culture
comment 1

Expatriasi ke Doha

Dengan semakin sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia, semakin banyak teman-teman saya yang ingin melakukan expatriasi, bekerja di luar negeri. Banyak persepsi yang kemudian di tangkap oleh kebanyakan orang di Indonesia dari cerita-cerita mereka yang sudah berhasil berangkat dan bekerja di Luar negeri.

Pertanyaan yang paling sering di lontarkan oleh mereka-mereka yang ingin mendengar cerita hidup dinegeri orang tentunya adalah bagainama gaya hidup kita di negeri orang dan bagaimana adaptasi dengan lingkungan baru. Pertanyaan yang sama juga mungkin di lontarkan untuk orang-orang yang akan berangkat ber ekspatriasi; bagaimana harus beradaptasi dengan lingkungan baru…. apalagi kalo negara tujuan memiliki budaya yang jauh berbeda dengan Indonesia dan tidak begitu banyak propagandanya.

Ketika saya mempersiapkan diri saya untuk berangkat bekerja di Qatar, karena informasinya sangat sedikit tentang Qatar di Indonesia, saya harus mempersiapkan segala kemungkinan, salah satunya adalah cara berpakaian. Ketika itu pemikiran saya adalah, sebagai perempuan
kami harus memakai kerudung, tak boleh memperlihatkan lengan dan betis dll. Saya pikir waktu itu tidak masalah memakai celana panjang terus menerus dan berbaju lengan panjang, tapi harus berkerudung… hmmm ini masih membingungkan saya…. Tapi sebagai persiapan di Indonesia, saya tetap membeli kerudung; meskipun untuk memakainya, saya masih berpikir beberapa kali.

Lalu bagaimana dengan komunikasi? Selain bahasa Indonesia, saya cuma bisa bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Persiapan saya waktu itu adalah dengan membeli DVD “Learning Arabic.” Saya juga kemudian membayangkan bagaimana komunikasi dengan orang-orang Arab itu, yang mana bahasa Inggrisnya pasti terbata-bata, sama seperti kebanyakan orang Indonesia yang lain. Mungkin di Kantor tidak begitu masalah, tapi bagaimana dengan hal-hal lain selain kantor, seperti misalnya belanja kebutuhan sehari-hari, di restaurant atau transaksi di bank? Saya pikir waktu itu adalah minimal saya harus mengerti “angka” dan “hari” karena ini sangat penting.

Sampai di Qatar… apa yang terjadi? Supir dan resepsionist yang menjemput dan menerima saya di hotel ternyata bukan orang arab, jadi saya cukup berbicara bahasa Inggris saja dan mereka sudah mengerti apa yang saya maksud. Teman di kantor hanya sedikit yang orang arab, semua dokumen dan surat menyurat pun dalam bahasa Inggris. Lalu bagaimana dengan belanja di supermarket atau warung dekat apartemen? Ternyata saya tidak pernah bertemu dengan pelayan toko yang orang arab, hampir selalu mereka adalah orang Filipina, India, Nepal atau malah mungkin orang Eritrea. Lalu bagaimana dengan Nonton TV atau mendengarkan radio? ternyata mungkin ada 2000 chanel TV yang bisa di tonton dari saluran antena parabola yang ada hampir di setiap atap apartmen seluruh Doha, dan tergantung channel yang mana yang ingin kita tonton, mungkin hampir semua bahasa yang ada di dunia ini ada disana, Al Jazeera TV adalah salah satu TV swasta milik Qatar, yang memiliki saluran khusus bahasa Inggris dan tidak lupa tentunya bahasa Arab. Apabila kita memasang antena yang tepat, TV Indonesia pun bisa ditangkap di Qatar ini. Bagaimana dengan berkendaraan? bagaimana dengan rambu-rambu lalu lintas di jalan? Ternyata hampir semua rambu lalulintas di tulis dalam dua bahasa, Bahasa Inggirs dan bahasa Arab dengan aksara arabnya…. hanya ini ‘arab gundul’

Beberapa waktu yang lalu teman kuliah saya, bergabung dengan saya di Qatar ini, dan dengan bangganya dia mengatakan bahwa dia megerti sedikit-sedikit mengerti apa yang dikatakan oleh penyiar TV channel lokal karena dia belajar bahasa Arab ketika kecil dan bisa membaca Qur’an. Pertanyaannya adalah apakah dengan sedikit bahasa Arab yang dia mengerti bisa membantu dia berfungsi di seantero Qatar?  Saya pikir dengan modal bahasa Arab nol tapi bisa bahasa Inggris sudah cukup untuk membuat saya beroparasi di Arabia ini; malah saya pikir dengan orang Arab dan terutama orang Qatar sendiri, apabila dia tidak bisa bahasa Inggris, malah dia yang tidak bisa beroperasi, karena pelayan toko, restoran kebanyakan adalah orang asing yang tidak bisa bahasa Arab, dan bahasa Inggris adalah media yang bisa membantu diantara mereka.

Pendapat saya? Kasihan orang-orang Arab itu yang harus menggunakan “bahasa kedua” untuk menjalankan hidupnya sendiri di negaranya sendiri. dan beruntunglah kita yang menjadi tuan rumah di negara kita sendiri…. kerugiannya adalah? kita jadi tidak bisa berfungsi di negara orang…. karena kemampuan bahasa Inggris yang minimum.

Filed under: Expat Archive, iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

1 Comment so far

  1. Pingback: 2010 | Nins' Travelog

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s