portable credit card machine
comments 3

Jakarta Five Years On

Untuk mereka yang tinggal di Jakarta terus menerus, mungkin tidak terasa bedanya, apa perkembangan Jakarta lima tahun terakhir. Untuk mereka yang tinggal di luar kota, tapi secara teratur datang ke Jakarta mungkin juga tidak terlalu terasa. Tapi untuk mereka yang tinggal di daerah dan sekali setahun datang ke Jakarta, pasti ada perubahan.

Kali ini saya pulang kampung bersamaan dengan hari raya Eid. Jakarta memang lebih lengang, hari itu saya mendarat di Bandara Sukarno-Hatta jam 6 pagi. Saya masuk kota Jakarta pada saat semua orang masih sibuk melakukan Sholat Eid. Artinya lalu lintas di Jakarta sepi…. ini menyenangkan, terutama mungkin untuk adik saya yang menjemput saya di pelabuhan udara. Untuk kami, juga tidak kalah menyenangkannya, karena saya bisa pamer kota tercinta ini pada suami saya yang datang ke Jakarta lagi setelah beberapa tahun tidak melihat Jakarta.

Imigrasi:

Perubahan pertama kali yang terasa untuk saya adalah ketika check ini passport saya di Imigrasi. Ada sistem baru, yang mana di atas counter tergantung TV yang besar, dengan tulisan: INDONESIAN dan FOREIGNERS…. ini baru tahun lalu semua pendatang campur lewat counter mana saja bebas. Di atas setiap counter ada camera, yang seyogyanya terhubung dengan computer di bawah counter tersebut…. wah, ini  teknologi baru untuk imigrasi Indonesia….sayangnya. Pengalaman saya di imigrasi negara lain kamera ini untuk memotret pendatang, tidak perduli apakah dia itu foreigner atau warga negara.

Saya pun lalu siap-siap untuk di foto… dan mungkin saya harus cap jari (yang inipun biasanya termasuk rutinitas teknologi tersebut diatas) tapi ternyata saya tidak diminta untuk itu, termasuk tidak diminta untuk di foto…. Oh, saya pikir mungkin fasilitas canggih ini untuk warga negara bukan Indonesia alias ‘foreigners’ itu… tapi pada saat saya menunggu suami saya proses imigrasi (yang bukan WNI – alias ‘foreigner’) dan masuk lewat jalur foereigner…. ternyata dia juga tidak diminta untuk foto…. Jadi kamera dan alat canggih tersebut buat apa dong?

Belanja dengan ATM:

portable credit card machine

Sejak lebih dari lima tahun yang lalu kartu ATM adalah seperti kartu sakti yang bisa dipakai untuk segala macam, dari mulai urusan standar, yaitu mengambil uang di ATM, transaksi perbankan sederhana, pebayaran keperluan bulanan, seperti listrik, air, telepon dll. dan juga pembayaran belanja di toko. Menurut saya yang paling sakti adalah bahwa kartu ini bisa dipakai untuk transaksi belanja, ataupun pembayaran di restoran, yang betul-betul membantu, karena dengan demikian saya tak usah membawa uang cash terlalu banyak.

Kartu ATM tersebut, yang juga sudah exist lebih dari 8 tahun yang lalu di Indonesia dan saya juga sudah melihat semakin banyak di gunakan di mana-mana di seluruh dunia, termasuk di Doha ini. Di Doha ini juga saya menyaksikan sistem pembayaran dengan kartu ATM ini berkembang lebih lanjut. Apabila kita makan di restauran dan akan melakukan transaksi pembayaran, kita tidak usah berjalan ke counter kasir untuk menekan nomor pin dari kartu ATM tersebut, tapi cukup dari tempat duduk kita, pelayan restauran akan datang dengan mesin kartu kredit yang portable dan wireless, kita bisa menekan nomor PIN itu di tempat itu juga. Saya otomatis mengasumsikan Jakarta pun sudah lebih canggih lagi diri itu…. tapi kok saya belum pernah ketemu fasilitas ini ya di Jakarta….

Masih banyak lagi yang lain-lain yang saya lihat di Indonesia ini kemajuannya kok tanggung ya, padahal dulu, ketika saya pertama kali berangkat meninggalkan Indonesia, saya bangga dengan system teknologi Indonesia yang sangat cepat…. tapi kok kayaknya cuma setengah jalan….

Filed under: Expat Archive, iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

3 Comments

  1. Aduh senangnya yang mudik. Waktu gue pulkam 4 tahun lalu, itu pembedaan ‘Indonesians’ asama ‘Foreigners’ emang udah ada. Tapi gak kepikiran sampe mblinget kek situ (apa guenya yang lagi jet lag, males mikir). Lah kalo gitu buat apa dong dipisahin dan pake kamera segala? Begaya aja kali nggak?

    Like

  2. ade

    kalo masalah debite kartu ATM yang ga bisa mobile ke meja kita, bukan karena teknologi belum sampe ato ga ada alat seperti itu, tapi pelayanya yang gaptek ga tau kalo alat yang dia punya ada battery nya sehingga bisa dibawa-bawa… udah ade cek alatnya

    Like

  3. Pingback: 2010 | Nins' Travelog

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s