comments 4

Bristol dan Street Art

Untuk mereka yang menyukai segalanya serba bersih, steril dan indah, Bristol mungkin bukan tempat yang ideal. Tapi, apabila anda menyukai street art maka Bristol bisa jadi adalah kota tujuan utama di Inggris atau bahkan di Eropa sekalipun. Dan itu terlihat dimana-mana, hampir diseluruh bagian kota. Dan street art itu menjadi bagian dari sejarah kota Bristol; baik itu merupakan cerita sukses dari Bristolian, ataupun sejarah gelap Bristol dan bahkan Kerajaan Inggris. Dan itu semua terlihat, bukan hanya di museum, tapi pada arsitektur kota tersebut dan fasade bangunannya dan tentunya juga karya street art di hampir seluruh kota Bristol.

Bangunan berwarna biru tua…. graffiti, mural atau street art?

Ketika saya pertama kali tiba di Bristol untuk kemudian menetap di Bristol, Keith menunjukkan saya suatu kawasan kecil di Bristol, Stoke Croft. Lokasinya di tengah kota, saya meringis melihat bagaimana suatu bangunan itu hilang oleh banyaknya graffiti yang menutupi cat dinding bangunan yang asli. Tapi ketika beberapa bulan kemudian saya ikut street art tour jalan kaki keliling Bristol, mereka mengatakannya itu “Street Art” bukan graffiti. Pertanyaannya sekarang adalah apa definisi Graffiiti dan apa itu Street Art?

Berikut adalah penjelasan antara Mural, Street Art dan Graffiti:

Mural adalah karya seni gambar yang di gambar langsung pada dinding (sebagai perbandingan, karya seni visual biasanya di pajang/di gantung pada dinding, bukan di gambar langsung di dinding tersebut dan tidak bisa di pindahkan), dan bisa didinding luar bangunan atau dinding dalam ruangan.

Street art adalah karya seni yang lokasinya di area publik dan biasanya di buat secara ilegal tanpa ijin resmi dari otoritas pemerintah setempat dan biasanya ada pesan yang tersirat, misalnya pesan politis, atau kritik sosial.

Status ilegal dari keberadaan karya street-art, menjadikannya tumpang-tindih dengan Graffiti, yang juga berupa gambar atau lukisan atau ukiran yang di buat tanpa ijin. Tergantung dari nilai estetika atau pilihan politiknya beberapa street-art bisa di kategorikan sebagai graffiti.

Street art di Bristol:

Stoke Croft & Cheltenham Rd.

Pertemuan jalan antara Stoke Croft & Cheltenham Rd.

Foto diatas, adalah contoh karya sebuah mural yang lokasinya menurut saya termasuk kentara, terletak dipertemuan dari dua jalan utama di pusat kota Bristol, dan termasuk dalam kawasan Stoke Croft. Ketika saya pertama kali tiba di Bristol, dan melihat mural ini, ada rasa ketakutan bahwa inlah kawasan ‘bronx’ Bristol, dan membuat saya merasa harus ekstra hati-hati apabila berjalan kaki di kawasan ini.

Gambaran ini ada dimana-mana di kawasan ini; ada yang berupa gambar huruf… tapi ada pula yang berupa gambar kartun

Apabila kita melanjutkan perjalanan kita ke utara, arah Cheltenham Road, maka kita akan melihat berbagai artis jalanan mengekspresikan karya seni mereka, baik dalam bentuk mural, street art atau graffiti. Pertanyaannya adalah apa definisi semua istilah diatas itu?

Dan bangunan yang sarat dengan karya artis jalanan tersebut hanyalah permulaan dari kawasan Stoke Croft ini; selanjutnya sepanjang jalan yang kemudian berlanjut dengan Cheltenham Rd. adalah hingga ke jalan-jalan kecil di kiri dan kanan jalan tersebut, sarat dengen coretan dan gambar-gambar street art dan graffiti yang menarik, kocak dan penuh dengan sindiran sosial dan politik.

Tapi gambaran diatas adalah perasaan pada saat kita tidak kenal dengan area dan komunitas tersebut. Stroke Croft ternyata sarat dengan artis-artis jalanan yang siap berkreasi, baik untuk menjadikannya mural ataupun sekedar cara mereka mengekspresikan diri mereka. Harus di beri acungan jempol bahwa pemerintah setempat tidak berusaha membersihkannya.

Tapi mungkin pemerintah setempat tidak perlu pusing, karena para artis jalanan itu berusaha saling tumpang tindih satu dengan yang lain diantara mereka sendiri. Jadi, sering kali street art atau karya graffiti mereka tidak tahan lama.

coretan street art yang di tumpang tindih oleh berbagai artis jalanan… sekarang sudah hilang
Mild Mild West

Mild Mild West salah satu karya pertama Banksy di dinding Hamilton Building

St Paul

Bersebelahan dengan Stoke Croft dalam St Paul, popular dengan penduduk nya yang kebanyakan adalah imigran dari kepulauan Karibia, daerah inipun sangat inspiratif dengan budaya dan karya ‘seni’ sarat dengan street art, mural dan graffitinya. Themanya pun bermacam-macam, ada yang berupa penghargaan pada seseorang, ada yang promosi karnaval tahunan ataupun kritik sosial.

Memperingati kasus windrush dan juga St. Paul Carnival yang berlangsun dari seja tahun 1968 s/d 2019

Nelson Street dan Quay Street

Nelson St. dan Quay St. tarletak benar-benar di pusat kota Bristol, yang sedianya adalah juga pusat perbelanjaan dari suatu kota di Eropa. Tetapi pada awal PD II (Perang Dunia ke 2), pusat kota Bristol hampir habis di bom oleh Jerman, dan ketika dibangun kembali, dunia arsitektur sedang mengalami resesi identitas’ Maka jadilah bagian kota ini sarat dengan bangunan gaya arsitektur – brutalisme, dengan ciri khasnya adalah beton expose bersebelahan dengan bangunan tua jaman medieval.

Beberapa than yang lalu, para artis street art diberi kesempatan untuk berkreasi di dining beton bangunan berlantai banyak tersebut. Hasilnya…. mungkin tidak terlalu cantik, tapi ini idea bagus untuk menyelesaikan masalah Arstektur Brutalisme yang tidak mudah untuk di hancurkan apabila ternyata kita tidak suka dengan bangunan yang sudah dibangun dengan biaya yang tidak sedikit pada jaman resesi.

Ada beberapa mural lain yang bisa dinikmati sepanjang kawasan kota tua ini. Malah bekas kantor ke polisian kota pun di lukis dengan cara yang unik:

Bedminster & North Street

Ada burung yang mengintip diantara rumah deert ini….

Bedminster, yang tarletan di selatan kota Bristol adalah tempat baru yang popular di kalangan para artis jalanan untuk mengekspresikan kreasi meraka, apalagi setiap dua tahun sekali, diadakah Upfest di kawasan ini. Festival untuk pada artis yang mengekspresikan kemampuan mereka di berbagai dinding di sepanjang North Street dan sekitarnya di kawasan Bedminster.

Gambar terakhhir di dinding ini untuk tahun 2019-2020 adalah tokoh Greta Thunberg, aktivis lingkungan hidup dari Swedia.

			

Rook

Pada saat lockdown hampir selesai, saya belum juga selesai menggali foto-foto lama yang ada.

Foto diatas adalah jenis burung Rook (Corvus frugilegus), saya tidak akan menterjemahkan nama burung ini kedalam nama bahasa Indonesia, karena rasanya burung ini tidak hidup di tropis. Mereka hidup berkelompok di belahan sub-tropis. dan kadang-kadang berpindah tempat yang lebih dingin.

kelompok rook di puncak pohon, terlihat lebih jelas di musim dingin

Dalam bahasa inggris disebut Rook karena sesuai dengan bunyinya, tetapi dalam bahasa ilmiahnya Corvus frugilegus termasuk dalam keluarga (famili) crowcorvidae dan ordo Passerines.

Rook adalah salah satu jenis burung yang paling sosial, dan dikenal cerdas; mereka hidup berkelompok dan bisa bekerja sama untuk menyelesaikan masalah. Mereka juga sangat teritorial, biasanya bersarang di puncak pohon dan mempertahankan sarangnya bersama pasangannya dan secara kelompok.

Rook hidup berpasangan untuk sisa hidup mereka. Bersama mereka membuta sarang untuk bertelur dan akan kembali menggunakan sarang tersebut berkali-kali, dan setiap tahun akan kembali kesarang yang sama untuk bertelur. Jangka waktu hidup mereka bisa mecapai 6 tahun.

Miyara

Not having my own children doesn’t mean that I missing out wathich a baby growing up. Miyara is an example.

As my neighbour, I am delighted to see her grow up and feel previlage to be able to record her day to day change into my camera. Here are the collection of her 2020 actions in picture.

A year and a bit later, after she can sit down proper, more hair and teeth and obviously more personality….

taken a week later, 8th of May, on a warmer weather

She’s always happy to see me and I promised her to see her if she waers a new dress and pose for me…. around two weeks later after the last photo session.

another new dress to show off the next day on the 24th of May

always friendly and happy waving at fellow neighbour who wants to enjoy the sun in our garden

will she be a football player or a lady???? have your say….

More picture of her on my portfolio

Moorhen

 

ISO 1000 1/400sec at ƒ/4.8 focal 340mm, kamera: Nikon 750 tanggal 01 October 2018

Burung Mandar Batu

Mandar Batu, begitu nama jenis burung diatas dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris disebut Common Moorhen (Gallinula chloropusdalam bahasa ilmiahnya). Burung ini termasuk dalam keluarga burung Rallidae; ditemukan dimana-mana di seluruh dunia, kecuali Australia. Saya sendiri belum pernah melihatnya langsung di Indonesia, tetapi dengan nama bahasa Indonesianya Mandar Batu, membuktikan bahwa jenis unggas ini ada di Indonesia walaupun tidak populer.

Ciri khas Mandar batu adalah paruhnya yang berwarna merah dengan ujung berwarna kuning. Secara keseluruhan tubuh burung ini ditutupi dengan bulu yang berwarna hitam, dan semburat putih pada ekornya dan sayapnya.

Mandar batu hidup di rawa-rawa air tawar, yang mana walaupun telapak kakinya tidak memiliki selaput, diantara jari kakinya, tetapi mereka pandai berenang.

Seperti terlihat dari bentuk paruhnya makanan utama burung mandar batu ini adalah serangga kecil biji-bijian, gabah atau bahkan lumut air, malah kadang-kadang anak burung kecil lainnya.

Mandar batu membuat sarangnya diatas permukaan tumbuhan air ditepi sungai, dan kedua induknya (jantan dan retina) akan mengerami telurnya yang bisa mencapai 5 – 11 butir dalam satu kali kelahiran; sering kali kakak nya akan ikut membantu membesarkan anak burung yang baru menets.

Photo diatas diamail di taman burung di Slimbridge, UK.

comments 6

On Lock Down period

As much as I love traveling, visiting different countries, and working to tick all the items on my bucket list; I have to admit that since I moved to the UK, I didn’t do so much traveling abroad, instead, my husband and I try to discover the UK especially England as much as possible, especially while waiting for my permanent residency. However, during this strange ‘lock down’ period, traveling locally is also restricted. The question is what should we do to fill the time at home?   Well this is my solution:

Working to draw wild flowers on a featured column inside my flat

  1. Watch TV news as necessary, not too much as that might drive me crazy, but just enough to get the information, yet I managed to listen to more music… and maybe I could manage to memorise more lyrics of my favourite songs….
  2. Hunting for new photographs could be an option; but I have so many pictures that I need to look at and sort out before I can share it on the media, thus, this is one of the tasks that I aim to do while staying home during the lock down period.
  3. I am now rekindling my arty passion, and trying to find out my artistic talent… (if I have any 😉 ):
  4. Another new hobby of mine is working on my Bullet Journal, and now more than ever, I decorate it even more with silly drawings that I got the ideas from everywhere….
  5. And off course I am still working on training my self to run a Half Marathon before I reach 60 … I’ve been training for years but could never manage to get more than a 10 K Run 😦 .

These are only samples, more of them you can be found on my Nin’s Lenscape blog, where I put mostly my best photos only.

Kaskelot

ISO 200 15.0sec at ƒ/13 focal 24mm, taken by Nikon 750 on 27 October 2017

This picture taken in October 2017, at its home in Bristol Harbourside, UK. However since February 2019, this ship change it’s ownership, and it is now lives in France.

comments 11

Why Bristol?

“Kenapa Bristol?” – pertanyaan yang di lontarkan secara lugu oleh seorang teman lama yang kebetulan berkunjung ke UK. Pertanyaan yang seharusnya dipertanyakan sebelum saya pindah ke Bristol, empat tahun yang lalu, atau bahkan lebih lama dari itu. Pertanyaan yang harusnya sudah saya pertanyakan ketika kami memutuskan untuk pensiun dan pindah ke UK; artinya mungkin 5 atau 6 tahun yang lalu….

“Why Bristol…???”

Untuk kebanyakan teman-teman di Indonesia, tidak begitu penting dimana lokasi Bristol, karena negara Inggris identik dengan London

Dan sayapun tidak dapat menjawab langsung, mengapa kami memilih Bristol, padahal ketika kami baru saja pindah ke UK, pernah ada pertanyaan sebaiknya kami tinggal dimana? hanya saja pertanyaan itu lebih luas lagi: “Living in the City or in the Country?”  Pada saat kami memutuskan untuk tinggal di Kota, bukan pertanyaan lagi mengapa kami memilih Bristol. Untuk kebanyakan teman-teman di Indonesia, tidak begitu penting dimana lokasi Bristol atau bahkan apa itu Bristol, karena bagi mereka dimanapun saya tinggal, tidak begitu jadi masalah, karena saya tetap ada di negara Inggris, yang hampir identik dengan London (ceritanya dibaca disini).

Kunci Gembog di “Pero Bridge” sebagai tanda pengikat cinta….

Queen Square, tepat di tengah area perkantoran, tanpa merasa seperti di tengah perkantoran yang sibuk

Sebagai gadis kota, yang mana saya dibesarkan di Jakarta yang nota bene adalah Kota Metropolitan, saya sangat terbiasa dengan kehidupan kota besar, yang sibuk dan berputar dengan cepat; tinggal di Jakarta, waktu serasa berputar dengan cepat, dan saya sangat menikmati gaya hidup cepat seperti ini. Pindah ke Bristol seharusnya agak mengecewakan, tapi ternyata ada banyak faktor yang membuat saya berubah pendapat dari seorang perempuan metropolitan menjadi seorang Nina yang menikmati hidup ini dan menghargai segala hal yang berada disekitar saya secara perlahan dan detail.

Faktor pertama tentunya adalah kenyataan bahwa dari Jakarta, saya tidak langsung pindah ke Bristol; tapi saya “transit” di Doha (Qatar) selama total 9 tahun dan Manama (ibukota Bahrain) selama satu tahun, bekerja sebagai Expat. Saya pikir itu jangka waktu yang cukup lama untuk merubah gaya hidup dan pola berpikir seseorang. Saya belajar dan mengerti bahwa hidup di kota dengan populasi dibawah satu juta penduduk ternyata lebih nyaman dibandingkan dengan hidup di kota yang sangat sibuk dan harus bersaing dengan lebih dari 10 juta orang lain untuk mendapatkan tempat tinggal dan udara segar di Jakarta.

Faktor kedua adalah saya menikah. Artinya segala keputusan hidup, diputuskan berdua, bukan cuma saya sendiri yang menentukan, kita berdua sepakat untuk membangun hidup baru di UK, dan saya pasrah saja dimanapun itu di UK, selama saya bisa berfungsi seperti layaknya saya di Jakarta atau di Doha. Artinya, agak sulit bagi saya untuk beroperasi apabila kami tinggal di desa, dan terlalu jauh dari tempat hiburan atau yang lebih penting adalah terlalu jauh dari rumah sakit,  yang tidak mudah dicapai apabila kami tinggal di desa atau tempat yang terpencil.

Orang Bristol – “Bristolian” walaupun tidak se meriah London, bukan berarti Bristol adalah kota yang sepi….

Lalu mengapa bukan London?

Keith, sebenarnya berasal dari Guildford, kota kecil (bukan kota metropolitan) di selatan London, yang cuma berjarak kira-kira satu jam dari London. Bisa dibayangkan, posisinya mirip seperti Bogor terhadap Jakarta, dimana banyak penduduk Guildford yang melakukan perjalanan komuter ke London, dan tidak terkecuali dengan Keith. Dengan pengalaman tersebut, tinggal di London bukan pengalaman yang menyenangkan untuk dia. Kami pernah mencari tempat tinggal dekat Guilford, tapi semua adalah kota kecil, bahkan lebih kecil dari Guildford.

Ada banyak kota lain di luar London yang tidak kalah menariknya…

Hal lainnya adalah tentunya masalah harga properti. Seperti kita tau semua, bahwa harga properti ditentukan oleh 3 hal: lokasi, lokasi dan lokasi…. dan itu tidak terkecuali harga properti di Inggris. Artinya dengan harga yang sama ada banyak tempat lain di luar kota London yang tidak kalah nyamannya dan tidak kalah menariknya. Disamping itu kami tidak butuh lagi kehidupan yang “razmataz” – hiruk pikuk seperti London, atau Jakarta yang penuh dengan kemacetan lalu-lintas, semua orang terlalu sibuk dengan diri sendiri. Sekarang saatnya memetik hasil kerja keras kami.

Hidup di London terlalu mahal dan itu “out of our league”, diluar jangkauan kemampuan ekonomi kami, jadi harus ada opsi lain selain London. Ada banyak kota lain di luar London yang lebih terjangkau secara ekonomi.

“Pero Bridge” – Jembatan Pero, sebagai “jembatan” antar budaya di Bristol

Berbagai fasilitas bermain untuk semua….

Kami memilih Bristol karena:

Setelah hampir 4 tahun tinggal di Bristol, dan membaca banyak analisa tulisan tentang Bristol yang menyatakan bahwa Bristol selalu termasuk dalam 10 terbaik di UK seperti ditulis oleh:

  1. Management Today – majalah busines terkemuka di Inggris, bahwa Bristol kota No. 2 terbaik di UK untuk tahun 2019
  2. The Independent – Harian terkemuka di Inggris menyatakan bahwa Bristol adalah kota terbaik No. 3 tahun 2018 setelah Edinburgh dan London.
  3. BBC mengatakan bahwa Bristol adalah kota terbaik di UK untuk tahun 2017, mengalahkan London sekalipun.
  4. The Guardian mengatakan memasukkan Bristol sebagai salah satu dari kota terbaiknya untuk tinggal dan bekerja di UK di tahun 2016

Tapi dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang saya sebutkan diatas, saya setuju dengan Keith bahwa sebenarnya Bristol adalah kota terbaik untuk kami, dan alasan kami adalah:

  1. Akses dengan bandara International Heathrow penting untuk saya, karena saya kan masih akan secara rutin pulang ke Indonesia, menengok keluarga yang ditinggal, disamping banyak dengan siapa saya bisa melangsungkan reuni…. seumur saya, reuni itu penting! Jarak dengan Bandara Heathrow bisa dicapai dalam waktu kurang dari 2 jam saja. Sebenarnya ini alasan utama, karena kota besar yg lain seperti Birmingham, Manchester dll, terlalu jauh dari Heathrow.
  2. Saya tetap “gadis kota” yang mencintai kota besar, dan Bristol adalah kota terbesar di kawasan Barat Daya pulau Britania Raya, dan dengan M4 (jalan utama yang menghubungkan antar kota di pulau Britania Raya), Bristol adalah kota terbesar paling dekat di Barat London. Lebih dekat dari kota-kota yang saya sebutkan diatas,
  3. Orang Inggris sangat sensitif dengan istilah City dan Town, yang apa bila di terjemahkan dalam bahasa Indonesia, keduanya punya arti yg sama, yaitu KOTA. Bedanya yang satu lebih besar dan memiliki katedral, Town lebih kecil dari City, dan tidak mempunyai Katedral. Tinggal di City artinya juga menawarkan “culture & entertainment” – budaya dan hiburan yang sangat beragam. Bristol menawarkan semua yang diatas itu lebih banyak dari pada kota-kota lain di selatan Inggris, beberapa waktu yang lalu malah Rod Stewart menggelar concertnya di dekat tempat tinggal kami. Belum lagi kami juga menyukai untuk datang ke pertunjukan drama atau kabaret dan masih banyak pertunjukan kesenian international yang lainnya
  4. Pusat budaya untuk kawasa Inggris Barat. Artinya sebagai seorang yang menikmati hiburan film, Bristol memiliki lebih dari 5 lokasi cineplex, bahkan beberapa adalah dalam jangkauan jalan kaki satu sama lain, jadi saya tidak usah pergi ke London untuk nonton film block buster yang terakhir.
  5. Apabila London memiliki West End, tempat berlangsungnya banyak kegiatan kebudayaan, seperti pentas drama, musical dan konsert musik klasik, Bristol mungkin tidak bisa menyaingi London, tapi bukan berarti artis/aktor terkenal tidak mampir di Bristol untuk tampil. Bristol Old Vic adalah teater tertua di dunia ateater yang berbahasa Inggris yang beroperasi tanpa berhenti sejak pertama kali di bangun tahun 1766.
  6. Tempat perbelanjaan tentunya bukan pertanyaan, karena pada jaman sekarang, pusat perbelanjaan ada dimana-mana dan toko-toko yang menjualnya pun hampir sama semua. Tapi Crib Causeway adalah pusat perbelanjaan terbesar di Barat pulau Britania, dan cuma 20 menit naik mobil dari pusat kota Bristol.
  7. London, di kenal memiliki banyak museum, demikian juga Bristol yang memiliki banyak museum dan perpustakaan, beberapa universitas. Saya pemerhati dan peminat segala sesuatu yang berhubungan dengan senirupa, dan Bristol pun memiliki semua fasilitas itu. Kecuali Tim sepakbola berkelas Premier League, rasanya Bristol memiliki semua yang dimiliki oleh London…. itu apabila standard anda adalah kota metropolitan sekelas London.

Luke Jeram – artis instalasi yang berasal dari Bristol memamerkan karya nya

Jadi anggaplah kami tinggal di Bristol terhadap London mirip seperti kami tinggal di Bandung terhadap Jakarta.

Catatan:

Tulisan ini dibuat sebagai jawaban mengapa saya akhirnya bahagia tinggal di Bristol dan mengapa Bristol layak untuk di kunjungi oleh turis Indonesia, bukan cuma London….

comments 8

Small Party for Indonesia

I was never a big social butterfly, and still not.  As a matter of fact, at parties normally I was the one who sat in a corner and observed. I don’t have any problem of not saying much or not having somebody to talk to.   My brain will work extra hard just to find a topic to talk to somebody who happens to sit next to me at a dinner party or a simple any occassion parties.

However, as I grew older, I gradually changed and move out from my comfort zone. I forced myself to talk to strangers when I started working overses; and now that we’ve moved to UK, totally a new country, new environment, new culture as well as finding new friends. To my surprise, people seem very friendly to each other, either a person  across the till or sitting next to you on the bus, they could talk to you about anything and everything…. something I learned if I want to integrate and be part of beloved husbands lifestyle, and culture.

While working on integration and try to understand the culture,  finding friends is the crucial thing, and my biggest effort of finding friends was hosting a pre-Christmas drinks party for a few close friends in the last two years. However, I soon realised that hosting a Christmas party for 20 people of close friends from Doha time, neighbours and my limited Indonesian friends was not that hard. What I needed was just decorating the house which could be done a couple of weeks before and then organising a few nibles and mince pies plus lots of mulled wine and everybody’s happy.

However, I don’t want to forget my Indonesian roots, and when it comes to hosting an Indonesian party, it was totally different. Indonesian lifestyle works around food, we  cook together decorate our food together and than eat it together, especially on special occasions.   Most of all,  especially with “mobile” photography, selfie and group pictures as well as photographing the food are the most important thing!

“We all dress up in our national costumes, the boys with their Batik dress shirt and the girls with their Kebaya…”.

The boys with their “batik” shirt dress

Last 17th August, which co-insided with  Indonesian Independence Day, I decided to throw a little party at home, a celebration where I invited a few of my Indonesian friends (most of them ladies) for a low key gathering with the excuse of celebrating Independence Day.  However, what concerned me was to cook Indonesian food for them all.  As they have been living in the UK much longer than me, and thus they have got over the missing Indonesian food by mastering cooking the food.  I have to admit I am not a cook, I am only an amateur  just learning how to cook.  Worse of all, I don’t crave for Indonesian food so much, which makes me not appreciating how the food should taste. Thus this party was a real test.

“Nasi Tumpeng” – Coned Yelow Rice, as a symbol of a celebration food with its typical Indonesian dishes

gusting wind tried to blow out the Instagram frame for a profile picture…

To save me the burden of feeding my guests (and off course embarasement of a disaster) we are doing “potluck”, so everyone brings a different dish and we decorate the whole presentation together…. and as it was a national day, we all dressed up in our national costume, the boys wearing their Batik dress shirts and the girls will put on their “kain and kebaya”. 

The party was a success and nobody criticised the food, as we did it all together!   Picture taking sessions were good, but too much wind for the outside photography and the food photography was very colourful and not too bad.  And we all sang Indonesian songs together, to remind us who we are despite we were thousands of miles away from our home country.

The girls with their full colour national dress – “kain & kebaya”