Dulang-8
comments 9

Dulang Hotel & Resor di Lembang

“Pulang Kampung” setahun sekali, idealnya dibuat acara khusus, apa lagi kali ini pulang kampung selama 2 minggu. Jadilah jauh-jauh hari saya merencanakan untuk berwisata lokalan, sekitar Jakarta…. atau puncak, tujuannya adalah mencari udara yang agak dingin tapi tidak terlalu jauh dari Jakarta. Setelah melalu perdebatan panjang dengan adik saya, yang seyogyanya lebih kenal “medan” dan tau keseharian hidup di Indonesia, kami lalu memutuskan untuk ke Lembang bukan Puncak. Alasannya:

  1. Menurut saya Lembang lebih jauh dari pada Puncak, tapi menurut adik saya itu kalau ditempuh melalui tol maka jarak tempuh itu bisa dicapai dengan waktu yang lebih singkat, dan tidak lebih dari 3 jam, dan sudah termasuk macet.
  2. Pilihan tempat penginapan yang layak dan agak baru lebih banyak di Lembang dari pada di Puncak.

Jadilah saya mulai melakukan survey untuk menginap di tempat yang “lumayan” dan tidak terlalu mahal, artinya bukan harga hotel Jakarta.

Pemandangan kota Bandung seperti dilihat dari Lembang

Pemandangan kota Bandung seperti dilihat dari Lembang

Berhubung hari kepulangan saya ke Indonesia bertepatan dengan liburan lebaran haji, yang juga jatuh pada perpanjangan akhir pekan, jadilah hari-hari itu adalah hari libur panjang untuk semua orang Indonesia, terutama orang Jakarta. Jadilah mencari tempat yang lumayan OK, secara fasilitas, desain lokasi, dan servis tidak mudah, alias hampir semua penginapan dengan kategori diatas sudah fully booked menurut Booking.com. Eh tapi tunggu dulu…. ada yang cukup menarik nih : Dulang Hotel & Resor… atau seperti itulah foto-foto yang terlihat di situs pemesanan hotel tersebut seperti Agoda atau Booking.com. Harganya pun tidak terlalu jelek, malah cenderung termasuk murah. Jadilah cepat-cepat saya booking untuk satu bungalow dengan 3 kamar untuk dua malam.

Kesan Pertama:

Atau minimal ini kesan yang saya dapat dari promosi di website Booking.com: arsitekturnya lumayan unik, karena ini kan di daerah Sunda (Jawa Barat) tapi meng adopsi arsitektur Jawa – Joglo

Dulang Bungalow

Arsitektur Joglo di daerah Lembang? unik atau pemaksaan?

Dari melihat foto diatas, kursinya pun mengingatkan saya pada rumah nenek saya di Madiun – Jawa Timur dulu, yang sekarang sudah entah kemana….  termasuk bale yang ada di teras samping….hmm lumayan.

Walaupun saya kurang bisa mengerti mengapa arsitektur Jawa di paksakan di bangun di kawasan Sunda, tapi karena misi saya ingin ‘mengenalkan’ budaya Indonesia (tidak peduli dari daerah mana di Indonesia) kepada suami yang orang Inggris, maka saya ‘berusaha’ mengenerima ide tersebut diatas, walaupun saya tetap berpikir “apa daerah Sunda ini tak punya kepribadian arsitektur sendiri? dan bagaimana dengan para arsitek kawasan Bandung, yang brilian itu, mengapa mereka tidak punya suara??? Tapi pertanyaan itu kan cuma untuk diri saya sendir…. biarkan saja para arsitek itu berdebat, kenyataannya adik, suami dan ibu saya tidak ada yang perduli tentang nilai arsitektur dari suku yang berbeda di Indonesia…. itukan karena saya aristek saja.

Transport.

Kami berangkat dari kawasan BSD, Tangerang, jam 1 siang hari Sabtu, setelah melalui banyak urusan domestik rumah tangga yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Ternyata ini adalah langkah yang salah; Jakarta tengah hari, hari sabtu adalah jam macet, di mana-mana macet, jadi untuk keluar Jakarta, dan masuk jalan tol Jabotabek sudah memakan waktu satu setengah jam sendiri… Ehm…, dari target 3 jam maksimum, separuhnya sudah habis di Jakarta.

Sepanjang jalan Tol yang ‘baru’ (atau minimal ini jalan toll ini pertama kali untuk saya yang sudah lebih dari 8 tahun meninggalkan Indonesia), penuh dengan kendaraan, yang mengakibatkan jalur ini jadi merayap dengan kecepatan maksimum 50 km/jam aargh! Untuk mempersingkat waktu, kami tidak melalui tol Cipularang / Padaleunyi, lalu Bandung, tapi melalui “jalan pintas”, langsung masuk Lembang. Jangan disangka jalan pintas ini lebih lancar…. karena rupanya semua orang berpikiran yang sama, mengambil jalan pintas, termasuk angkot dan motor, yang membuat jalan yang sudah sempit menjadi semakin sempit. Sialnya cuacapun tidak mendukung; walaupun tidak deras, tapi selama perjalan setelah kami meninggalkan jalan toll, sepanjang jalan hujan terus.

Beruntung ada apps Waze dan Google maps yang menunjukkan route mana saja yang harus di ambil untuk menuju Dulang Hotel dan Resor ini.

Pemandangan dari Dulang Hotel & Resor

Pemandangan dari Dulang Hotel & Resor

Lokasi hotel ternyata sangat terpencil dari kehidupan malam di jalan utama; dan jalan untuk menuju hotel, betul-betul tidak manusiawi, dan tidak memenuhi standar keamanan jalan…. Kami akhirnya tiba di hotel sekitar jam 9 malam, ditengah hujan rintik rintik dan udara “dingin” Lembang, kondisi kami dalam keadaan letih, lelah dan l a p a r……

Kedatangan kami di hotel ini disambut dengan terbata-bata… saya cukup maklum, karena ini memang sudah malam untuk kawasan pedesaan, walaupun menurut booking.com mereka buka 24 jam. Tapi secara keseluruhan pendapat kami adalah:

  1. Pelayanan resepsionist tidak professional apalagi pada saat menjanjikan bahwa resepsion buka 24 jam. Lahan yang berbukit-bukit menyulitkan aksesibilitas tamu hotel menuju ke kamar/bungalow yang harus di akses dengan tangga yang terlalu curam. Seyogyanya pada data fasilitas hotel diberitahukan bahwa hotel ini tidak di rekomendasi untuk mereka yang memiliki kesulitan mobilitas. Jadilah ibu saya yang sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun harus naik/turun tangga yang cukup terjal dan licin karena hujan rintik-rintik.
  2. Jam 9 malam sebenarnya sudah cukup larut, saya mengerti sekali ini. Itu sebabnya saya pun bertanya apakah restaurant masih buka?  Pada saat jawaban mengatakan masih buka, dan masih menerima pesanan, tentunya ini berarti, semua menu masih lengkap dan di sajikan secara normal. Kenyataannya…. banyak makanan dari daftar menu yang tidak bisa disajikan lagi. dan kalaupun ada artinya disajikan dingin. Terus terang ini betul-betul tidak professional. Kalau memang jam 9 malam sudah terlalu malam dan dapur tutup, bilang saja begitu, maka kami akan mengerti lebih baik dari pada makanan disajikan di bawah standar.
  3. Salah satu fasilitas yang di tawarkan di website di atas adalah “hot-Shower“, kenyataannya, tidak semua bungalow memiliki fasilitas ini, kami harus pindah ke bungalow lain yang memiliki fasilitas air panas. Fasilitas lain: “free bath amenities”  – terus terang saya kurang mengerti maksudnya apa dengan kata-kata “free bath amenities” , karena aktifitas “bathing” tidak sama dengan mandi.

    Saya jadi bertanya-tanya, apa sih yang dimaksud fasilitas “bath amenities” karena di kamar mandi ini kecuali sabun cair, tidak ada fasilitas lain seperti “bath-tub” yang mendukung aktifitas “bathing”, atau se sederhana seperti gantungan handuk pun tidak ada, apa lagi tissue. Belum lagi bahan lantai yang terbuat dari bahan batu pecah yang bisa jadi berbahaya untuk telapak kaki yang telanjang.

  4. Bagaimana dengan Washtafel? atau istilah teknisnya lavatory… ah rupany ini dilaur konsep kamar mandi, jadilah kami harus sikat gigi di pantry
  5. Cottage kami diperuntukkan untuk 6 orang yang terdiri dari 3 kamar tidur, dan katanya: “each cottage features a seating area, dining table and a flat-screen cable TV.” Kenyataannya: seating area bukan untuk 6 orang seperti penghuninya, tapi cuma bale besar yang cukup untuk duduk 3 orang saja dan nonton flat-screen cable TV yang harus di aktifkan lebih dulu melalui proses yang panjang. Dining table…. saya kurang mengerti tentang konsep dining table ini, yang jelas di dalam cottage ini memang dilengkapi dengan pantry, tapi tidak dengan dining table, apa lagi dining chair….
Ruang bersama, termasuk didalamnya bale untuk duduk dan nonton TV, pantry, dengan fasilitas peralatan minum teh yang tidak cukup untuk 6 orang

Ruang bersama, termasuk didalamnya bale untuk duduk dan nonton TV, pantry, dengan fasilitas peralatan minum teh yang tidak cukup untuk 6 orang

Sarapan pagi merupakan pengalaman lain lagi, pada saat kami tiba di ruang makan tepat jam 6 pagi, seperti yang di janjikan bahwa sarapan dimulai sejak jam 6 pagi mereka belum siap dengan menu makanannya, belum lagi bahwa petugas yang melayani kami tidak mengerti jenis sendok apa untuk mengambil bubur, dan jenis sendok apa untuk mengambil nasi goreng….

Kami akhirnya tidak melihat lebih jauh dari pada cottage kami dan restoran tempat kami sarapan, karena sudah terlanjur patah arang dengan hotel ini. Menurut saya, nama “Hotel dan Resor” kurang cocok untuk fasilitas hotel yang terbatas, disamping itu, Departemen Pariwisata Indonesia harusnya mengawasi kualitas hotel-hotelnya

Kesalahan saya yang terbesar dalam hal ini adalah bahwa saya tidak memperhatikan komentar dan review orang lain yang sudah pernah menginap di Hotel ini…. anyway, lesson learned!

Filed under: iJournal

About the Author

Posted by

I used to live as an expat and travel around the Middle East. After 10 years working in the Arabian Gulf I am now retired and living in the UK with my British husband but still retain my interests of further travels and exploring new horizons in Europe.

9 Comments

  1. Muhani Irawati Nandana

    Nina, this is nothing new…..we are not ready for such things. Murid tante orang Australi buat reservasi dihotel di Taman Safari, brosurnya/websitenya menarik sekali – they reserved for a long week-end. Sampai disana ternyata ruangan lembab, sepre tidak diganti, no toiletries. Akhirnya mereka tidur menggunakan baju mereka dan besoknya langsung balik padahal sudah bayar utk 2 malam, they would rather sacrefice their money krn anak2nya tdk comfortable. Restoran disana sama serpti yg Nina alami, akhirnya turunlah mereka cari makan di Bogor, masuk keresotran yg lumayan besar, semua yg mereka minta jawabannya “kosong”……sedih sekali

    Like

    • kayaknya yang siap dengan industri pariwisata cuma Bali ya, yang lainnya masih ketinggalan puluhan tahun….

      Like

  2. Pingback: 5 Star Traveller? | Nins' Travelog

  3. Sayang sebenarnya, sudah berada di lokasi menarik, tapi tidak bisa memaksimalkan fasilitas dan pelayanan. Serba tanggung😦
    Sepertinya susah mbak mengharapkan Departemen Pariwisata untuk mengawasi kondisi perhotelan. kayaknya mereka kurang inisiatif juga, padahal website hotel review bertebaran di mana-mana. Atau ada hotline khusus untuk turis yg ingin melaporkan operasional hotel/resort/travel agent yang menyimpang..

    Like

    • Memang serba salah, lepas dari Dep. Pariswisata yang pengawasannya lemah, kita semua juga punya andil terhadap mutu, karena kebanyakan turis lokal tidak penting mutu, yang penting bisa tidur, disamping kalo complaint langsung ga akan di gubris sampe mereka bener-bener kehilangan tamu… Mungkin idea Indah bagus tuh ada hot-line tuk complaint.

      Like

  4. Wah Mba Nina trimaksih sekali informasinya, baru saja akan survey ke sana untuk acara kantor.
    hmm bisa jadi pertimbangan nih, walaupun view nya bagus tapi kalau pelayanan nggak oke kayanya agak males deh yahh…😦

    harus cari laternatif lain nih..

    salam kenal
    Keke

    Like

    • Iya, Kamar mandinya ga OK sama sekali, sangat slippery dan kalo terpeleset maka kemungkinan bisa cidera yg ga ringan. 😦

      Like

  5. mbak nina, wah fans baru nih, ceritanya seru-seru ternyata ya
    Gegara nyasar googling soal Dulang hotel ini, noted deh..tadinya saya mau cari tempat buat ultahan suami tapi baca reviewnya ngga oke gini jadi males ya.
    Mungkin kalo nanti pulang kampung lagi bisa dicoba Tea garden Resort di Lembang juga, tempatnya lumayan enak di dekat perkebunan teh dan ada air tejun yang bisa jalan kaki. Mungkin bisa baca di postingan saya ini :
    Traveling Cow ke Tea Garden Resort dan Traveling Cow Tea walk dan Curug

    Aku add di Blog listku ya, makasi…

    Like

  6. Pingback: 2014 | Nins' Travelog

I love to hear from you...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s