekarang saya kenal melalui media elektronik ini, tidak mengenal sentuhan hangat atau tatap muka, cuma detak tuts komputer untuk berkomunikasi… dingin dan tanpa perasaan…. Lho terus kenapa saya mau melakukan apa yang saya lakukan sekarang? berekspatriasi….?

Filed under: Expat Archive, iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s