friendship
comments 9

Camaraderie a la Indonesia

Ketika saya bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja sekarang kurang lebih  hampir lima tahun yang lalu, saya satu-satunya orang Indonesia yang berkerja di perusahaan ini di Qatar. Populasi orang Indonesia di Qatarpun masih sangat sedikit.

Lebih dari sebulan kemudian saya mendapat seorang teman. Tapi karena jam kerja dan tempat kerja kami berbeda, kami jadi jarang bergaul, saya bekerja di “core office” sementara dia bekerja di “site office.” Dia pun memiliki shift yang berbeda, saya bekerja dengan jam yang normal, mulai jam 7.00 pagi dan berakhir jam 4.00 sore, sementara itu jam kerja teman saya itu adalah shift malam. Dia laki-laki dan saya perempuan (seolah-olah gender jadi issue besar), di Arabia, issue gender jadi masalah besar.

Kehidupan sosial? – ini yang sulit, saya tidak punya teman yang memiliki bahasa ibu yang sama dan budaya yang sama dengan siapa saya bisa berbagi rasa susah dan senang a la Indonesia. Saya sering kali di ajak kumpul-kumpul dengan teman-teman bangsa Philipina, yang merasa kasihan dengan saya yang sebatang kara. Terus terang saya kagum dengan mereka, dengan jumlah yang mendekati 100 orang Philipina yang bekerja di kantor saya, mereka sangat kompak, rasa kebersamaan mereka sangat besar. Mereka saling membantu dan saling berbagi rasa dengan mengadakan acara kumpul-kumpul bersama secara rutin. Acara kumpul-kumpul ini pun tidak cuma makan-makan saja, tapi juga dengan permainan sehingga acara tersebut tidak bosan. Sering kali saya diajak untuk bergabung dengan acara mereka, tapi terus terang karena kemampuan bahasa Tagalog saya nil, maka saya memutuskan untuk menolak undangan ini, karena mereka jadi terpaksa berbicara bahasa Inggris, khusus untuk saya, dan pasti ada banyak banyolan dan lelucon yang tidak akan saya mengerti….

Terus terang saya jadi iri dan cemburu dengan kedekatan dan kebersamaan bangsa Philipina yang sangat erat dan mereka benar-benar siap untuk bekerja dirantau, jauh dari keluarga dan menghadapai kehidupan sosial yang jauh berbeda apabila mereka berada di rantau. Rasanya sangat jarang saya menemukan teman sesama orang Indonesia di Doha ini, kalaupun ada, mereka agak tertutup terhadap orang Indonesia yang lain…. dan terus terang, untuk bergaul dengan ibu-ibu Indonesia agak sulit untuk saya: mereka bergaul, shopping bersama, menikmati ‘morning coffee’ bersama, atau pengajian, saya harus pergi ke kantor; saya pulang kantor, mereka pun sibuk mengurusi suami-suami mereka. Al hasil, saya terisolasi.

Lima tahun kemudian: dua setengah tahun sendirian, barulah pelan-pelan bergabung dengan kantor saya orang indonesia yang lain…. Sekarang.  lima tahun sejak saya pertama kali datang ke Qatar,  jumlah expat Indonesia yang direkrut oleh kantor tempat saya bekerja sudah lebih dari 50 orang, dan masih bertambah terus. Dengan bertambahnya populasi orang Indonesia, tentunya dilengkapi dengan berbagai permasalahannya, dari mulai musibah keluarga yang jauh di Indonesia, sampai masalah stress dan kesehatan kronis yang muncul setelah tinggal di rantau dan disinilah rasa kebersamaan itu di uji.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman terkena sakit ginjal yang menyebebkan dia harus cuci darah seminggu tiga kali. Perusahaan swasta manapun apabila pegawainya terkena penyakit kronis tak ada yang ingin mempertahankan. Saya pikir teman kami ini segera setelah urusan dengan rumah sakit selesai, pasti langsung dipulangkan ke Indonesia. Tak ada yang kami bisa lakukan tentunya… ini perusahaan besar dan kami cuma di kantor cabang saja.

Asuransi memang menanggung nya selama perawatan pertama di rumah sakit. Tapi berobat jalan sesudah itu saya tidak begitu yakin, apalagi harus cuci darah tiga kali seminggu. Yang jadi masalah, apabila dia pulang ke Indonesia, tentu perawatannya tetap memakan biaya yang tidak sedikit, apalagi pulang ke Indonesia artinya dia kehilangan pekerjaan, dan semakin sulitlah dia mengobati dirinya sendiri.Diluar dugaan, kantor kami mempertahankan teman kita itu. Artinya dia tetap bisa bekerja di kantor kami, sehingga dengan kata lain itu akan membantu membiayai pengobatannya disamping tetap mengirim uang pulang ke Indonesia, sehingga keluarganya pun tetap bisa “bernafas”.

Ok, ini baru sebagian masalah selesai…. Pengobatan jalan, cuci darah 3 x seminggu tetap harus berlangsung, dengan biaya, yang walaupun lebih murah dari pada di Indonesia, tapi tetap ada pengeluaran, yang tidak ditanggung oleh asuransi. Artinya jangan terlalu berharap akan diganti oleh perusahaan, tapi bersiap-siaplah menanggungnya sendiri.

Dengan kondisi jauh dari saudara dan keluarga yang seyogyanya adalah dengan siapa kita biasa berbagi susah, hidup di rantau mau tidak mau kita hanya mengandalkan pertemanan… sesama orang Indonesia…. yang walaupun dari kampung yang berbeda, tapi merekalah saudara se “kampung”….

Saya salut dengan rasa kebersamaan kita semua di rantau ini, yang berbagi sama-sama sudah dan senang bersama…. kami pun lalu ramai-ramai patungan secara suka rela membantu teman kami yang kesusahan dengan berbagai cara…. sumbangan berupa uang untuk cuci darah, pengobatan, dan malah antar jemput kerumah sakit yang tidak dekat dari akomodasi dan kantor.

Saya terus terang terharu melihat teman-teman sesama orang Indonesia di kantor, yang walaupun terdiri dari kelompok kecil (dibandingkan dengan kelompok dari negara Philippine) tapi solid dan solidaritas tinggi, walaupun mereka terdiri dari banyak suku di Indonesia….

Filed under: Expat Archive, iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

9 Comments

  1. Kota kecil tempat gue tinggal, adalah ‘kota pelajar’. Iowa State University tepatnya. Banyak orang Indonesia, tapi mereka yang lima belas tahun lebih muda dari gue gitu. Gak nyambung ‘gaul’nya. Mereka ngobrolin pesta, gue ngebahas anak. Ada beberapa wanita Indonesia yang menikah sama orang Amerika yang tinggal di sini dan sekitarnya, tapi ya gitu… sibuk ngurus keluarga. Organisasi pelajar Indonesia di sini juga kurang aktif, paling setahun sekali pas ada kegiatan mahasiswa berkaitan dengan universitas, baru deh muncul kegiatan/perayaan yang berbau Indonesia.
    Channel lain buat ketemu orang Indonesia? Sebelum ditutup, restaurant Indonesia yang namanya ‘Bali Satay House’. Tiap ke sana, ketemu orang Indonesia yang sengaja dateng ke sini dari luar kota.
    Mudahan gue bisa nemu temen senasib merantau di negeri ini kayak elo juga, Nin🙂

    Like

  2. I’m the only Indonesian in this island! Well ada sih cewe Indonesia yang datang dan pergi mengunjungi pacarnya yang tugas disini tapi selebihnya sih gw sendirian. Ada Singaporean & Vietnamese yang senasib sm gw yaitu ikut suami tugas disini, tapi tetep aja menurut gw kurang greget gaulnya bukan krn kendala bahasa tapi kita juga beda culturenya. Makanya gw selalu berusaha keep in touch with friends tru facebook, twitter and skype🙂

    Like

    • that is why I have no proper address, my permanent address is email and facebook, any news about me, read my blog… everybody else these days are come and go after a few years togather… This is expat life kid….

      Like

  3. Hello, kunjungan balik nih🙂 Betul banget, biasanya kita lebih kompak kalau sudah berada di negeri orang, gak memandang SARA. Lucunya namanya gossip dan berantem sesama warga Indonesia (biasanya juga karena gossip) tetap saja terjadi. Benar-benar seperti ‘kampung Indonesia’ pindah!

    Waktu pertama tiba di Aberdeen, saya gak punya ‘channel’ untuk kontak dengan warga Indonesia di sana. Hampir 6 bulan saya ‘sendirian’, untungnya kantor suami mengadakan coffee morning setiap Jumat, dan saya akhirnya bisa berteman dengan berbagai istri expat dari berbagai negara. Giliran kenal dengan ibu-ibu Indonesia, ya itu, berasa rada gak nyambung. Mungkin saya ‘kaget’ karena dari biasa kerja dan ngomongin kerjaan, trus gaul dengan ibu-ibu yang ngomongin anak, masakan, dan shopping. Belum lagi masalah latar belakang dan pendidikan yang berbeda, meski dicocok-cocokkan, ya tetap aja gak cocok. Justru pas sewaktu detik-detik terakhir akan pindah ke Australia, malah saya bertemu dengan teman-teman yang ‘seiman’🙂.

    Di Perth sini justru kebalikannya, jumlah warga Indonesia bhuannyakkk banget. Sebagian memang statusnya expat, sebagian sudah jadi immigrant. Mungkin karena dekat dengan Indonesia, dan karena jumlah warga Indonesia di sini sangat banyak, jadinya kog gak berasa di negeri orang. Kalau mau being ignorant, 24/7 bisa ngomong Indonesia dan makan makanan Indonesia dan gak gaul sama orang yang bukan Indonesia. Yes, banyak yang begitu. Hidupnya cuma muter sesama warga Indonesia dan tentang Indonesia aja. Saya suka mikir, ngapain pindah jauh-jauh kalau tiap hari nyarinya Indomie juga?

    Like

    • Horeeee akhirnya di tengokin juga, setelah bertahun-tahun reaching out ga berhasil.
      Ya itulah dia…. karena dah kebanyakan orang Indo, akhirnya urusannya jadi sama juga… gossip…. tapi jangan salah diantara expat bule dan yang cowoqnya juga… mereka juga seneng gossip…. Mungkin karena ga ada lagi yang bisa dilakukan, maklum hidup jauh dari kampung mau apa lagi kalo ga gossip diantara temen…. ga perduli apa itu kampung Indo, kampung Inggris atau kampung Oz. Dan itu yang saya alamin di kantor, bukan morning coffee loh….

      Like

  4. Nurul Fitri Lubis

    Hi Mbak Nin.. Tulisan Mbak disini hampir mirip dengan apa yang saya rasakan saat ini. Saat ini saya adalah expatriat di Africa, tepatnya di DR Congo. Saya setuju banget, kehidupan sosial adalah salah satu tantangan terbesar ketika kita menjadi seorang expatriat. Saya cukup beruntung, ketika saya tiba pertama kali di Kinshasa, saya menemukan komunitas orang Indonesia yang kebetulan bekerja di organisasi yang sama dengan tempat saya bekerja. Kami tidak banyak, bisa dihitung dengan hitungan jari tangan. Pada awalnya, saya menikmati kebersamaan bersama mereka, karena pada dasarnya mereka baik. Namun, lama kelamaan kok mulai terasa membosankan. Kegiatan yang dilakukan hanyalah berkumpul di rumah siapa, dilanjutkan dengan makan bersama. Itu saja, tanpa dibarengi aktifitas lain. Memang, kondisi negara ini juga tidak memungkinkan kita untuk berkeliaran terlalu bebas. Begitupun, bukan tidak mungkin untuk melakukan sesuatu yang ‘fun’. Misalnya, ikut gym, menghadiri pesta. berenang, atau jogging bersama para expatriat lain. Tidak perlu menjadi party girl. Tapi, paling tidak menambah sosialisasi. Namun, setiap kali saya mengajak mereka, jawaban mereka selalu sama. Mereka lebih senang di rumah dan berhubungan dengan dunia maya. Saya mulai dilanda kesepian dan kebosanan. Karena, sebelumnya saya termasuk orang yang cukup aktif. Saya sempat merasa iri ketika melihat status Facebook seorang teman Australia yang berada di Afghanistan. Begini dia menulis, “Just had the amazing times with the Indonesians. Abis karaokean boo”.. Status yang jelas2 bikin saya iri. Karaoke? Di Afghanistan? Tak sabar, saya langsung mengirimkan email singkat kepada dia dan bertanya apakah ada tempat karaoke seperti Inul Vista di Kabul sana. Si teman menjawab, “tak perlu berkaraoke ke Inul Vista. Kita karaokean di rumah. And it was very nice,”.. Saya mencoba mengimplemantasikan ide ini dengan teman-teman Indonesia lain. Namun, tak ada tanggapan. Saya malah kelihatan seperti autis dikarenakan ketika berkumpul bersama mereka, saya sibuk bersenandung. Sementara mereka heboh dengan dunia maya atau kegiatan menonton televisi.

    Karena putus asa, saya bermaksud menemukan teman dari komunitas lain, yang jelas – jelas SULIT. Karena beberapa alasan yang tak bisa saya sebutkan, saya tidak mungkin menjalin hubungan persahabatan dengan para penduduk lokal. Dan, berhubungan dengan para expatriat lain pun tidak gampang. Suatu hari saya ketemu dengan seorang teman pria berasal dari Spanyol. Si teman ini pernah tinggal di Indonesia dan punya pengalaman menarik selama di Indonesia. Karena itu, dia excited sekali begitu mengetahui saya adlah seorang Indonesian. Sayangnya, si teman, Diego, tinggal di sub district yang berbeda dan agak sulit untuk berinteraksi terlalu sering. Begitupun, setiap minggu kami selalu bertemu. At least untuk sebuah dinner. Dia juga membawa saya ke pesta dan mengenalkan saya dengan kelompok expatriat lain. Bukan hanya itu, dia juga mengajak saya camping bersama dan membuat pesta karaoke untuk saya. Akhirnya, hidup saya sedikit berwarna.

    Namun, hal itu hanya sementara. Setelah selang beberapa waktu, Diego menyelesaikan kontrak kerjanya dan harus segera pergi. Well, saya memang sudah mengenal banyak orang melalui Diego. Namun, kebanyakan dari mereka berasal dari negara yang tidak berbahasa Inggris, seperti Spanyol, Prancis dan Belgia. Bahkan, beberapa dari mereka memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang minim. Jadi, bisa dipastikan, mereka lebih sering menggunakan bahasa Perancis untuk bahasa pergaulan, karena hampir semua dari mereka fasih berbahasa ini. Sementara, kemampuan bahasa Prancis saya mendekati nol. Bisa dikatakan, saya hampir miss komunikasi ketika bersama mereka.

    Saat Diego masih ada, hal ini tak terlalu memusingkan saya. Bahasa Inggris Diego excellent. Selancar native speaker. Karena itu, dia selalu menjelaskan kepada saya apa yang mereka bicarakan. Namun, lain ceritanya ketika Diego sudah pergi. Saya merasa mereka berusaha terlalu keras untuk berbicara dalam bahasa Inggris hanya untuk menghargai saya. Akhirnya, pertemuan dan kegiatan saya bersama mereka berkurang drastis.

    Well, setelah itu saya mendapatkan teman lain, seperti Diego. yang bisa saya anggap teman dan bisa saya ajak untuk ‘fun’. Meskipun tidak gampang. Menemukan mereka, seperti menemukan jarum di dalam setumpuk jerami.

    Like

    • Nin

      Nurul, memang itu bedanya hidup sebagai expat dan hidup normal, expat, mungkin gaji besar, berlipat kali dari waktu di negara asal, tapi pengorbanannya banyak bo!. Beruntung kalo ada temen yang sepaham dan se ‘aliran’ tapi, sialnya kebanyakan teman sesama expat cepat berlalu… setahun, dua tahun… sukur kalo lebih, pada akhirnya kita semua moved on, dan menjalani hidup kit sendiri. Mereka yang terlibat dengan dunia maya itu kan karena hidup mereka bukan ‘for the moment’ tapi untuk keluarga yang ditinggal. Tapi untuk para single…. memang extra berat, apa lagi kalo perempuan. Dan jangan lupa setiap lokasi beda kondisi, beda lingkungan, beda kesulitannya juga. Saya juga mengalami hal yang mirip seperti kamu waktu saya di Singapore…. bayangin… kurang apa Singapore, tapi kayaknya Sg kurang cocok buat saya. Saya baru beruntung di Doha….

      Like

  5. Pingback: 2010 | Nins' Travelog

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s