comments 4

Ke Inggris Lewat Darat

foto debu dari gunung berapi di Islandia diambil dari BBC

Saya masih berharap-harap cemas tentang rencana pernikahan kami yang akan berlangsung di Scotland (baca: Britain is Grounded dan Gretna Green) yang sudah kami rencanakan beberapa bulan yang lalu. Semua persiapan rasanya sudah beres semua (baca: Mungkin kan semua berjalan dengan Lancar?). Kopor sudah tinggal di angkat masuk mobil dan menunggu saatnya untuk ke airport. Mentalpun sudah siap. Rasanya tidak mungkin ada yang meleset dari rencana.

Tapi seperti kata pepatah: “Manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan juga yang menentukan”. Dan pepatah itu sampai sekarang masih berlaku.

Tepat seminggu sebelum kami seharusnya tiba di Scotland, TV Inggris memberitakan bahwa semua airport di Inggris Raya di  tutup, termasuk juga airport di Irlandia. Semula beritanya mengatakan bahwa bandara di tutup sementara, hingga ke esokan harinya, diakibatkan oleh debu vulkanik dari gunung berapi di Islandia. Saya menanggapnya itu hal rutin, dan masih optimis bahwa kami akan tetap akan berangkat ke Edinburgh melalui Heathrow.

Sekarang, tiga hari kemudian, atau 3 hari sebelum tanggal keberangkatan seperti yang tertera di tiket pesawat yang sudah kami beli, langit Inggris tidak juga membaik, malah berita dari TV mengatakan bahwa kondisi ini tidak juga akan membaik berubah untuk beberapa minggu.

Seorang teman yang rencananya akan datang ke pernikahan kami mengatakan untuk berangkat sekarang juga, apabila tidak maka kami tidak akan sampai ditujuan tepat waktu… Betul juga pendapatnya; tapi berangkat dari Doha, Qatar untuk ke Inggris, Edinburgh…. Hmmm lewat mana ya kalau tidak naik pesawat terbang? Lewat laut atau lewat darat?

Ini ada opsi untuk berangan-angan lewat darat ke Eropa dari Doha:

  1. Naik pesawat dari Doha ke Italy atau Spanyol (Roma atau Madrid atau Barcelona) dan lalu disambung dengan kereta Eurail sampai Paris atau Brussels, dan lalu disambung naik Eurostar sampai London – Waterloo dan Edinburgh, atau
  2. Naik kapal dari Doha langsung ke Liverpool, dan lalu disambung naik kereta atau bus atau mobil ke Edinburgh

Opsi pertama jaraknya sekitar 2 500km tidak terlalu jauh dan bisa di tempuh dalam waktu 24 jam (dari Barcelona ke Edinburgh) atau 26 jam (dari Roma ke Edinburgh) nonstop naik mobil, termasuk menyeberang selat Channel lumayan tidak terlalu jelek, cuma mungkin sangat melelahkan.

 

Yang jadi masalah adalah sebagai orang Indonesia, saya tidak mudah untuk masuk tanah Eropa, artinya keluar dari bandara di Spanyol atau Italia butuh visa ekstra yang harus di urus lebih dahulu, dan itu memakan waktu seminggu sampai sepuluh hari sendiri…. sialnya jadi orang Indonesia

Opsi kedua, mungkin lebih baik, karena tidak harus melintasi negara apa-apa, tidak harus mengurus visa sebelumnya, karena niatan cuma mengunjungi Inggris saja, dan sistem visa Inggris berbeda dengan negara-negara Eropa yang lainnya. Yang harus dilakukan adalah membeli tiket dan naik kapal mesin dan menikmati perjalanan tersebut.  Sialnya jenis transportasi ini tidak populer dibandingkan dengan setengah abad yang lalu. disamping perjalanannya yang memakan waktu yang lama. saya yakin perjalanan seperti ini juga memakan waktu minimal dua minggu sendiri….belum lagi jadwal kapalnya yang mungkin tidak berangkat setiap hari.

Contoh bertapa tergantungnya kita sekarang ini pada sistem transportasi udara… padahal Ayah saya 50 tahun yang lalu naik kapa laut dari Jakarta ke Stockholm pulang pergi.

Al hasil jalan apapun itu, saya tetap buntu, apa lagi ini cuma tinggal 3 hari sebelum hari H! kami cuma bisa berharap bahwa udara Eropa dan Inggris segera terbuka lagi untuk penerbangan komersial tepat pada waktunya kalau tidak…. pernikahan batal dong….

Filed under: iJournal, Travel Resources

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

4 Comments

  1. Agung Triadi

    Sebuah tulisan yang menarik, bahkan pantas untuk masuk kedalam kolom media cetak. Saya tergelitik untuk membaca catatan-catatan lainnya dalam blog ini. Saya masih berfikir ini masuk kedalam jenis tulisan apa… sebuah kumpulan dari penggalan catatan harian pribadi.

    Like

  2. Pingback: 2010 | Nins' Travelog

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s